Tantangan Pengembangan Stroberi Balitbangtan di Bedugul Bali

AhmadSyahrianSiregar

Stolon stroberi dari kultur jaringan, 1 tanaman mampu menghasilkan 3-6 stolon
Stolon stroberi dari kultur jaringan, 1 tanaman mampu menghasilkan 3-6 stolon
Nyoman Mara, pegiat stroberi yang tertarik untuk menerapkan inovasi teknologi
Nyoman Mara, pegiat stroberi yang tertarik untuk menerapkan inovasi teknologi

Nyoman Mara mempunyai luas lahan 2 hektar dengan sistem sewa. Ia menanam stroberi di lahan terbuka dengan sistem bedengan. Sistem ini memang lebih murah di modal awal namun memerlukan biaya ekstra untuk pemeliharaan. Harga paket yang ditawarkannya pun murah, yaitu Rp 10.000,-/orang untuk tiket masuk dan per kg dihargai Rp 25.000,-. Namun mulai Januari 2015 ia menaikkan tarif paket menjadi Rp 20.000,- dengan mendapatkan fasilitas jus stroberi dan buah yang dipetik pengunjung dihargai Rp 30.000,-/kg.

Acara petik stroberi ini digemari oleh remaja dan anak-anak. Untuk masa liburan seperti Galungan kemarin setidaknya ada 150 pengunjung yang datang. Akhir pekan pengunjung juga banyak yang datang. Pada musim penghujan ini, buah stroberi mengalami penurunan yang signifikan, bahkan sampai 70% dari puncak panennya di musim kemarau. Kondisi ini wajar karena buah banyak yang rusak oleh hujan dan energi tumbuhan lebih banyak digunakan untuk pertumbuhan vegetatif. Untuk menyelamatkan bunga, petani setempat menggunakan penutup plastik dengan rangka bambu.

Lahan petik stroberi Nyoman Mara. Konsep yang digunakan adalah petik di alam terbuka
Lahan petik stroberi Nyoman Mara. Konsep yang digunakan adalah petik di alam terbuka
Saung untuk berteduh setelah puas melakukan petik stroberi.
Saung untuk berteduh setelah puas melakukan petik stroberi.

Resiko untuk petik stroberi ini adalah banyaknya kerusakan tanaman akibat kesalahan petik seperti tanaman yang tercabut atau justru bunga dan buah yang masih muda ikut terpetik. Panduan pemetikan yang benar perlu disosialisasikan dalam bentuk tulisan yang mudah dibaca. Bagi Nyoman Mara, wisata petik stroberi miliknya yang bernama “Agro Mandiri” masih bisa terus dikembangkan.  Konsep memetik di alam terbuka tetap ingin dipertahankan. Dan tentunya benih stroberi yang berkualitas menjadi solusi permasalahan yang saat ini mereka hadapi.

Di tempat lainnya, Gede Adi Mustika yang mempunyai “Wiwanda Agrow”, lokasi petik stroberi yang diambil dari nama anak-anaknya ini telah menggunakan benih stroberi V2 varietas Rosa Linda. Penampilannya bagus, tidak kalah dengan benih konvensional lainnya. Daunnya lebar, dan stolonnya banyak. Dalam 1 tanaman mampu menghasilkan 3-6 stolon. Dengan stolon yang banyak, buah yang dihasilkan tidak terlalu besar.

Gede Adi Mustika menerangkan berbagai jenis stroberi yang ditanam untuk wisata petik stroberi
Gede Adi Mustika menerangkan berbagai jenis stroberi yang ditanam untuk wisata petik stroberi

Salah satu kendala yang muncul adalah kebutuhan screen yang dibutuhkan untuk perbenihan stroberi ini tidak terpenuhi. Di sisi lain, petani menganggap tanaman stroberi V0 seperti benih umumnya. Padahal jika dipaksa untuk dibuahkan dan ditanam di lapang, tentunya produktifitas tidak akan maksimal. Pemahaman yang benar mengenai perbenihan stroberi dari kultur jaringan perlu menjadi syarat utama keberhasilan program ini.

Pengamatan yang dilakukan oleh tim stroberi selama ini menemukan bahwa benih stroberi hasil dari kultur jaringan lebih tahan terhadap kekeringan karena akarnya yang lebih banyak dan menghujam ke dalam tanah. Serangan hama maupun penyakit juga lebih kecil dibandingkan tanaman stroberi lokal. Tentunya dengan semakin minimnya penggunaan pestisida, konsumen stroberi lebih aman untuk mengkonsumsi buah secara langsung. (z.hanif/balitjestro)

 

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event