Status dan Patogenisitas Penyakit Kanker Jeruk (Xanthomonas axonopodis pv. citri) di Jawa Timur

[cml_media_alt id='1312']kanker jeruk[/cml_media_alt]
gambar: apsnet.org
Laporan FAO tahun 1996 menyebutkan bahwa Indonesia pada tahun 1995 memproduksi 213 ribu ton jeruk manis (sweet orange) dari 2.406 ribu ton yang dikonsumsi oleh masyarakat Asia Tenggara (Saunt, 2000) dan komsumsi perkapita di Asia Tenggara adalah 5,1 kg dari rata-rata dunia 14,3 kg perkapita dalam bentuk segar dan olahan. Di antara tanaman buah-buahan, jeruk terkenal mempunyai penyakit paling banyak (Semangun, 2000). Salah satu penyakit yang dilaporkan berasal dari Indonesia adalah kanker jeruk seperti yang dilaporkan oleh Fawcett and Jenkins bahwa gejala kanker jeruk ditemukan pada herbarium yang dikumpulkan dari India barat tahun 1827-1831 dan dari Jawa tahun 1842-1844, sehingga diduga penyakit tersebut berasal dari Indo-Malaya (Indonesia) di Asia (Thurston, 1984).

Haase dan Dye melaporkan bahwa kanker jeruk disebabkan oleh patogen Xanthomonas campestris pv. citri  (Thurston, 1984). Sel-sel bakteri X. campestris pv citri berbentuk batang, 1,5-2 X 0,5-0,75 mm, membentuk rantai, bergerak dengan satu bulu cambuk, Gram negatif (Kranz et al., 1977). Hasil penelitian tentang reklasifikasi pada Xanthomonas yang disampaikan oleh Vauterin disebutkan bahwa Xanthomonas campestris pv. citri menggunakan  nama baru Xanthomonas axonopodis pv. citri, perubahan nama didasarkan pada asal patogen, kandungan asam lemak, nutrisi, dan analisis DNA (Schaad et al., 2001)

Patogen menyerang sebagian besar jeruk komersial, hampir seluruh bagian tanaman dapat terinfeksi tetapi gejala hanya dapat muncul pada daun, ranting dan buah (Thurston, 1984). Penyakit ini pertama ditemukan di Fukuoka Jepang tahun 1913, kemudian masuk ke Amerika Serikat menginfeksi pertanaman dan menyebabkan kerusakan yang berat di The Mexican Gulf State. Selanjutnya dilakukan eradikasi yang memerlukan waktu lebih dari 20 tahun mulai tahun 1915 untuk dapat menanam jeruk kembali (Goto, 1992). Sejak itu penyakit tersebut dikelompokkan sebagai salah satu penyakit penting dalam karantina internasional.

Penyakit kanker jeruk banyak ditemukan di negara tropis dan subtropis Asia dan kepulauan Pasifik dan juga ditemukan di Afrika dan Amerika Selatan ( Thurston, 1984). Di Indonesia dan Malaysia kanker jeruk termasuk penyakit yang cukup merugikan pada banyak jenis jeruk  seperti yang dilaporkan oleh Singh (Semangun, 2000). Penyakit kanker jeruk merupakan salah satu penyakit utama selain CVPD dan Tristeza pada wilayah pengembangan jeruk nipis di Kabupaten Jombang Jawa Timur (Supriyanto et al., 2000).

Penyakit Kanker jeruk di Indonesia belum banyak dilaporkan bagaimana Status dan Patogenisitas Penyakit Kanker Jeruk (Xanthomonas axonopodis pv. citri) di Jawa Timur  dan perkembangannya, penelitian ini diharapkan sebagai informasi awal tentang keberadaan penyakit tersebut di Indonesia dan sebagai dasar untuk melaksanakan penelitian-penelitian selanjutnya.

Status Penyakit di Sentra Pertanaman

[cml_media_alt id='1313']Gambar: apsnet.org[/cml_media_alt]
Gambar: apsnet.org
Hasil pengamatan status penyakit di sentra pertanaman menunjukkan bahwa intensitas penyakit tertinggi terjadi pada jeruk nipis (C. aurantifolia) di Kecamatan Perak dan Bandar Kedungmulyo Kabupaten Jombang  yaitu 18,63 % dan sebagian besar tanaman terinfeksi patogen X. axonopodis pv. citri dengan luas serangan 88,8%.

Kecamatan Perak dan Bandar Kedungmulyo Kabupaten Jombang berada pada agroklimat IV.ax1.i yang berarti: IV,  pembeda zonasi utama yaitu wilayah lereng < 8%;  a, tinggi tempat termasuk dataran rendah < 700 m dpl; x, iklim lembab; 1, sub zona lahan basah tanah sawah; i, yang berpotensi untuk intensifikasi padi (Tabel 2). Kecamatan Perak dan Bandar Kedungmulyo di Kabupaten Jombang adalah wilayah yang termasuk dalam katagori sesuai untuk pengembangan jeruk nipis (Saraswati et al., 2000).  Tingginya intensitas serangan pada jeruk nipis di Jombang sesuai dengan teori tetrahendron penyakit yang ditulis oleh Zadoks and Schein (1979), yang mengatakan bahwa penyakit akan terjadi apabila terjadi interaksi antara tanaman inang yang rentan, patogen yang patogenik, lingkungan yang sesuai bagi patogen dan adanya campur tangan manusia yang mempengaruhi terjadinya penyakit.

Tetrahendron penyakit terbukti pada jeruk nipis di Jombang: jeruk nipis (C. aurantifolia) termasuk jenis yang sangat rentan terhadap X. axonopodis pv. citri (Gottwald et al., 2002); hasil isolasi terhadap X. axonopodis pv. citri isolat nipis Jombang (LJ) termasuk katagori patogenik (Tabel 4); agroklimat IV.ax1.i yang memiliki suhu panas Isohyperthermic (Saraswati et al., 2000) merupakan kondisi yang sesuai untuk perkembangan X. axonopodis pv. citri yaitu berkembang baik pada suhu 26,5 oC (20-30 oC) (Kranz et al., 1978);  campur tangan manusia yang menanam monokultur jenis nipis di Jombang di samping upaya-upaya pengendalian yang telah dilakukan, sehingga intensitas serangan menjadi tinggi. Berdasarkan tingginya intensitas serangan kanker jeruk, diduga bahwa outbreak yang pernah terjadi tidak hanya disebabkan oleh CVPD namun ada kontribusi penyakit kanker jeruk.

Intensitas penyakit pada jeruk nipis di Kabupaten Magetan termasuk katagori rendah  yaitu 2,91 % dengan  luas serangan 26,6 %. Di lokasi tersebut jeruk nipis hanya ditanam sebagai tanaman pagar bukan dalam bentuk monokultur sehingga kondisi lingkungan tidak menguntungkan bagi patogen, karena penyebaran akan terhambat oleh adanya tanaman lain yang bukan tanaman inang. Kondisi tersebut sering disebut diseases escape atau terhindar dari penyakit karena adanya faktor lain.

 

Oleh: Anang Triwiratno
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event