Teknologi Perbaikan Produktivitas dan Mutu Buah Jeruk untuk Menghadang Jeruk Impor

[cml_media_alt id='1400']Buah Jeruk - Keprok Tejakula-001[/cml_media_alt]

Impor jeruk terus membanjiri pasar Indonesia dan menembus angka 1,7 triliun rupiah. Pertumbuhan yang luar biasa ini mengindikasikan, bahwa produsen jeruk nasional belum mampu memenuhi permintaan konsumen menengah ke atas yang terus meningkat daya belinya, dan menghendaki buah jeruk berkualitas prima.  Di sisi lain, perkembangan areal baru berjalan  lambat khususnya untuk jeruk keprok warna kuning-orange untuk substitusi impor dan kemunduran beberapa sentra produksi utama jeruk, mengakibatkan perkembangan agribisnis jeruk di Indonesia menjadi stagnan.

Karena belum optimalnya fungsi sistem diseminasi dan alih teknologi inovatif hasil penelitian kepada pihak petani atau pengguna lainnya, sebagian besar sentra produksi agribisnis jeruk utama di Indonesia belum sepenuhnya menfaatkan inovasi teknologi spesifik lokasi yang telah dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian.

Akibatnya, selain produktivitasnya berfluktuasi, mutu buah yang belum memenuhi permintaan pasar, keberlanjutan  pengembangan agribisnis jeruk sering terancam oleh adanya serangan penyakit CVPD, Phythopthora sp, dan Diplodia, sebagai akibat pengelolaan kebun yang tidak optimal. Kondisi ini diperparah dengan lemahnya kelembagaan petani dalam meningkatkan posisi tawar petani dan penangan masalah yang menuntut kebersamaan dan kekompakan petani. 

Mutu buah jeruk yang belum bisa memenuhi permintaan konsumen menengah-atas disebabkan oleh (1). Ukuran buah yang relatif tidak seragam, (2). Warna kuning kulit buah jeruk yang sering tidak merata, (3). Kulit buah tidak mulus bekas serangan hama penyakit burik kusam, dan (4) rasa terutama manis yang tidak konsisten. Upaya peningkatan mutu buah jeruk keprok dan daya saingnya terutama terhadap buah jeruk impor yang terus membanjiri pasar potensial Indonesia, harus lebih diintensifkan demi keberhasilan program substitusi buah jeruk impor dalam persaingan perdagangan yang semakin ketat

Mutu buah jeruk sangat dipengaruhi oleh keseragaman ukuran buah, warna buah yang merata, mulus tidak ada bekas serangan hama dan penyakit penyebab burik kusam, dan rasa buah terutama manis yang  konsisten.

Ukuran buah yang seragam bisa diperoleh melalui penjarangan buah pada stadia yang tepat dan grading;  warna kuning-orange yang merata bersifat hormonal, kulit mulus bisa diperoleh dengan mengendalikan penyebab burik kusam yang ramah lingkungan, dan rasa manis yang konsisten sebagai akibat pupuk yang diaplikasikan berimbang dan sesuai stadia pertumbuhan tanaman.

Dengan diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan mutu buah, maka  komponen teknologi  mengatasi masalah mutu buah dapat disusun, utnuk selanjutnya, diformulasikan menjadi paket teknologi peningkatan mutu buah jeruk keprok yang berdaya saing tinggi.

Jeruk yang dirawat dengan baik di luar screen (kiri) dan jeruk di dalam screen (kanan) mampu bersaing dengan jeruk impor. Kulit mulus, bersih dan bebas dari burik kusam.

Mutu buah jeruk diekspresikan oleh penampilan dan cita rasanya.   Penampilan buah menarik jika ukurannya seragam, warna kuning-oranye yang cerah  dan merata, mulus bebas cacat fisik atau bekas serangan hama penyakit, serta cita rasanya enak dan bagi konsumen Indonesia, terutama rasa manis yang konsisten. Ukuran buah yang seragam sesuai permintaan pasar bisa diperoleh dengan penjarangan buah dan “grading”.

Penyemprotan menggunakan hormon tumbuh dengan konsentrasi dan stadia pertumbuhan yang tepat bisa menjadikan kulit buah jeruk berwarna kuning-oranye merata bebas dari spot spot kehijauan. Jika penyakit burik kusam yang mengakibatkan kulit buah jeruk keprok terkesan kotor dan tidak menarik bisa dikendalikan, maka buah yang dihasilkan mulus.  Penambahan unsur Mg, P, dan K sesuai dengan dosis pupuk yang telah ditentukan akan meningkatkan rasa manis buah.

Penelitian tentang pemahaman terhadap faktor-faktor penyebab munculnya warna kuning-oranye pada kulit buah jeruk keprok baik hormonal maupun sistesis senyawa karotenoidnya bisa digunakan sebagai acuan tindakan agronomis penentuan macam, kensentrasi, dan saat penyemprotan hormon tumbuh guna mendapatkan warna kulit buah yang dikehendaki, cerah dan merata. Pengendalian penyebab  burik kusam yang ramah lingkungan diharapkan dapat menjadikan buah yang dihasilkan selain mulus juga aman dikonsumsi. Penambahan unsur hara untuk meningkatkan rasa manis buah jeruk  yang terus diformulasikan diharapkan dapat menghasilkan teknologi pemupukan yang menjadikan cita rasa buah enak dan konsisten manis.

Berdasarkan hasil sementara penelitian tahun sebelumnya, buah jeruk keprok SoE muda, masak fisiologis, dan matang mempunyai kandungan hormon etilen yang berbeda, makin tua tingkat kemasakan buah, makin tinggi kadar hormon etilennya baik yang telah disimpan 1 maupun 3 hari. Perubahan tersebut maupun peningkatan kadarnya pada tingkat kematangan buah yang berbeda mengindikasikan, bahwa selama proses pemasakan buah dari yang berwarna hijau-masak fisiologis hingga buah matang berwarna oranye terjadi peningkatan kadar hormon etilen. Peningkatan kadar hormon pada hari 3  pada buah muda, masak fisiologis, dan masak berturut-turut adalah 23, 11, 5 kali. Peningkatan kadar etilen diikuti oleh peningkatan kadar karotenoid di dalam kulit buah yang menguning (Supriyanto et al., 2012).

[cml_media_alt id='1401']Di daerah sub optimal pun jeruk bisa tumbuh dengan baik (Jeruk Tuban)[/cml_media_alt]
Di daerah sub optimal pun jeruk bisa tumbuh dengan baik (Jeruk Tuban)
Hasil penelitian peningkatan rasa manis buah jeruk sementara tahun sebelumnya, menunjukkan, bahwa pemupukan kombinasi K dengan pupuk Mg dengan perbandingan 2:1, 1:1 dan 1:2 dapat meningkatkan tingkat kemanisan buah jeruk keprok Batu 55 hingga 9,60 briks, sedangkan kontrol tanpa penambahan Mg hanya 7,80 briks (Supriyanto et al. . 2012).

Pemberi warna pada  kulit buah jeruk terdapat pada lapisan eksokarp atau flavedo yang terdiri dari lapisan epidermal, stomata, lapisan lilin epikutikular di mana terdapat sel kloroplas yang bila terjadi perubahan warna,  kloroplas akan berubah menjadi kromoplas. Di dalam kromoplas itu sendiri terjadi sintesis dari karotenoid yang merupakan salah satu metabolit sekunder dan berfungsi juga sebagai pigmen perubahan warna. Karotenoid adalah sintesis terpenoid dalam bentuk karoten dan xantofil ( Bramley, 1997) yang salah satu fugsinya adalah pemberi karakter warna kuning, oranye, merah dari kebanyakan bunga dan buah.  Pembentukan karotenoid dapat dibantu dengan penggunaan hormon etilen.  Perlakuan menggunakan etilen meningkatkan aktifitas chlorophyllase pada kulit buah dan mereduksi jumlah dan ukuran kloroplas dengan menghancurkan klorofil  dan mempercepat terjadinya perubahan warna dengan meningkatkan sintesis dari karotenoid yang bekerja optimal pada temperatur 15-20?C (Ladaniya MS ,2008). 

Kulit buah jeruk merupakan salah satu sumber karetonoid yang melimpah dengan jumlah lebih dari seratus mikrogram per gram jaringan dan lebih dari 100 derivat karotenoid yang dapat teridentifikasi (Bramley et al, 1993: Stewart dan Wheaton, 1973). Kadar dari karotenoid  pada tiap spesises jeruk sangat bervariasi dan juga tergantung pada kondisi pertumbuhan dan lingkungan (Gross, 1987). Pada tanaman jeruk  keprok dan manis, epoxy dan hydroxylated merupakan komponen utama karotenoid yang memberikan warna oranye  80% dari total karotenoid.  Selain dari karotenoid yang umum, ada beberapa karotenoid seperti  ?-citaurin, ?-citarurinene dan ?-apo-8’-carotenal yang terdapat melimpah dalam kulit buah jeruk dan memberikan warna oranye kemerah-merahan pada beberapa jenis  jeruk (Gross, 1987). 

Penampilan kulit buah jeruk yang kurang menarik akibat serangan patogen burik kusam kulit  dapat menurunkan kualitas buah saat dipasarkan.  Gejala burik kusam didefinisikan sebagai buah yang kulitnya berubah warna sebagian atau semua menjadi coklat, timbul bintil atau tidak, menjadi lebih kasar dari buah normal dan menghambat pertumbuhan buah, biasanya gejala burik menjadi permanen sampai buah tua. Penyakit burik kusam disebabkan oleh beberapa OPT yaitu Kudis (Spaceloma fawcetti jenkins), Embun Jelaga (Capnodium citri), Embun tepung (Oidium tingitanium Carter) Kanker Jeruk (Xanthomonas axonopodis pv. citri), Tungau karat jeruk (Phylocoptruta oleivera Ashmed), Tungau Merah (Panonychus citri McGregor), dan Thrips (Scirtortrips citri). 

[cml_media_alt id='1404']Buah Jeruk (5)[/cml_media_alt]

Selain dengan menggunakan pestisida kimia, buri kusam juga bisa dikendalikan dengan larutan ekstrak biji mimba, suspensi Tricoderma harsianum, dan Gliocladium  bahkan kutu sisik juga bisa dikendalikan dengan predator Halmus chalybeus (Wuryanti dan Endarto, 2010) 

Mutu buah jeruk, selain ditentukan secara genetis juga banyak dipengaruhi oleh nutrisi yang diambil dari tanah (Sutopo, 2009). Oleh karena itu pemupukan yang efektif mengikuti konsep “Empat Tepat”, yaitu tepat macam, takaran, waktu dan cara pemberian(Sutedjo, 2008).Paling sedikit ada 12 macam unsur yang dibutuhkan tanaman,  pertama adalah unsur makro primer N, P, danK.  Kedua adalah unsur makro sekunder yaitu Ca, Mg, dan S.  Ketiga adalah unsur mikro yaitu unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit tetapi bila kekurangan akan mempengaruhi produksi dan kelangsungan hidup tanaman, antara lain unsur Fe, Zn, Mn, B dan Mo.  

Unsur hara  yang menentkemanisan rasa buah yakni P,  Mg, dan K. Kedua macam gula dalam buah (monosakarida dan polysakarida) berasal dari fotosintesis berupa pati yang mengalami reaksi enzimatis.

Hasil penelitian tahun sebelumnya (Supriyanto et al. 2012) menunjukkan, bahwa kadar karotenoid buah masak lebih besar dibandingkan dengan yang dimiliki buah jeruk masak fisiologis apalagi buah belum masak.  Kadar karetonoid dipengaruhi oleh kadar hormon etilen. Hormon auxin, sitokinin, dan giberelin merupan hormon pertumbuhan yang menurun kadarnya saat buaqh menjelang masak. Pemupukan Mg/K (2:1) terbukti memerikan rasa lebih manis pada buah jeruk keprok Batu 55.  Pengendalian penyakit burik kusam dapat dilakukan dengan mengombinasikan penggunakan insektisida pada awal pembungaan dhingga pertumbuhan awal buah dan kemudian disemprot dengan cairan mimba.  Pengunaan pestisida generik bubur California juga disarankan.

 

Oleh: Arry Supriyanto
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Tinggalkan Balasan