Tangkal Harga Anjlog Panen Raya Jeruk, Bujangseta Solusinya

 

Tiada seorangpun petani jeruk di Kabupaten Banyuwangi bagian selatan yang tidak meratap sedih ketika sekitar bulan Juli lalu harga buah jeruk di tingkat petani anjlog hingga Rp.2000,- per kg; padahal harga impas dengan harga saprodi yang melambung terus, menurut seorang petani bisa mencapai sekitar Rp.4000,- per kg buah.

Seolah tidak bisa dihindari, derita tahunan ini datang lagi yang disikapi pasrah tak berdaya oleh para petani jeruk jeruk yang ada di Indonesia yang periode panennya relatif sama yaitu pada bulan Mei, Juni dan Juli tergantung iklim pada saat itu.

Bujangseta, teknologi produksi buah jeruk berjenjang sepanjang tahun merangkum managemen kanopi, nutrisi dan pengendalian hama penyakit. Pada bulan juli 2017 telah dibangun demplot Bujangseta seluas ± 10 ha yang meliputi 19 kebun petani di desa Plampangrejo kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi, dan kini telah menunjukkan performa yang sangat menggembirakan.

Di demplot Bujangseta tersebut. sebagian besar pohon jeruk yang ada telah memiliki 5-7 jenjang pembungaan dan pembuahan (bunga – buah siap dipanen) yang menjadikan buah jeruknya dapat dipanen 5 kali dalam setahun.

Jumlah buah per tahun dari pohon yang menerima aplikasi teknologi Bujangseta bisa mencapai 2,6 kalinya dibandingkan yang dikelola dengan teknologi petani dan petani telah 2-3 kali panen buah jeruknya hasil Bujangseta.

Bujangseta menurut petani selain mudah diaplikasikan juga terbukti meningkatkan kesehatan pohon dan yang penting adalah petani sudah tidak memerlukan lagi cool storage untuk menyimpan limpahan panen jeruknya.

Bujangsetanisasi kawasan agribisnis jeruk di Kabupaten Banyuwangi telah diinisiasi dengan membangun lagi demplot dengan luasan 1,0-1,5 ha di empat kecamatan penghasil utama jeruk Siam lainnya, yaitu di kecamatan Bangorejo, Purwoharjo, Tegaldlimo dan Gambiran. Guna mengakselerasi adopsi dan difusi teknologi Bujangseta pada tanggal 13 September 2018 telah digelar pelatihan Bujangseta Jeruk yang diikuti oleh sekitar lebih dari 70 petani jeruk dari 5 kecamatan tersebut di atas dengan metode dari petani untuk petani. Lokasi pelatihannya sendiri di demplot Bujangseta yang telah menunjukkan performa bagus sekali.

Setelah mendapatkan pembekalan tentang Bujangseta, peserta langsung praktek di kebun Bujangseta milik petani terpilih sehingga praktek teknologi Bujangseta maupun sharing informasi antar peserta bisa berlangsung lebih akrab.

Kini dengan harga buah jeruk mulai naik menjadi Rp.7000 per kg (ketersediaan buah sedikit), petani sudah mulai tersenyum lagi; senyumnya semakin mengembang dan semangatnyapun bertambah menggelora karena setiap peserta pelatihan meyakini teknologi Bujangseta menjadi jabawan jitu masalah tahunan anjognya harga buah pada saat panen raya.
Penyusun : arry supriyanto balitjestro