Sentra Anggur di Indonesia

[cml_media_alt id='1145']poster anggur jestro ag86[/cml_media_alt]Di Indonesia sentra anggur terdapat di Jawa Timur ( Kediri, Probolinggo, Pasuruan, Situbondo), Bali dan Kupang (NTT). Bali sampai ke NTB dan NTT sebenarnya potensial sebagai kawasan pengembangan anggur.  Kawasan ,Tegal, Ambarawa dan beberapa kota di Pantura sudah sejak jaman Belanda sudah  mengembangkan anggur “buah” jenis Isabella,  hasilnya cukup baik. Isabella juga pernah dikembangkan di Palu, Sulteng dengan hasil sebaik anggur impor, namun pengembangan anggur di Palu ini terhenti karena kendala pemasaran. Selain kendala pemasaran, Anggur Probolinggo dan Bali  tidak berkembang karena merupakan anggur wine.

Indonesia sebenarnya juga punya koleksi puluhan jenis anggur,  baik untuk buah segar, wine maupun kismis, yang berlokasi  di Kebun Percobaan Banjarsari, Pasuruan. Jadi pengembangan buah ini sebenarnya sangat strategis, sumber bibitnya ada, agroklimatnya mendukung, pasarnya juga ada. Paling tidak untuk subtitusi anggur impor. Dibandingkan dengan kawasan sub tropis, Indonesia sebagai negeri tropis sebenarnya juga punya beberapa keunggulan, disamping beberapa kelemahannya. Produktifitas anggur di kawasan tropis, lebih rendah dibanding dengan kawasan sub tropis. Kalau di kawasan sub tropis hasil optimal anggur bisa mencapai 20 ton per hektar per tahun, maka di negeri kita hanya separonya. Tetapi panen anggur di kawasan sub tropis hanya bisa sekali dalam setahun. Dan di Indonesia  bisa hampir tiga kali,  dan saat panennya bisa di atur  sepanjang tahun.

Kalau umur panen anggur 105 hari semenjak pemangkasan daun, maka dalam setahun (365 hari) logikanya bisa panen 3 kali. Namun anggur menuntut masa istirahat 20 hari setelah habis panen sampai saat pemangkasan. Hingga total dalam 375 hari (setahun lebih 10 hari) kita akan panen anggur sebanyak tiga kali. Jadi kalau kita menghitung produktifitas per hektar per musim tanam, kita kalah dengan negeri sub tropis. Tetapi kalau kita menghitung tingkat produktifitas per hektar per tahun, maka anggur kita lebih produktif. Sebab dalam tenggang waktu 375 hari tersebut, rata-rata kita akan menghasilkan 30 ton anggur dalam tiga kali panen,  dengan catatan lahan yang kita tanami anggur merupakan lahan berpengairan teknis. Bisa berupa sawah atau lahan kering yang diberi sarana pengairan baik. Aplikasi pemupukan, baik organik maupun anorganik juga harus cukup. Sebab kalau tidak, tingkat produktifitasnya akan terus menurun hingga kurang dari 10 ton per hektar per musim panen.

Kawasan-kawasan yang potensi  untuk anggur  adalah Flores, dan Timor Barat,  kawasan Bali utara (sekitar Singaraja) dan Pasuruan serta Probolinggo yang selama ini dikenal sebagai sentra anggur, juga memiliki udara kering dan suhu udara yang panas. sinar matahari di kawasan ini relatif cukup.  Beda dengan di NTT yang panjang panas mataharinya bisa mencapai 6 jam per hari di musim hujan dan 10,5 jam di musim kemarau,  masih ditambah lagi, musim penghujan di NTT hanya sekitar 3 bulan. Panas matahari ini sangat penting dalam proses fotosintesis tanaman anggur. Lembah-lembah penghasil anggur di Perancis panjang harinya di musim panas mencapai 17 jam per hari. Ditambah dengan faktor suhu dan kelembapan udara, angin dan struktur tanah maka kawasan ini menjadi penghasil anggur terbaik di dunia.

[cml_media_alt id='1146']Luas Lahan dan Potensi Anggur di Indonesia - balitjestro.litbang.deptan.go.id[/cml_media_alt]

Gambar 1.   Luas lahan pengembangan  dan  potensi  anggur  di Indonesia  (Direktorat Tanaman Buah (2005)

Peluang, Tantangan dan Solusinya

Peluang

  • Dibandingkan dengan kawasan sub tropis, Indonesia sebagai negeri tropis sebenarnya juga punya beberapa keunggulan, disamping beberapa kelemahannya.
  • Tahun 2005 tercatat sekitar 1700 ha dengan total produksi 1.412. ton. Sedangkan konsumsi perkapita 0,06 kg/tahun Import buah tersebut sebesar 17.418.Ton. potensi lahan yang belum terkelola sebesar  2000 ha
  • Balitjestro mampunyai  7 varietas unggul  yang mempunyai kualitas buah seperti anggur impor yaitu : Probolinggo Biru-81, Bali, Kediri Kuning, Probolinggo Super, Prabu Bestari, Jestro Ag60 dan Jestro Ag86 telah dilepas oleh Menteri Pertanian.
  • Sehingga, menanam anggur untuk dipasarkan sebagai buah segar cukup menguntungkan. Sebab semakin tua umur tanaman, tingkat produktifitasnya akan semakin tinggi, karena dalam kenyataan produksi 1 pohon dapat mencapai 20–30 kg dan dalam 1 tahun bisa 3 kali panen dan umur tanaman anggur semakin lama semakin produktif dan dapat mencapai 25– 30 tahun dengan syarat  pemeliharaan yan intensif dengan B/C rasio = 1,58

Tantangan dan Solusinya

  • Perubahan iklim di Indonesia  dengan curah hujan yang tinggi (tidak menentu)  saat ini  membuat produksi buah anggur menurun, serta banyak terserang penyakit, sehingga perlu penanganan  teknologi aplikatif salah satunya dengan penaungan plastik ultra violet (UV) yang banyak diaplikasikan diluar negeri
  • Perlunya pendampingan teknologi aplikatif kepada petani baik budidaya, pengelolaan hama penyakit, pengolahan produk sekunder dan pemasaran oleh instansi yang terkait
  • Dengan harga buah anggur dalam negeri yang lebih murah dibanding anggur impor merupakan peluang bagi industri untuk mengolahnya menjadi produk sekunder seperti sirup, wine, jam dll.

 

Oleh: Emi Budiyati
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Tinggalkan Balasan