Sebaran BF dan BPMT Jeruk Mendukung Industri Perbenihan Nasional

Bangunan screenhouse BPMT dan BF di NTTTim Kawalan Teknologi memberi masukan perbaikan pembangunan screenhouse BMPT di Timur Tengah Selatan (TTS) Propinsi NTT untuk mendukung program rehabilitasi keprok So’E

Pembangunan kawasan agribisnis jeruk diawali di pembibitan, artinya pengembangan agribisnis jeruk yang berdaya saing dan berkelanjutan menuntut dukungan industri benih yang tangguh.  Menurut Arry Supriyanto peneliti senior jeruk di Balitjestro, sistem produksi dan distribusi benih jeruk bebas penyakit yang berlaku secara nasional saat ini, sebenarnya jika diterapkan dengan baik akan memungkinkan penangkar benih jeruk mampu memenuhi kebutuhan akan benih jeruk dalam jumlah banyak dan berkualitas prima.

Di lapang, benih jeruk bebas penyakit yang berlabel biru beredar bersamaan dengan benih liar. Hal ini bisa disebabkan oleh keterbatasan ketersediaan benih jeruk, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan petani, dan lemahnya penegakan hukum terhadap pelanggaran oleh penangkar dalam proses produksi benih jeruk.

Sistem produksi dan distribusi benih jeruk bebas penyakit mengikuti pentahapan awal seleksi Pohon Induk Tunggal, diikuti dengan pembersihan dari patogen sistemik melalui kultur shoot-tip (STG) dan indeksing untuk mengetahui keberadaan pathogen penyebab penyakit termasuk penyebab penyakit CVPD yang semuanya dilaksanakan di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.  Distribusi selanjutnya oleh pihak pengembangan mengikuti alur Blok Fondasi (BF) – Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) – Blok Penggandaan Benih Komersial atau para penangkar benih hingga benih berlabel biru diterima petani. BPSB akan mengawasi  setiap tahapan penting proses produksi, dan  jika dinyatakan lulus, benih yang dihasilkan berhak diberi label biru.

Hingga kini, 19 provinsi telah membangun BF dan 21 provinsi telah memiliki BPMT untuk menghasilkan benih jeruk bebas penyakit unggulan daerah.  Berdasarkan pengamatan di lapang, dijumpai adanya keragaman pengelolaan BF dan BPMT berikut permasalahan teknis dan non teknis yang dihadapi oleh para pengelola perbenihan jeruk dan penangkar di daerah. Koordinasi dan sinergisme pelaku perbenihan dari tingkat pusat hingga daerah, karena alasan yang belum bisa dipahami sepenuhnya terbukti sulit dilaksanakan secara dengan baik. Akibatnya, pengembangan agribisnis jeruk di Indonesia yang berdaya saing tinggi dan  keberlajutan   belum sepenuhnya didukung oleh industri perbenihan. [zh]

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event