Tag: apel

Budidaya Apel

Budidaya Apel

Apel, Slide
Meskipun bukan asli tanaman dari Indonesia, apel termasuk salah satu jenis buah yang populer disamping jeruk dan mangga. Sebagai buah segar, apel banyak disajikan dalam pesta, buah penyerta kunjungan orang sakit maupun sesaji upacara agama di Bali. Selain dikonsumsi dalam bentuk buah segar, kelezatan apel bisa dinikmati dalam bentuk minuman maupun dodol yang banyak dijajakan di Kota Wisata Batu. Berdasarkan penelitian, apel bisa mengurangi resiko kanker usus besar, kanker prostat dan paru-paru. Serat apel juga mencegah penyakit jantung serta mengontrol berat badan dan kadar kolesterol  dengan cara seratnya mencegah reabsorpsi. Selain Malang Raya (Jawa Timur), beberapa daerah di Indonesia Timur (NTT, Bali, dan Papua) memiliki lahan yang potensial untuk pengembangan tanaman apel. N
Pewilayahan Tanaman Apel di Jawa Timur

Pewilayahan Tanaman Apel di Jawa Timur

Apel, Artikel
Untuk mempelajari kebutuhan optimal tanaman apel dan pengembangan tanaman apel dilakukan kegiatan karakterisasi lahan dan iklim di sentra produksi Jawa Timur dan dioverlapingkan daerah lain di Indonesia dengan menggunakan pendekatan studi pustaka dan survei di Batu, Poncokusumo- Malang, Nongkojajar Pasuruan. Berdasarkan hasil karakterisai kesesuaian lahan dan iklim menunjukan bahwa ketinggian tempat (elevasi) kecocokan tanaman apel berada pada ketinggian antara 800 hingga 1500 m dpl, dengan curah hujan 1000 hingga 3000 mm/tahun, kedalaman efektif tanah 30 hingga 50 cm serta konsistensi tanah gembur hingga teguh, sedangkan areal yang sesuai untuk tanaman apel di pulau Jawa hanya 0,57 %. Pertumbuhan yang terbaik dan produksi tertinggi pada ketinggian 1000 m dpl. hingga 1.200 m dpl. atau 1....
FGD Sinergitas LIPI – Balitjestro Tuntaskan Permasalahan Apel

FGD Sinergitas LIPI – Balitjestro Tuntaskan Permasalahan Apel

Berita
Peneliti dari LIPI Pusat Penelitian Sumberdaya Regional yaitu Gusnelly, SH, M.Si, Krisna,  Yudho Utomo dan Anang Wijaya bertemu dengan Ketua Kelompok Peneliti Balitjestro pada Jum’at 15 Mei 2015. Kedatangan ini untuk melakukan Forum Group Discussion (FGD) mengenai permasalahan pengembangan apel, khususnya di Malang Raya. Dalam makalahnya, peneliti dari LIPI mengangkat tema; “Sinergitas Pengembangan Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Melalui Transformasi Pengetahuan, Studi Peran dan Fungsi Petani Muda Mantan Program Magang di Jepang”. Dr. Ir. Harwanto, MSi selaku Kasi Yantek dan Jaslit sekaligus Plh Kepala Balitjestro menerima dan menjelaskan posisi Balitjestro, dimana apel menjadi salah satu komoditas namun penelitiannya masih tertinggal jauh dibandingkan tanaman jeruk
Kondisi Tanaman Apel di Kota Wisata Batu

Kondisi Tanaman Apel di Kota Wisata Batu

Apel, Artikel
Pemanfaatan Lahan Wilayah Kota Batu memiliki luas lahan sekitar 19.908,7 hektar, dan 30% dari luasan tersebut adalah tegalan dan kebun yang merupakan tempat utama untuk usahatani apel. Luasan tersebut hampir mendekati luas lahan untuk hutan dan penggunaan lain (35%), sedangkan sisanya adalah untuk sawah (5%) dan pemukiman (8%).  Meskipun tanaman apel juga ditanam di lahan sawah, kondisinya kurang optimal dibandingkan dengan apel di tegalan karena pada tanah sawah umumnya terdapat lapisan tapal bajak yang sulit ditembus akar dan drainasinya maupun aerasinya kurang baik untuk pertumbuhan tanaman apel.  Tanaman apel dijumpai paling banyak pada ketinggian dibawah 1.400 m dpl, sedangkan diatasnya didominasi oleh tanaman sayuran terutama kentang. Jenis Tanah Sentra Produksi Apel Ber
Permasalahan Apel di Kota Batu

Permasalahan Apel di Kota Batu

Apel, Artikel
Sistem agribisnis apel di Kota Batu sudah terbangun sejak lama, dan dalam perkembangannya mengalami dinamika pasang surut sesuai dengan permasalahan yang ada pada masa tersebut. Sejak krisis moneter pada tahun 1997 agribisnis apel mulai mengalami kelesuan pada akhir-akhir ini. Secara umum empat masalah penting yang dihadapi dalam pengembangan agribisnis apel pada saat ini adalah 1) penurunan mutu lahan, 2) harga buah yang sangat fluktuatif, 3) akses permodalan bagi petani kecil lebih sulit, dan 4) kelembagaan belum optimal. 1. Penurunan Mutu Lahan Laju penurunan mutu lahan apel di wilayah Kota Batu terjadi relatif cepat karena sebagian besar merupakan kawasan pegunungan berlereng curam dengan karakteristik tanah yang peka terhadap erosi. Disisi lain, luas kawasan hutan semakin se...
Kebangkitan Apel Melalui Program Penghambatan Laju Degradasi dan Perbaikan Mutu Lahan di Kota Batu

Kebangkitan Apel Melalui Program Penghambatan Laju Degradasi dan Perbaikan Mutu Lahan di Kota Batu

Apel, Artikel
Program "Kebangkitan Apel Melalui Program Penghambatan Laju Degradasi dan Perbaikan Mutu Lahan di Kota Batu" menjadi penting bagi Kota Batu karena dampaknya sangat luas, yaitu bukan hanya bagi petani apel tetapi juga sektor pariwisata karena Kota Batu merupakan Kota Wisata yang mengandalkan pada sumber daya alam. Selain itu, wilayah Batu juga merupakan daerah penyangga aliran sungai (DAS) Brantas yang memiliki potensi fisiologis dan hidrologis sangat penting bagi daerah disekitarnya. Oleh karena itu, degradasi lahan terutama daerah hulu sebagai salah satu penyebab menurunnya keseimbangan ekologi wilayah kota Batu yang dirasakan dan sering dikeluhkan oleh masyarakat pada akhir-akhir ini sangat penting untuk ditangani bukan hanya oleh masyarakat dan pemerintah  Kota Batu, tetapi sebaikny

Program Pengembangan Agribisnis Apel di Kota Batu

Apel, Artikel
Usaha agribisnis merupakan kegiatan untuk memperoleh keuntungan dengan mengelola aspek budidaya, pascapanen, proses pengolahan, hingga tahap pemasaran. Agar usaha mengembalikan kejayaan dan melestarikan apel di Kota Batu lebih cepat terwujud maka model pengembangan agribisnisnya harus terarah, terintegrasi dan terpadu dengan memberdayakan seluruh potensi yang ada guna mengatasi permasalahan yang semakin kompleks dan mengantisipasi segala tantangan maupun ancaman yang mungkin terjadi di masa mendatang. Kerangka model pengembangan agribisnis apel di Kota Batu merupakan suatu model agribisnis yang memadukan suatu sistem inovasi dengan sistem agribisnis. Dalam sistem agribisnis apel diperlukan kerjasama dan hubungan yang harmonis dilandasi kesadaran untuk maju bersama dari elemen kelembagaa...

Sejarah Perkembangan Apel di Indonesia

Apel, Artikel
Apel pertama kali ditanam di Asia Tengah, kemudian berkembang luas wilayah yang lebih dingin. Apel yang dibudidayakan memiliki nama ilmiah Malus domestica yang menurut sejarahnya merupakan keturunan dari Malus sieversii dengan sebagian genom dari Malus sylvestris (apel hutan/apel liar) yang ditemui hidup secara liar di pegunungan Asia Tengah, di Kazakhstan, Kirgiztan, Tajikistan, dan Xinjiang, Cina, dan kemungkinan juga Malus sylvestris. Tanaman ini masuk ke Indonesia sekitar tahun 1930-an dibawa oleh orang Belanda dari Australia kemudian menanamnya di daerah Nongkojajar (Kabupaten Pasuruan). 03Pada tahun 1953, Bagian Perkebunan Rakyat (sekarang : Lembaga Penelitian Hortikultura) mendatangkan beberapa jenis apel dari luar negeri, termasuk Rome Beauty dan Princess Noble. Selanjutnya,...
Menguak Jeruk Keprok di Bumi Apel

Menguak Jeruk Keprok di Bumi Apel

Liputan Media
“Selama ini ternyata pengetahuan kita soal jeruk sangat minim sekali, bayangkan kita selalu mengagumi jeruk mandarin. Padahal Indonesia ternyata memiliki varietas yang sama dengan jeruk itu, yakni jeruk “keprok” inilah sepenggal keterbatasan pengetahuan masyarakat yang juga dirasakan oleh ‘Sinta’ ketika beberapa waktu lalu sempat menjelajah inovasi jeruk di Balitjestro, Kota Batu, Jawa Timur. Bagi yang belum pernah bertandang ke sana, perjalanan bisa dimulai dari Bandara Abdurachman Saleh di Malang. Dari bandara itu, Rekan-rekan jelajah bisa menyewa mobil dengan tarif Rp. 150 ribu dan perlu waktu 1,5 jam bisa sampai di balai tersebut. Kota Batu yang terkenal dengan hawa sejuknya sangat pas sebagai obyek wisata. Penjelajahan kali ini, selain banyak berguru dengan para peneliti dan per
Analisis Keragaman Plasmanutfah Apel (Malus pumila Mill) dengan Primer Inter-Simple Sequence Repeat Polymerase Chain Reaction

Analisis Keragaman Plasmanutfah Apel (Malus pumila Mill) dengan Primer Inter-Simple Sequence Repeat Polymerase Chain Reaction

Apel, Artikel
ABSTRAK. Metode konvensional untuk identifikasi kultivar didasarkan pada deskripsi vegetatif pohon dan karakteristik buah. Teknik ini membutuhkan waktu dan terjadi penyimpangan karakter akibat variasi lingkungan yang mempengaruhi ekspresi karakter. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi 10 varietas apel dari kebun koleksi plasmanutfah dengan menggunakan penanda molekular berbasis mikrosatelit. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika,  mulai bulan Juli 2006 – Desember 2006. Sebanyak 8 primer ISSR digunakan untuk mengamplifikasi sampel DNA. Dari 8 primer yang dicoba 3 primer menunjukkan polimorfis. Dari ketiga primer tersebut diperoleh 260 alel yang 139 diantaranya (53.46%) polimorfis di dalam 29 lokus. Primer-primer

Perkembangan Apel di Poncokusumo

Berita
Untuk melihat kondisi pertanaman apel di poncokusumo Ka Balitjestro menugaskan staf peneliti dari Balijestro untuk melakukan kunjungan lapang di sana. Survey dilakukan di Desa Poncokusumo, Kecamatan Poncokusumo sebagai salah satu sentra produksi apel di Kabupaten Malang. Wilayah ini berada pada ketinggian 700 – 1000 mdpl. Luas lahan apel di Desa Poncokusumo sebanyak 250 ha dengan seorang petani rata-rata memiliki 0,25 ha lahan apel. Rata-rata umur tanaman adalah 20 – 30 th dengan kondisi tanaman yang cukup bagus. Saat ini fase tanaman apel di lahan petani ada yang sedang berbunga, berbuah, panen dan bahkan sudah ada yang rompes. Pada tahun 1998 saat terjadi krisis moneter, harga saprodi meningkat tajam, hal ini menyebabkan banyak petani yang beralih fungsi dan terjadi penurunan luasan p