Teknologi Bioreaktor: Daya Tarik Pengunjung Display Laboratorium BITE 2016

DSC_0524

Di Indonesia, teknologi bioreaktor bukanlah teknologi baru. Teknologi ini telah dimanfaatkan sejak pertengahan abad ke-19, terutama oleh praktisi di bidang mikrobiologi baik untuk memproduksi metabolit sekunder maupun untuk mengolah limbah. Pada akhir abad ke-19, teknologi bioreaktor mulai digunakan untuk produksi massal tanaman dan metabolit sekunder yang dihasilkan oleh tanaman.

Tentu saja, jenis bioreaktor yang digunakan dalam bidang mikrobiologi berbeda dengan bioreaktor yang digunakan untuk tanaman. Pada tahun 2009, Balitjestro mulai mengadopsi teknologi bioreaktor untuk memproduksi benih dan metabolit sekunder.

Pada rangkaian acara Balitjestro Innovation Technology Expo (BITE) 2016, teknologi bioreaktor merupakan salah satu teknologi yang dipamerkan di stand display laboratorium. Selain bioreaktor, display laboratorium juga mendisplay teknologi perbanyakan tanaman dengan cara Thin Cell Layer (TCL).

DSC_0523Selain itu dipamerkan pula teknologi eliminasi penyakit melalui Shoot Tip Grafting (STG) untuk tanaman jeruk dan kultur meristem untuk tanaman stroberi, apel dan anggur, teknologi fusi protoplasma sebagai salah satu metode untuk menghasilkan tanaman jeruk seedless, pemanfaatan mikroba endofitik untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman dan penanggulangan penyakit, berbagai metode deteksi penyakit pada tanaman jeruk dan buah subtropika  serta berbagai produk hayati untuk penanggulangan hama dan penyakit seperti latricid, trichocid, gliocid dan taracid.

Dari berbagai teknologi dan produk yang dipamerkan di display laboratorium, teknologi bioreaktor merupakan salah satu daya tarik pengunjung. Pemanfaatan bioreaktor untuk produksi benih dan metabolit sekunder menarik minat salah seorang professor bidang mikrobiologi dari Taiwan dan direktur riset PT. Great Giant Pineapple, Lampung.

Menurut salah seorang peneliti Balai Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT), Serpong, pemanfaatan bioreaktor jenis airlift dirasa lebih simple, efektif dan efisien untuk mikropropagasi tanaman dibandingkan jenis RITA(R).  Teknologi bioreaktor ini juga mengundang antusiasme siswa-siswi SMKN 01 Malang. [farida]

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event