Strategi Pengembangan Agribisnis Jeruk Kabupaten Mamuju Utara

(Strategy of Citrus Agribusiness Development in Regency of North Mamuju, South Sulawesi)

Abdullah Rasyid dan ABBAS’
Pemerintah Daerah Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Selatan

ABSTRAK
Pengembangan usahatani jeruk di Kabupaten Mamuju Utara berada pada Daerah Aliran Sungai Utama (DAS) Larian dan DAS Benggaulu yang tergolong subur, dengan jenis lahan histosal. Areal pertanaman jeruk dalam bentuk hamparan seluas 300 ha – 1500 ha terdapat di 3 wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Pasangkayu, Baras, dan Sarudu. Saat ini luas areal pertanaman jeruk di Mamuju Utara seluas 4.804 ha dengan produktivitas sebesar 641,67 kw/ha. Secara umum bibit masih menggunakan bibit dari berbagai sumber yang tidak standar mutunya. Budidaya umumnya dilakukan semi dan non intensif, belum sesuai dengan teknologi anjuran. Pola tanam jeruk di Kabupaten Mamuju adalah tanaman monokultur. Pemupukan baru dilakukan setelah tanaman menghasilkan karena areal tanaman jeruk umumnya rendah (0-15 m dpl) maka pengairan dilakukan dengan sistem surjan yaitu membuat parit-parit diantara baris tanaman sehingga kebutuhan air cukup tersedia pada genangan air dalam parit. Pemangkasan bentuk belum dilakukan sedang OPT utama; Diplodia, Jamur Kulit dan Kutu Putih yang dikendalikan secara kimiawi. Panenan dilakukan dengan menggunting buah waktu pagi dan dikemas dalam peti kayu dengan kapasitas 30 – 40 kg/peti. Namun yang menjadi masalah adalah jarak antara kebun dengan poros jalan lebih dari 500 m sehingga perlu waktu 2 hari. Kondisi ini menyebabkan kualitas buah turun sebelum mencapai tujuan pemasaran. Pengelolaan hasil panen masih dalam tahap sosialisasi terutama ten tang sortasi, grading, packaging serta penyimpanan. Kemasan dengan peti kayu kapasitas 30-40 kg dirasakan bermanfaat akan tetapi harga peti cukup tinggi Rp. 7.500,-/peti, perlu alternatif kemasan lain. Rantai pemasaran jeruk di Mamuju Utara meliputi petani ­ pedagang pengumpul – pedagang antar pulau dan grosir. Peranan Pemerintah Daerah dalam menciptakan kondisi pengembangan agribisnis jeruk yang kondusif sangat diharapkan antara lain dengan kebijakan permodalan, pengembangan dan penyediaan sistem informasi, bantuan teknis dan teknologi prosessing, peningkatan kualitas dan kinerja Sumber Daya Manusia, pengembangan sarana dan prasarana, pengaturan tanaman guna lahan, pemberdayaan instansi terkait, mendorong terbentuknya asosiasi agribisnis hortikultura, membina industri pengolahan hasil, dll.
Kata kunci: Jeruk Siam, agribisnis, pemasaran dan pengembangan.

ABSTRACT
Development of citrus farming system in North Mamuju located at the Region of Primary River Stream Region (RPRS) Larian and Benggaulu RPPS including fertile area with histosalland type. Citrus planting acreage spread out of area in width of 300 -1500 ha, located at three sub-districts area, that is Pasangkayu, Baras, and Sarudu. Today, citrus planting acreage width in North Mamuju consists of 4.804 ha with 64.167 kg/ha. In general, it still uses a seed from various sources which no quality standard detected. Cultivation is commonly to conduct in semi and non intensive, unsuitable to recommended technology. Citrus cropping system in regency of Mamuju is monoculture plant. Fertilization should have done after plants yield due to citrus plant acreage is lower in general (0-15 m above sea level); therefore, groove system to use for irrigation by making ditches between rows of plant so that water requirement are adequately avail on inundated water within ditches. Shape pruning is not yet conducted while primary plant intruder organism such as Diplodia, Peel Fungus, and White Insect are chemically controlled. Harvesting was done by cutting fruit in the morning and packed in wood case with a capacity of 30 40 kg/case. However, the problem is distance between farm and street axis over 500 m so that it took two days. This condition resulted in lower fruit quality before reaching the market niche. Harvesting yield management was still in socialization phase particularly sorting, grading, packaging and storing. Wood case packaging with 30 40 kg in capacity perceived quite helpful but the case price is adequately high at Rp.7.500,-/case; therefore, it needs any alternative case. Citrus marketing chain in North Mamuju included farmer retailer trans-island trader, and grocer. The role of District government in establishing a favorable climate for developing citrus agribusiness extremely to expect through the capital policy, development and providing information system, technical assistance and processing technology, quality and manpower upgrading, infrastructure development, land use management, empowerment of related institute, motivate the establishment of horticulture agribusiness association, and lead the yield processing industry.
Keywords : Tangerine cv. Siam, agribusiness, marketing and developing

Artikel lengkapnya bisa di download disini atau disini

Agenda

no event