Sejarah Perkembangan Apel di Indonesia

[cml_media_alt id='1525']Apel Osako Koleksi Balitjeestro Indonesia[/cml_media_alt]

Apel pertama kali ditanam di Asia Tengah, kemudian berkembang luas wilayah yang lebih dingin. Apel yang dibudidayakan memiliki nama ilmiah Malus domestica yang menurut sejarahnya merupakan keturunan dari Malus sieversii dengan sebagian genom dari Malus sylvestris (apel hutan/apel liar) yang ditemui hidup secara liar di pegunungan Asia Tengah, di Kazakhstan, Kirgiztan, Tajikistan, dan Xinjiang, Cina, dan kemungkinan juga Malus sylvestris. Tanaman ini masuk ke Indonesia sekitar tahun 1930-an dibawa oleh orang Belanda dari Australia kemudian menanamnya di daerah Nongkojajar (Kabupaten Pasuruan).

03Pada tahun 1953, Bagian Perkebunan Rakyat (sekarang : Lembaga Penelitian Hortikultura) mendatangkan beberapa jenis apel dari luar negeri, termasuk Rome Beauty dan Princess Noble. Selanjutnya, sejak tahun 1960 tanaman apel sudah banyak ditanam di Batu untuk mengganti tanaman jeruk yang mati diserang penyakit. Sejak saat itu tanaman apel terus berkembang hingga sekarang di dataran tinggi Kota Batu, Poncokusumo (Malang) dan Nongkojajar (Pasuruan) dan masa kejayaannya pada tahun sekitar 1970an. Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) saat ini memiliki koleksi plasma nutfah apel sekitar 73 varietas, dan diantaranya terdapat 10 varietas apel harapan.

Dalam literatur lainnya, sejarah apel  di Indonesia dimulai sejak didatangkan dari Australia pada tahun 1934 dan pertama ditanam di Desa Tebo Pujon Malang sebanyak 20 varietas (Kusumo dan Surahmat,  1974) dan dalam perkembangannya Batu, Malang dan Nongkojajar Pasuruhan Jawa Timur menjadi daerah sentra produksi apel di Indonesia dimana tanaman apel telah di usahakan petani sekitar 1950 dan setelah 1960 tanaman apel terus berkembang pesat (Wahyudu T, 1980). Selama tahun 1984 – 1988 tanaman apel di Jawa Timur menunjukan perkembangan yang pesat, pada tahun 1984 terdapat 7.303.372 pohon bekembang menjadi 9.047.276 pohon pada tahun 1988 atau meningkat 4,7% tiap tahunnya. Sedangkan produksinya meningkat dari 146.690 ton pada tahun 1984 menjadi 275.065 ton pada tahun 1988 atau meningkat 17,5% tiap tahunnya (Puji Santoso ett all, 1991). Dari data dinas pertanian (2008), sebelum 2000 jumlah apel di Batu sebanyak 3.107.195 pohon. Jumlah tersebut menghasilkan buah sebanyak 147 ribu ton per tahun. Namun, pada 2004 mengalami penurunan sampai 1 juta pohon. Tahun 2004 pohon apel berjumlah 2 juta pohon dan hanya menghasilkan produktivitas 46 ribu ton per tahun.

Seiring  perkembangan apel yang pesat di Jawa Timur juga muncul berbagai  serangan hama dan penyakit  utama tanaman apel yang sebagian besar hama bisa diatasasi oleh petani namuin penyakit selalu muncul silih berganti, diantaranya penyakit Embun Tepung (0idium sp.) disebabkan jamur Pospaera leucotrich (Junell L, 1967) sudah muncul di Indonesia pada tahun 1960 sejak tanaman apel diusahakan besar besaran (Sastrahidayat I.I, 1983) dan pada tahun 1985 di daerah Batu Malang diberitakan bahwa hampir 90 persen tanaman Apel di Batu terserang terserang jamur ini dengan intensitas sampai 54,45 persen dan menurunkan produksi 50%.

Varietas Jonathan paling rentan terhadap serangan jaumur Oidium ini dibandingkan varietas Rome Beauty, Manalagi  dan Sweet Caroline (Nur Imah Sidik dan Sarwono, 1985). Kemudian penyakit bercak daun Marsonina coronaria muncul pada tahaun 1981 dimana varietas Rome Beauty yang paling rentan terhadap serangan Marsonina coronaria dibandingkan dengan varietas Pricesse Noble, Anna dan Manalagi (Moch Suria dan Roemiyanto, 1991). Marsonina coronaria menyerang daun umur 7 minggu ke atas atau daun tua. Di Kabupaten Malang tanaman apel  pada tahun 1981 serangannya mencapai 99,46 persen dengan penurunan hasil sampai 92 persen (Nur Imah Sidik dan Catur Hermanto, 1986).

Selain hama penyakit yang timbul dengan perkemabangan yang pesat muncul berbagai masalah budidaya apel lainnya seperti penggunaan pestisida yang berlebihan, pemupukan, dan masalah usahatani yaitu harga buah apel yang selalu berfluktuatif setiap bulannya. Usahatani apel  bisa berjalan dengan mendapatkan keuntungan bila skala minimum usaha dapat dicapai, yaitu untuk tanah sawah 0,164 ha dan pada tanah tegal pada skala minimum 0,390 ha (Puji Santoso ett all, 1991).

[cml_media_alt id='1526']Poster Koleksi Apel Ttropika[/cml_media_alt]Di Kota Batu tanaman apel pada tahun 2000 tercatat ada 3.107.195 pohon  dengan produksi  147.000 ton. Turun pada tahun 2004  jumlah tanaman apel menjadi 2.137.314 pohon dengan produksi 46.000 ton (Dinas Pertanian Kota Batu, 2004). Komoditas ini bagi Kota Batu memiliki peran penting bagi dinamika kesejahteraan dan perekonomian bukan hanya bagi pelaku agribisnisnya tetapi juga masyarakat umum. Perkembangan apel juga menjadi pendorong perkembangan sektor pariwisata karena keindahan tanaman ini juga menjadi magnet yang menarik wisatawan untuk berkunjung ke Kota Batu.

Sejak sekitar tahun 1980 hingga menjelang tahun 1990, produksi apel Kota Batu mengalami masa kejayaan.  Selanjutnya, sejak krisis moneter pada tahun 1997 produksi apel cenderung menurun bahkan produksi yang dicapai pada tahun 2005 lebih rendah dibandingkan dengan tahun 1970-an. Kegiatan pemahaman masyarakat pedesaan secara partisipasif atau Participatory Rural Appraisal (PRA) yang dilakukan pada tahun 2006 merumuskan bahwa fenomena ini disebabkan antara lain oleh penurunan kesuburan lahan akibat pemakaian pestisida berlebihan, pemeliharaan yang kurang optimal akibat naiknya harga sarana produksi, dan sebagian tanaman apel produktivitasnya menurun karena umurnya tua.

 

Untuk mengatasi masalah diatas, pada tahun 2006 didatangkan varietas baru batang atas dan batang bawah apel dari Belanda melalui Program  Local Economic Resources Development (LERD) atau Pengembangan Sumberdaya Ekonomi Lokal (PSEL) berbasis apel  yang merupakan kerjasama Pemerintah Kota Batu dengan Bappenas dan Pemerintah Belanda. Selanjutnya pada tahun 2007 dan 2008 dilakukan peremajaan tanaman tua di beberapa lokasi, namun demikian hasil dari kegiatan tersebut pada saat ini masih belum dirasakan pengaruhnya secara nyata terhadap pemecahan masalah agribisnis apel di Kota Batu, karena varietas yang baru diintroduksi belum diketahui keunggulannya dibandingkan dengan varietas yang sudah adaptif (Rome Beauty, Manalagi, dan Anna).  Disamping itu, sebagian bibit untuk peremajaan mutunya kurang baik dan kegiatan peremajaan tanaman tidak diikuti dengan pengawalan teknologi  sehingga perkembangan tanaman di lapangan pada saat ini kurang memuaskan.

Untuk mempercepat terwujudnya kembali kejayaan apel dan  agribisnis apel Kota Batu yang berdaya saing tinggi dan lestari maka perlu dilakukan penanganan secara menyeluruh, terintegrasi dan konsisten bertahap terhadap unit-unit yang berperan dalam agribisnis sesuai dengan permasalahannya. Sebagai acuan dalam menyusunan program dan pegangan dalam melaksanakan kegiatan di lapangan maka perlu disusun Pendekatan Strategis Dalam  Pengembangan Agribisnis Apel berdasarkan pada basis data biofisik lahan dan kondisi unit-unit agribisnis yang aktual dan antisipasinya terhadap perubahan-perubahan yang mungkin akan terjadi.

 

Oleh: Suhariyono
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event