Survey Evaluasi Adopsi Teknologi Anjuran Perbenihan Jeruk di Provinsi Riau

Untuk mengevaluasi penerapan Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS), Badan Litbang Pertanian menurunkan tim ke Riau yang dikenal sebagai salah satu penghasil benih jeruk terbesar di Indonesia. Tim survey , beranggotakan 6 orang yaitu (1) Ir. Arry Supriyanto, MS ( Koordinator); (2) Ir. Mutia Erti D, MS; (3) Setiono, SP; (4) Ir. Agus Sugiyatno, MP; (5) Susi Wuryantini, SP, MP dan (6) Ady Cahyono, SP. Survey  untuk memperoleh data yang diperlukan menggunakan metode wawancara dan meninjau langsung di kebun produksi benih jeruk terhadap 21 responden, yang mempunyai  sub anggota sebagai plasma, sehingga jumlah yang terlibat penangkaran sebanyak  212 orang

Lahan penangkaran benih jeruk terletak di tanah pekarangan dekat rumah, tanah tegal terbuka serta tanah perkebunan diantara tanaman kelapa sawit .

PenangkarRiau (1)

Batang bawah jeruk yang digunakan varietas Japansche Citroen (JC) dan ada yang sebagian menggunakan Varietas “JC Celeng”, yaitu varietas yang belum pernah direkomendasikan. Secara morfologi dapat dibedakan jelas dari bentuk daun yang cenderung memanjang , ukurannya lebih kecil dan posisi daun mengarah lebih tegak  dibanding  JC.

VarietasJC

Tinggi tempel batang bawah  berkisar antar 5-10 cm dari leher akar, sedangkan yang direkomendasikan setinggi 20 cm, mata tempel batang atas sebagian besar (± 90 %) menggunakan varietas Siam Pontianak yang berasal dari Pohon Induk Populasi (PIP) kebun jeruk produksi milik sendiri atau beli dari penangkar lain seharga Rp. 50,-/mata tempel , sedangkan sebagian  ada yang mempunyai BPMT dilapang (tidak dalam screen house) dan sebagian membeli mata tempel dari BBI Padang Marpoyan dengan harga Rp. 150,-/ mata tempel.

Sejak semai benih batang bawah sampai dengan benih siap salur tidak diproduksi menggunakan polybag, penyaluran benih disesuaikan dengan permintaan konsumen, yaitu cara cabutan dan dipolybag. Terhadap permintaan benih di polybag, penangkar membongkar benih dan memotong sebagian akar tunggang, sedangkan akar serabut tidak dipotong tetapi dililitkan melingkar ke akar tunggang kemudian dimasukkan  poybag ukuran tinggi 10-15 cm x diameter 10 cm ditanam dengan tanah, pemeliharaan selama 2-3 bulan di shading house (paranet). Penyaluran benih cara cabutan yang dikirim keluar daerah dilakukan dengan cara mencabut tanaman ,  diikat,  dibungkus dengan pelepah batang pisang kemudian diangkut dengan kendaraan.

PenyaluranBenihRiau
Penyaluran benih dengan cara cabutan

Total produksi benih jeruk dari 21 anggota Asosiasi Penangkar di Kecamatan Tambang, yang mempunyai sub anggota sebagai plasma sebanyak  212 orang disajikan pada tabel berikut :

JumlahPenangkarRiau

Harga satuan penjualan benih jeruk  :

  • Benih Tidak berlabel cabutan dari penangkar anggota asosiasi ke plasma rata-rata antara Rp.2.750–3.500/ pohon. Benih Tidak berlabel cabutan di anggota asosiasi : ukuran sedang (> 30 cm)  rata-rata antara Rp.4.000 – 5.000/ pohon sedangkan ukuran besar  ( >60 cm) rata-rata antara Rp.6.000 – 7.000/ pohon
  • Benih Tidak berlabel di polybag harganya lebih tinggi Rp.1.000/pohon untuk biaya beli    polybag dan pemeliharaan selama 2-3 bulan di shading house (paranet)
  • Benih Berlabel bebas penyakit di polybag  rata-rata antara Rp.8.000 – Rp.10.000
  • Daerah tujuan penjualan benih : Medan, , Sumbar, Jambi dan Bengkulu

Oleh: Setiono/Balitjestro

 

 

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event