SEAMEO BIOTROP Menjajaki Kerjasama dengan BALITJESTRO

Kamis 15/03/2018, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) menerima kunjungan tim dari SEAMEO BIOTROP (Regional Centre for Tropical Biology). SEAMEO (Southeast Asian Ministers of Education Organization) BIOTROP adalah salah satu dari dua puluh dua pusat regional di Asia Tenggara yang bergerak dalam penelitian biologi tropika dan berada di bawah naungan Organisasi Menteri-Menteri Pendidikan se-Asia Tenggara yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat.

Tim terdiri dari empat orang, yaitu Dr. Jess Fernandez (Deputi Direktur bidang Program), Dr. Supriyanto (peneliti), Samsul A. Yani (Manajer Product Development and Services), dan Bambang Sulistio (Pejabat Pembuat Komitmen). Kunjungan diterima oleh Ir. Agus Sugiyatno, MP selaku Koordinator Jasa Penelitian, mewakili Kepala Balitjestro, didampingi oleh Trifena Honestin, STP dan Unun Triasih, SP.

Diawali dengan ucapan selamat datang, selanjutnya Ir. Agus Sugiyatno, MP memberi penjelasan singkat mengenai profil Balitjestro. Dijelaskan tentang inovasi teknologi jeruk dan buah subtropika yang telah dihasilkan Balitjestro, antara lain adalah varietas unggul jeruk, apel, anggur, lengkeng dan stroberi, serta teknologi lainnya yang mendukung pengembangan jeruk dan buah subtropika di Indonesia. Selain itu diinformasikan juga bahwa Balitjestro selama ini sudah menjalin kerjasama dengan SMK dan Perguruan Tinggi se-Indonesia dalam kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL), Magang, dan Skripsi  di Balitjestro.

Maksud kunjungan tim SEAMEO BIOTROP yang diwakili oleh Dr. Supriyanto adalah menyampaikan program Kemendikbud bersama dengan SEAMEO BIOTROP untuk pemberdayaan SMK Pertanian melalui penanaman tanaman jeruk dan buah subtropika. SEAMEO BIOTROP membutuhkan ± 10.000 benih tanaman jeruk dan buah subtropika untuk ditanam di lahan 20 SMK Pertanian terpilih yang tersebar di seluruh Indonesia sebagai percontohan. Tahapan yang akan dilakukan yaitu : 1) Pemetaan SMK yang potensial (20 SMK) 2) Pemberdayaan Pusat Studi (PT, Balit, dan instansi lain), 3) Membangun demplot tanaman buah 4) Pelatihan budidaya tanaman buah dan 5) Pelatihan penanganan pasca panen buah.

Kriteria SMK yang dipilih harus memenuhi persyaratan diantaranya memiliki lahan kurang lebih 1 ha, ada proses belajar mengajar mengenai hortikultura, mempunyai tenaga yang memelihara kebun, mempunyai pengalaman mengelola kebun buah, serta ada laboratorium untuk pengolahan industri berbasis buah. Pertemuan ini akan ditindak lanjuti dengan penyusunan MoU untuk kerjasama penelitian, pelatihan (capacity building) dan penyediaan benih jeruk dan buah subtropika. Kunjungan ini diakhiri dengan melihat kebun di lingkungan kantor Balitjestro disertai beberapa diskusi singkat.(Trifena)