UPBS Balitjestro Menjawab Tantangan Perbenihan Jeruk dan Buah Subtropika di Indonesia

 

BenihSumberJerukDiPunten
Gambar. Sebaran batang bawah untuk benih sumber dalam polybag di Kebun Percobaan Punten di dalam screenhouse.

Tantangan yang dihadapi Indonesia khususnya disektor pertanian adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat dan pelaku usaha terhadap standar dan mutu produk, termasuk benih. Memasuki era globalisasi yang menuntut persaingan yang sangat ketat, semakin dirasakan perlunya memperkuat fondasi ekonomi melalui peningkatan efisiensi dan produktivitas. Benih berkualitas menjadi pintu pertama kesuksesan agribisnis hortikultura yang dilakukan.

Benih Jeruk termasuk yang mempunyai aturan sangat ketat mengenai sistem jaminan mutu benih. Hal ini karena hancurnya perjerukan nasional pada tahun 1980-an diakibatkan berbagai persoalan peredaran benih dengan bawaan hama dan penyakitnya. Pada saat itu, berbagai varietas jeruk  punah di daerah seperti Keprok Garut, Keprok Pulung dll dan mengakibatkan produksi nasional turun drastis. Persoalan peredaran benih jeruk masih menjadi masalah sampai sekarang, diperkirakan hanya 30% benih yang berlabel yang beredar di masyarakat.Pada Jum’at (10/10/2014), Tim UPBS berkumpul untuk merumuskan dan mendaftarkan Sistem Manajemen Mutu untuk sertifikasi benih tanaman jeruk dan buah subtropika (apel, lengkeng, stroberi dan anggur). Suhariyono menekankan bahwa Balitjestro menargetkan untuk memperoleh sertifikasi SMM di tahun 2014 ini. Sertifikasi SMM ini diselenggarakan Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu (LSSM) perseorangan, badan usaha, badan hukum atau Instansi pemerintah yang telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) sesuai ruang lingkup di bidang perbenihan hortikultura. Untuk Hortikultura yang ditunjuk adalah Direktorat Perbenihan dan PT Baby.

Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 48/Permentan/Sr.120/8/2012 Tentang Produksi, Sertifikasi dan Pengawasan Peredaran Benih Hortikultura) dimaksudkan sebagai dasar hukum dalam pelayanan pelaksanaan produksi, sertifikasi dan pengawasan peredaran, dengan tujuan untuk: a. melakukan pendaftaran usaha perbenihan hortikultura; b. menjamin ketersediaan benih bermutu secara berkesinambungan; c. menjamin mutu benih yang beredar sampai di tingkat konsumen; dan d. memberikan kepastian usaha bagi para produsen benih.

Jaminan Kepada Konsumen

Dalam rangka mendukung perkembangan perbenihan di Indonesia sesuai dengan kemitraan Pemerintah, secara berangsur-angsur masalah produksi benih akan diserahkan ke pihak swasta. Dengan demikian pada akhirnya Pemerintah hanya berperan dalam pengaturan/perumusan kebijakan, pembinaan, penelitian dan pengawasan.

Salah satu langkah yang diambil adalah memberikan kewenangan kepada produsen benih untuk dapat melakukan pengawasan sendiri terhadap proses produksi benihnya, melalui pemberian sertifikat sertifikasi sistem manajemen mutu oleh Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (LSSMBTPH). Sertifikasi Sistem Manajemen Mutu merupakan salah satu sarana untuk memberikan jaminan mutu bahwa produsen benih yang disertifikasi mampu memasok produk yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

Dengan adanya SMM akan menjamin konsumen jika terjadi sebuah permasalahan, misalnya ada petani yang komplain mengenai kesalahan varietas, maka yang bertanggungjawab adalah produsen benih dan petani bisa menuntut secara hukum. [Zainuri | Balitjestro]

File Permentan 48 tahun 2012 PDF bisa download di sini

 Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 48/Permentan/Sr.120/8/2012 Tentang Produksi, Sertifikasi dan Pengawasan Peredaran Benih Hortikultura

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event