Tahun 2014 Pertama Kalinya TTS Mampu Menghasilkan Benih Jeruk Keprok SoE Berlabel Biru Dalam Polybag

KawalanPKAHdiSoETTSNTT

Arry Supriyanto di Balitjestro (08/10/2014) menyatakan bahwa perkembangan PKAH (Pendampingan Kawasan Agribisnis Hortikultura) di Timor Tengah Selatan NTT selama beberapa tahun ini mulai menampakkan hasil yang menggembirakan. Sebenarnya tahun 2013 adalah target dimana penangkar mampu membuat benih berlabel biru. Namun, karena ada keterlambatan dalam pengelolaan BPMT maka benih tidak bisa dilabel oleh BPSB NTT, apalagi ketika diambil sampling tanaman jeruk untuk BPMTnya ada yang terkena CVPD. Target itu baru bisa dicapai di tahun 2014 ini.

Ketidakberhasilan pengembangan sentra produksi jeruk keprok SoE selama satu dekade yang lalu selain disebabkan oleh sulitnya memperoleh benih yang bermutu juga pemeliharaan pohon paska tanam yang tidak optimal.  Dalam pengembangan kawasan agribisnis jeruk  di kabupaten SoE yang telah dimulai pada tahun 2010 menuntut dukungan penangkar benih tangguh yang mampu menghasilkan benih jeruk berlabel biru bermutu prima.

Lebih lanjut, berdasarkan pengamatan Arry Supriyanto, masalah teknis yang menyebabkan benih yang dihasilkan penangkar benih di kabupaten TTS tidak memuaskan adalah (1). Semaian batang bawah yang digunakan berukuran besar berumur lebih dari dua tahun,  (2). Perakaran benih tidak lebat, (3). Tinggi tempel rendah sekitar 10 cm dari pangkal batang semaian batang bawah, (4). Hanya sebagian penangkar yang menggunakan mata tempel yang berasal dari Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) yang dikelola dengan baik, dan (5) pemeliharaan tanaman selama proses produksi benih tidak optimal. Selain, itu regulasi produksi benih berlabel biru belum sepenuhnya diimplementasikan secara benar.

Untuk mengatasi berbagai masalah tersebut, tim PKAH Balitjestro bekerja sama dengan BPTP NTT dan DInas Pertanian Propinsi dan DInas Pertanian Kabupaten setempat telah mengadakan berbagai pelatihan dan pendampingan secara berkala. Koordinasi antar institusi pun ditingkatkan terutama dalam mencapai output akhir yaitu benih yang berlabel biru yaitu BPSB Propinsi NTT. Maksi petugas BPSB setempat menjadi eksekutor dalam menjaga kualitas mutu benih jeruk Keprok SoE yang dihasilkan penangkar.

Berdasarkan survei, alasan penangkar benih jeruk keprok SoE di kabupaten TTS-NTT mulai menyukai dan beralih ke teknologi produksi benih jeruk dalam polibag adalah sebagai berikut : (1). Proses produksi lebih mudah dan cepat, yaitu hanya 13-16 bulan dari saat persemaian benih batang bawah dibandingkan jika diproduksi  di bedengan yang membutuhkan waktu 24-30 bulan;  (2). Jumlah kematian semaian dalam persemaian, semaian dalam polibag dan benih okulasi lebih sedikit;  (3). Sistem perakaran benih jeruk dalam polibag lebih lebat; (4). Keuntungan lebih besar walaupun biaya produksi lebih mahal; dan (5). Diharapkan jumlah tanaman mati pasca tanam lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena mutu benih yang lebih baik.

Menurut perhitungan empat Kelompok Penangkar benih jeruk di TTS diformulasikan bahwa biaya produksi  benih untuk tahun – tahun sebelumnya adalah Rp 4.000-5.000,- per benih(24-30 bulan);  sedangkan biaya produksi benih jeruk berlabel biru dalam polibag sekitar Rp10.000-Rp 13.000,- per benih (13-16 bulan).

[Arry | Balitjestro]

 

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event