Tantangan Industri Perbenihan Jeruk dari Dalam dan Luar Negeri

Contoh benih Jeruk yang sesuai standarPengembangan agribisnis jeruk di Indonesia belum didukung sepenuhnya oleh inovasi teknologi hasil penelitian-pengkajian. Industri perbenihan jeruk ternyata belum mampu mendukung agribisnis jeruk nasional sehingga produk yang dihasilkan selain berdaya saing rendah, juga tidak ada jaminan keberlanjutannya.

Salah satu penyebab utamanya adalah ketersediaan benih berlabel biru bermutu yang selalu tidak mencukupi kebutuhan untuk pengembangan areal baru. Penggunaan benih liar yang leluasa beredar di pasar menjadi pilihan petani yang belum paham resikonya selain harganya biasanya sangat murah.  Variasi kinerja  dalam pengelolaan BF dan BPMT yang difungsikan sebagai generator kunci kesuksesan produksi benih jeruk di Indonesia juga  dirasakan.

Kinerja sistem produksi dan distribusi benih jeruk nasional belum optimal dan adanya kebijakan perbenihan ditingkat provinsi semakin menambah kerumitan sehingga  koordinasi dan sinergisme antara pusat dan daerah menjadi sulit dilakukan. Akibatnya, proses produksi benih jeruk menjadi tidak efisien sehingga tidak mampu mencukupi kebutuhan petani baik dalam hal jumlah maupun waktu tanam yang ideal.

Gambar. Contoh kondisi benih yang ada di penangkar dan tidak layak untuk ditanam. Okulasi yang benar dilkukan dengan memangkas duri dan daun semai batang bawah pada ketinggian ± 25 cm. Dengan tinggi okulasi kurang dari  25 cm, pertumbuhan tidak optimal dan rawan mati di lapang. Benih yang tidak layak seperti inilah yang banyak beredar di lapang. Benih jeruk siap salur kriteria sebagai berikut: (1) Umur 4 – 5 bulan sejak okulasi, (2) Sudah memiliki dua tahap pertunasan dan (3) Tinggi tanaman minimal 60 cm dari okulasi.

Langkah penataan ulang, perbaikan teknologi produksi dan distribusi benih, koordinasi dan sinergisme pelaku perbenihan antar pusat-daerah-yang didukung oleh regulasi dan kebijakan perbenihan jeruk perlu segera dirumuskan dan diimplemtasikan menuju terwujudnya industri benih jeruk yang tangguh dan mampu mendukung pengembangan agribisnis jeruk berdaya saing tinggi dan berkelanjutan.

Dalam rangka menyongsong berlakunya masyarakat ekonomi ASEAN (AEC) pada 2015, pemerintah menerbitkan aturan baru daftar negatif investasi (DNI). Peraturan ini tertuang pada Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2014 yang ditanda tangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 23 April 2014. Pemerintah memberi batasan maksimal kepemilikan modal asing agar mayoritas saham milik warga Indonesia. Batasan modal asing maksimal 30% juga berlaku untuk Budidaya Hortikultura jenis Buah Semusim; Anggur; Jeruk; Buah Tropis; Apel dan Buah Batu; Buah Beri; Sayuran Daun (kubis, sawi, bawang daun, seledri); Sayuran Umbi (bawang merah, bawang putih, kentang, wortel); Sayuran Buah (tomat, mentimun); Cabe, paprika; Jamur; Tanaman Hias; dan Tanaman Hias Non Bunga. Dengan mulai diberlakukannya berbagai perjanjian perdagangan bebas di sektor pertanian, khususnya perbenihan jeruk, maka kita harus lekas berbenah menyelesaikan permasalahan yang selama ini menghambat majunya perkembangan industri benih jeruk nasional. [zh]

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event