Varietas Lengkeng (Dimocarpus longan Lour.) yang berkembang di Kota Batu

[cml_media_alt id='1228']Sikep[/cml_media_alt]Lengkeng (Dimocarpus longan Lour.) yang berkembang di Indonesia pada mulanya adalah jenis lengkeng yang cocok ditanam di dataran medium hingga tinggi, yang biasa disebut dengan lengkeng lokal. Wilayah yang menjadi sentra produksi lengkeng adalah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Daerah di propinsi Jawa Tengah tersentra di Salatiga, Temanggung dan Semarang. Sedangkan wilayah di propinsi Jawa Timur yang menjadi produsen buah lengkeng tersebar di 3 kabupaten/kota, yaitu : Malang, Blitar dan Batu.

Masyarakat lebih mengenal Kotamadya Batu dengan buah apelnya, bahkan pemerintah Kota Batu juga belum melirik komoditas lengkeng. Hal ini bisa dilihat di tempat-tempat umum atau wisata dimana kita hanya bisa menemukan patung dan halte buah apel, stroberi dan jeruk. Padahal di pekarangan penduduk sangat mudah dijumpai tanaman lengkeng, terutama di kecamatan Junrejo dan Batu.

Secara taksonomi, lengkeng termasuk dalam family sapindaceae, sub family sapindadeae dan genus dimocarpus. Lengkeng memiliki daging buah yang manis, transparan, dan juicy. Buahnya mengandung kadar gula yang tinggi, banyak vitamin dan mineral yang dapat dikonsumsi dalam bentuk buah segar, di dinginkan, kalengan, dikeringkan atau diproses dalam bentuk jus, wine, manisan, es cream dan yoghurt (Menzel and Waite, 2005).

Gambar 1. Varietas Sikep (KL 01), Mutiara (KL 11) dan Mbatu (KL 13)

Indonesia mempunyai banyak sekali plasma nutfah tanaman lengkeng. Pelestarian plasma nutfah lengkeng merupakan tanggung jawab pemerintah. Balitjestro merupakan lembaga penelitian yang bertanggung jawab terhadap komoditas ini, karena lengkeng termasuk tanaman buah subtropika. Sampai dengan saat ini Balitjestro memiliki koleksi sejumlah 32 aksesi yang berasal dari seluruh Indonesia.

Varietas yang berkembang di Kota Batu adalah Sikep, Mutiara dan Mbatu. Dari ketiga varietas tersebut yang paling banyak ditemukan di Kota Batu adalah Mbatu dan Mutiara. Ketiga varietas tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Karakter morfologi dan kimia buahnya adalah sebagai berikut :

[cml_media_alt id='1230']Karakter Buah Lengkeng[/cml_media_alt]

Kota Batu Memasuki Masa Panen Lengkeng

Lengkeng dapat berbunga apabila terinduksi oleh perbedaan suhu yang ekstrim antara siang dan malam, peristiwa ini terjadi pada bulan agustus dan september di Kota Batu. Setelah terinduksi, lengkeng akan berbunga kurang lebih 35-50 hari atau pada bulan Oktober dan Nopember. Buah siap dipanen membutuhkan waktu 4 s/d 5 bulan setelah bunga mekar, ciri-cirinya adalah warna kulit coklat merata, berbau harum dan tekstur kulit halus. Hal ini terjadi pada akhir bulan februari sampai akhir bulan maret. Dibandingkan dengan buah lengkeng impor, lengkeng lokal mempunyai kelebihan yaitu lebih segar, manis dan aman untuk kesehatan karena tanpa pengawet.

Oleh karena itu pada saat ini (Februari – Maret) sangat mudah dijumpai di Kota Batu dan sekitarnya buah lengkeng yang dijual di tepi-tepi jalan. Bagi para wisatawan sekaranglah saatnya menikmati segar dan manisnya lengkeng sambil berjalan-jalan di kota wisata Batu.

 

DAFTAR PUSTAKA

  • IPGRI. 2002. Descriptors for Litchi (Litchi chinensis). Italy
  • Menzel C., and Waite G. K. 2005. Litchi and Longan. CABI Publishing. Australia.

 

Oleh: Buyung Al Fanshuri dan Yenni
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event