Teknologi Kultur Jaringan Memungkinkan Penyediaan Benih Bebas Penyakit Secara Massal

[cml_media_alt id='1548']Bioreaktor Benih Stroberi[/cml_media_alt]

Agribisnis hortikultura berawal dari perbenihan. Ketersediaan benih bermutu sangat strategis karena merupakan kunci utama untuk mencapai keberhasilan pembangunan kawasan hortikultura di Indonesia yang menuntut dukungan industri benih yang tangguh dalam menyediakan buah untuk kebutuhan dalam negeri dan bersaing di pasaran internasional.

Produksi dan mutu produk hortikultura sangat ditentukan oleh kualitas benih yang digunakan  yaitu benih yang mampu mengekspresikan sifat-sifat unggul dari varietas yang diwakilinya. Salah satu tujuan pembangunan di bidang perbenihan hortikultura bertujuan untuk mempersiapkan tersedianya benih bermutu dari varietas unggul secara lestari dan berkesinambungan. Penyediaan benih bermutu dari varietas unggul yang dibutuhkan petani harus sesuai dengan 7 kriteria tepat (jenis, varietas, mutu, jumlah, waktu, lokasi, dan harga).

Penyediaan benih buah subtropika bebas penyakit secara massal menjadi tantangan untuk meningkatkan ketersediaan benih di kawasan produksi. Ketersediaan benih bermutu dan dekat dengan kawasan produksi menjamin keberhasilan swasembada dan keberlanjutan produksi buah subtropika.

Perkembangan teknologi kultur jaringan memungkinkan penyediaan benih bebas penyakit secara massal, cepat dan bebas dari pengaruh georafis, iklim dan serangan organisme pengganggu. Ketersediaan teknologi produksi benih secara in vitro baik menggunakan media padat dan/atau media cair memungkinkan produksi massal benih berkualitas tanaman hortikultura dapat dilakukan secara efisien. Aplikasi sistem budidaya organ pada media cair memungkinkan penyediaan benih buah subtropika dapat dilakukan secara cepat, massal, murah dan bebas penyakit.

Untuk menyediakan benih buah subtropika bebas penyakit ini serangkaian kegiatan laboratorium, nurseri dan lapang dilakukan. Kultur meristem-tip tunas muda dengan ukuran 0.1-0.3 mm untuk mendapatkan plantlet bebas patogen. Meristem tip ditumbuhkan pada media dan lingkungan yang mengendalikan aktivasi fenol dan kontaminasi lainnya. Kombinasi nutrisi, pengatur tumbuh dan sumber karbon serta lingkungan diatur optimum pada media padat untuk mendapatkan laju tumbuh yang optimal. Plantlet yang dihasilkan dari meristem tip diperbanyak dengan kombinasi metode thin cross section  (TCS) dan subkultur untuk mendapatkan plantlet generasi V1-V5/V6 untuk apel, anggur, lengkeng dan stroberi.

Setiap generasi vegetatif plantlet diaklimatisasi untuk mendapatkan populasi di nurseri dan lapang. Inokulasi bakteri/jamur pada akar saat aklimatisasi merupakan pilihan yang tepat karena memungkinkan proses interaksi tanaman dan mikroba terjadi pada fase dini pembibitan. Proses infeksi dapat dilakukan secara massal dan tanaman telah mendapatkan keuntungan dari mikroba pada saat dipindahkan ke lapang. Akibatnya adalah proses imunitas alami yang diciptakan oleh interaksi metabolik antara mikroba dan tanaman. Plantlet ditanam dan dipelihara pada media tumbuh dan kondisi dengan menerapkan prinsip ramah lingkungan dan keamanan konsumsi.

 

Oleh : Arry Supriyanto dan Tim Stroberi
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Tinggalkan Balasan