Sepenggal Cerita Keprok Tejakula Di Tanah Asal

Jeruk Keprok Tejakula dengan warnanya yang oranye
Jeruk Keprok Tejakula dengan warnanya yang oranye

Tidak banyak jeruk Indonesia yang kulit buahnya berwarna oranye seperti jeruk impor. Salah satunya adalah jeruk keprok Tejakula yang pernah berkembang di sekitar pantai di Kecamatan Tejakula, Kab. Buleleng, Bali.   Sayang, masa kejayaan jeruk keprok Tejakula di Kabupaten Buleleng terlalu singkat akibat pasokan nutrisi tidak berimbang dan wabah CVPD (Huanglongbing). Saat ini, permintaan terhadap buah jeruk yang berpenampilan menarik seperti keprok tejakula semakin besar, terutama di pasar modern. Karena itu, wajar jika Pemkab. Buleleng bertekad mengembalikan kejayaan jeruk tersebut meskipun di tempat yang berbeda.

Berbicara tentang tampilan buah jeruk Indonesia, keprok tejakula adalah salah satu juaranya. Pasalnya, buah jeruk keprok Tejakula berwarna oranye seperti buah jeruk mandarin yang diimpor. Varietas ini juga termasuk rajin berbuah, potensi produksinya sangat tinggi mencapai sekitar 150 kg/pohon, dan memiliki daya adaptasi lingkungan yang luas. Karena itu, jeruk ini prospektif dikembangkan untuk memasok pasar modern atau mensubstitusi jeruk impor yang nilainya selama lima tahun terakhir meningkat pesat.

Awalnya jeruk keprok Tejakula dikembangkan oleh petani di sekitar pantai Wilayah Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Propinsi Bali. Karena itu, nama Tejakula secara otomatis melekat pada jeruk tersebut. Secara resmi, jeruk ini dilepas oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia pada tahun 1995 dengan nomor 20/Kpts/TP.240/I/1995. Pada masa jayanya, buah jeruk keprok Tejakula tidak hanya dinikmati oleh masyarakat yang tinggal di Pulau Dewata, melainkan juga dikirim ke pasar buah Jakarta. Sayangnya, masa tersebut tidak berlangsung lama karena serangan wabah penyakit CVPD (Huanglongbing) yang tidak bisa disembuhkan.

Wajar jika Pemkab Buleleng bertekad mengembalikan kejayaan jeruk keprok Tejakula. Alasannya, tanaman ini telah menjadi salah satu identitas daerah Buleleng, memiliki nilai ekonomi tinggi dan pernah memakmurkan petani di Tejakula. Bak pepatah “gayung bersambut, kata berjawab”. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, sejak tahun 1999 hingga 2016 pemerintah pusat memberikan bantuan benih jeruk keprok Tejakula ke Pemkab Buleleng. Benih tersebut tidak lagi ditanam di Kecamatan Tejakula tetapi ditanam di Kecamatan Gerokgak yang dianggap masih aman dari penyakit CVPD. Sampai dengan tahun 2015, populasinya telah mencapai 672.753 pohon, setara dengan 1.681 ha (400 pohon/ha). Menurut Diperta setempat, populasi jeruk di Gerokgak akan terus bertambah karena minat petani mengembangkan jeruk secara mandiri cukup besar.

Kondisi Kebun

Umumnya kebun jeruk keprok Tejakula di Gerokgak belum dikelola secara baik dan benar. Meskipun ada kelompok tani, teknologi budidaya yang diterapkan oleh petani bervariasi bergantung pada tingkat pengetahuan dan pengalamannya masing-masing. Pupuk yang ditambahkan ke kebun tidak berimbang, buah yang terlalu lebat tidak dikurangi, dan panen dilakukan oleh pedagang dengan cara asalan. Akibatnya, mutu kebun, produktivitas, ukuran buah dan rasanya bervariasi. Kebanyakan buah yang dijumpai di pasar tidak berwarna oranye seperti warna aslinya karena waktu panen tidak berdasarkan pada tingkat kematangannya, melainkan bergantung pada harga buah di pasar.

Perbaikan Teknologi

Mau tidak mau, suka tidak suka, buah lokal akan mendapat saingan semakin berat dari buah impor. Agar tidak semakin terjepit, petani harus mampu meningkatkan daya saing produknya agar mampu memenuhi kebutuhan konsumen dan mampu menggantikan jeruk impor di pasar modern.   Peningkatan daya saing produk bisa dicapai melalui peningkatan mutu buah, efisiensi usahatani, dan kontinuitas produksi. Selain itu, mutu produk juga perlu dikaitkan dengan masalah keamanan pangan, keamanan bagi manusia, hewan dan tumbuhan serta lingkungan.

Berkaitan dengan hal tersebut, petani perlu meninggalkan teknologi budidaya yang konvensional kemudian menerapkan teknologi maju. Proses produksi buah harus berorientasi pada mutu, kontinuitas produksi, efisiensi, penerimaan pasar, keamanan, dan kelestarian sumber daya alam. Untuk mencapai tujuan tersebut, petani perlu dibekali dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) sebagai panduan budidaya yang benar dan tepat serta bersifat spesifik lokasi.

Sutopo, Peneliti Balitjestro bersama dengan Buddy Putu, Petani Jeruk Keprok Tejakula di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali
Sutopo, Peneliti Balitjestro bersama dengan Buddy Putu, Petani Jeruk Keprok Tejakula di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali

Direktorat Buah dan Florikultura telah memfasilitasi penyusunan SOP Jeruk Keprok Tejakula di Buleleng yang dilakukan pada bulan Mei 2016. Pesertanya meliputi petani jeruk di Gerokgak, petugas Diperta Buleleng, pemerhati jeruk di Bali, peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (BALITJESTRO) dan Direktorat Buah dan Florikultura. (Sutopo)

Tinggalkan Balasan