Somatic Embryogenesis: Teknologi Penyedia Bibit Secara Massal

Somatic EmbryogenesisPemerintah telah menetapkan tujuan pembangunan dan pengembangan agribisnis jeruk di Indonesia untuk mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri, pemenuhan bahan baku industri, subtitusi impor dan mengisi peluang pasar ekspor. Hingga tahun 2010 dibutuhkan sekitar 15 juta bibit jeruk dari beberapa varietas jeruk (Supriyanto et al., 2007). Kebutuhan tersebut menuntut ketersediaan bibit bermutu dalam jumlah banyak dan seragam.

Perkembangan protokol kultur jaringan dalam perbanyakan sel dan jaringan telah sampai kepada level yang memungkinkan untuk melakukan industrialisasi perbenihan dan penyedian bahan dasar industri. Selain mampu memperbanyak tanaman yang sama dengan induknya (true to type), menghasilkan tanaman yang bebas patogen sistemik, dan mengatasi permasalahan perbanyakan tanaman yang tidak dapat diperbanyak secara konvensial.

Teknologi Somatic Embryogenesis (SE) dapat digunakan untuk mengeliminasi beberapa penyakit (Bitters et.al., 1970; D’Onghia et al. 2000 dan 2001) sehingga tanaman yang dihasilkan melalui teknologi SE berpotensi bebas penyakit. Keunggulan lain teknologi SE dalam penyediaan bibit adalah mampu menyediakan bibit dalam jumlah banyak dan relatif seragam dalam waktu yang bersamaan.

Somatic Embryogenesis (SE) adalah suatu pembentukan embrio dari bagian somatik tanaman yang bukan termasuk sel zygotic. Sumber sel somatik ini biasanya secara alamiah tidak terlibat dalam pembentukan dan perkembangan embrio. Penggunaan sel-sel somatik sebagai eksplan dalam protokol kultur jaringan akan memungkinkan pertumbuhan dan differensiasi sel-sel somatik tersebut menjadi embrio, yang disebut embrio somatik. Proses Somatic Embryogenesis sama dengan embriogenesis zigotic. Pembelahan sel asymetrik juga berlaku untuk perkembangan embrio somatik. Embrio somatik secara morfologi juga sama dengan embrio zygotic yaitu bipolar dengan tipe organ yang sama terdiri dari radical, hypocotyls dan cotyledone (Arnold et al., 2002). Embrio zygotic dan somatik memiliki karakteristik tahapan perkembangan yang sama, kecuali pada tahap yang paling awal, karena berasal dari dua jenis sel yang berbeda. Jika embrio somatik berasal dari hasil fertilisasi, sementara embrio somatic berasal dari sel-sel somatik.

Secara praktikal, Somatic Embryogenesis dimulai dengan penanaman bagian vegetative tanaman seperti daun, akar, bunga dari tanaman induknya. Setelah melalui prosedur sterilisasi, bagian tersebut diinokulasikan pada medium untuk induksi kalus, perbanyakan kalus, induksi kalus embrogenik dan diferensiasi serta regenerasi. Somatic Embryogenesis untuk membentuk embrio somatik terjadi ketika sel-sel baru terbentuk dari eksplan, badan-badan globular, heart, torpedo dan kotiledon hingga plantlet dibentuk pada fase tumbuh kalus embriogenik, diferensiasi, dan regenerasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan SE antara lain genotip tanaman, komposisi media kultur, tipe dan umur eksplan yang digunakan. Umumnya, eksplan yang diambil dari jaringan pada fase juvenil akan menghasilkan embrio lebih banyak.

Teknologi somatic embryogenesis akan membutuhkan ongkos produksi yang mahal apabila masih menggunakan teknologi kultur jaringan konvensional menggunakan media padat. Sistem baru dalam perbanyakan skala besar dengan protokol yang sederhana dengan melibatkan jumlah peralatan yang terbatas dan ongkos operasional yang rendah perlu digunakan. Belakangan, teknologi bioreaktor tampaknya lebih menjanjikan karena terbukti mengurangi tenaga kerja, dan ongkos produksi yang rendah. Teknologi ini cukup untuk memfasilitasi komersialisasi dalam perbanyakan tanaman.

Istilah bioreaktor digunakan untuk menggambarkan sebuah tempat untuk melakukan reaksi-reaksi biologi atau sebagai wadah kultur sel secara aerobic (Coombs, 1986). Metode ini dalam waktu yang lama telah digunakan oleh industi mikrobia dan metabolit tanaman. Usaha pertama kali mengalihkan fungsi alaminya tersebut kepada perbanyakan tanaman dilaporkan oleh Takayama pada 1981 yang bekerja untuk perbanyakan Begonia. Saat ini, teknologi bioreaktor telah berkembang dengan pesat dan diaplikasikan untuk produksi massal tanaman apel (Chakrabarty et al., 2003), Spathiphyllum (Dewir et al., 2006), Chrysanthemum (Sivakumar et al., 2005), embrio somatik Eleutherococcus (Shohael et al., 2005), Siberian Ginseng (Choi and Jeong, 2002), dan metabolite sekunder Eleutherosides (Shohael et al., 2005), dan Steviol Glycosides (Bondarev et al., 2003), dan sejumlah tanaman lain.

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event