Ameliorasi, Bagian dari Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat

Lahan rawa pasang surut memiliki potensi besar untuk dikembangkan, baik untuk tanaman pangan maupun hortikultura. Luas lahan rawa pasang surut di Indonesia adalah 8,92 juta ha, yang tersebar di Sumatera (3,02 juta ha), Kalimantan (2,99 juta ha), Papua (2,43 juta ha), Sulawesi (0,32 juta ha), Jawa (0,09 juta ha), dan Maluku (0,07 ha). Sebagian besar lahan rawa pasang surut berada di daerah beriklim basah dengan curah hujan lebih dari 2.000 mm/tahun. Menurut Ritung et al. (2015), selain faktor bahan induk, tingginya curah hujan tahunan mengakibatkan tanah di lahan rawa pasang surut bersifat masam dengan pH kurang dari 5,5.

Di lokasi pelaksanaan Riset Pengembangan Teknologi Inovatif (RPIK) Jeruk di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, jeruk ditanam di tukungan/gundukan, baik monokultur maupun tumpangsari dengan padi, karena merupakan lahan rawa pasang surut. Kemasaman tanah yang tinggi menjadi permasalahan dalam pengembangan lahan rawa pasang surut untuk pertanian, termasuk jeruk. Apabila tidak dikelola dengan tepat, tanah masam dapat menyebabkan menghambat pertumbuhan tanaman, menyebabkan produksi buah tidak optimal, mengakibatkan tanaman menjadi rentan terhadap penyakit terutama Diplodia dan Phytophthora, dan menyebabkan umur tanaman menjadi lebih pendek.

Pengelolaan kemasaman tanah dapat dilakukan dengan pemberian bahan pembenah tanah (amelioran). Berbagai studi sebelumnya mengungkapkan bahwa beberapa bahan amelioran yang umum diberikan adalah kapur pertanian, abu janjang sawit, sekam bakar, dan pupuk kandang. Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika telah merakit bahan pembenah tanah yang diberi nama Biojestro. Dengan kandungan mineral alam dan bahan organik, produk ini diharapkan mampu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, yang selanjutnya dapat mendukung pertumbuhan tanaman. (Tyas_Balitjestro)

 

 

Agenda
No event found!