Upaya tingkatkan produksi jeruk Sambas

Pada tahun 2008, luas area jeruk di Kabupaten Sambas  11.328 ha dan walaupun selalu ada penambahan luas tanam setiap tahunnya, pada tahun 2016 luas tanamnya menjadi hanya 7.281 ha. Artinya, selama 8 tahun telah terjadi penurunan 4.047 h.

Hal tersebut disampaikan Kepala Balitjestro Dr. Ir Muhammad Taufiq Ratule, M.Si dalam kegiatan audiensi dengan Bupati Sambas, Kalimantan Barat, 15 – 18 Mei 2018 di BPTP Kalimantan Barat yang dihadiri oleh perwakilan Diperta Propinsi Kalbar, Diperta Kab. Sambas, BI, Departemen Sosial, peneliti lingkup BPTP Kalimantan Barat.

Selanjutnya disampaikan bahwa produksi buah jeruk Siam di kabupaten Sambas sangat berfluktuatif dan cenderung menurun di mana pada tahun 2014 produksinya mencapai 147.105 ton dan pada tahun 2017 anjlok sebesar 37% menjadi hanya 93. 093 ton. Pada tahun 2015 dilaporkan, bahwa luas serangan penyakit CVPD mencapai sekitar 20 % dari luas areal yang ada di kabupaten Sambas dari 26 % pada tahun 2008.

Langkah yang harus dilakukan untuk mengembalikan sekaligus peningkatan produksi jeruk dimulai dari pembibitan jeruk yang sehat. Karena faktor ini sangat menentukan keberlangsungan umur tanaman jeruk bisa panjang dengan produktifitas yang dapat diharapkan.

Kemudian hal ke dua yang juga memerlukan perhatian khusus yaitu kelembagaan petani jeruk yang perlu dibenahi dan ditingkatkan sehingga pemahaman terhadap potret yang ada dan tantangan kedepan bisa dipecahkan bersama-sama, lanjutnya.

Sebagai langkah awal telah dilakukan penanaman baru sebgai percontohan di desa Pusaka dan Matang Lebong telah dibangun masing-masing 1 ha demplot yang ditanami benih jeruk berlabel biru bermutu selanjutnya dikelola dengan Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS).

Sementara itu Bupati Sambas H Atbah Romin Suhaili Lc mengungkapkan bahwa mulai dari dulu Sambas memang penghasil jeruk terbesar dan sudah menjadi kultur. Oleh karena itu dengan kehadiran Badan Litbang pertanian selama ini banyak memberikan manfaat bagi masyarakat dalam mengembangkan jeruk.

Program harus dipersiapkan dengan benar dan terkordinir minimal 1 tahun sebelum kegiatan dilakukan. Sarana dan prasarana dalam menghasilkan benih jeruk sehat harus sudah dipersiapkan, jadi tidak ada lagi kejadian benih liar tanpa label dan pertumbuhan yang tidak standart.

Keterlibatan kelompok tani penangkar harus dibekali mulai dari awal, karena program juga bertujuan jangka panjang tidak sekedar membuat benih yang banyak yang hanya mengincar target.

Ke depan dukungan Balitjestro masih tetap diharapkan sehingga apa yang menjadi cita-cita masyarakat Sambas bisa dijalankan secara benar sesuai SOP. Oleh karena itu pengembangan teknologi deteksi cepat CVPD yang pernah dilakukan tim peneliti pada tahun 2018 diharapkan mengawal persiapan perbenihan ke depan dan mendeteksi keberadaan CVPD pada tanaman produksi.  (af/otto)

Agenda
Tanggal Kegiatan
Rabu, 16 Oktober 2019 Kunjungan Industri – SMKN 1 Gondang Nganjuk
Rabu, 16 Oktober 2019 Studi Banding oleh Diperta Kab. Tulungagung
Jumat, 15 November 2019 SMA IT Al- Hikmah