SBY Pamitan ke Petani dan Nelayan

2258_1745_OKE-MLG-penas-sby-rully-12-(3)SEGAR: Presiden SBY dan Ibu Negara Ani Yudhoyono (kanan) mencoba jeruk hortikultura saat meninjau lokasi Penas XIV di Desa Kedungpedaringan, Kepanjen, Malang, Sabtu (7/6). (Rully/Jawa Pos Radar Malang)

KEPANJEN – Acara Pekan Nasional Petani Nelayan (Penas) XIV di Malang, Jawa Timur, dijadikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai acara perpisahannya dengan rakyat. Di depan seluruh peserta Penas yang terdiri atas petani dan nelayan, dia mengucapkan rasa terima kasih sekaligus ucapan selamat tinggal.

”Sejak 2004 saya sudah mendampingi Pak Winarno (ketua Kontak Tani Nelayan Andalan/KTNA), dan ini merupakan kehadiran terakhir saya di acara KTNA,” ujar SBY di depan seluruh peserta. Dia juga menjelaskan, sekitar 4,5 bulan lagi masa jabatannya berakhir. Untuk pemimpin selanjutnya, dia berharap bisa lebih memperhatikan nasib para nelayan.

Ucapan perpisahan itu disampaikan SBY di pidato bagian akhir. Tampak nada penyampaian pidatonya tak selantang sebelumnya. Satu per satu kata yang dia ucapkan disampaikan dengan sangat hati-hati.

Setelah menyampaikan pidato, SBY menyempatkan diri meninjau contoh lokasi Penas di Desa Kedungpedaringan, Kepanjen. Didampingi Menteri Pertanian Suswono, SBY berkeliling sembari mendapat penjelasan tentang beberapa hasil temuan dari para petani. Dia memulainya dengan melihat teknologi pengolahan padi.

Kemudian, SBY melihat contoh hasil jeruk hortikultura. Bahkan, tak sungkan-sungkan dia mencicipi jeruk tersebut di depan rombongan. ”Mantap rasanya,” terang SBY disambut tepuk tangan warga yang menontonnya. Bahkan, hingga meninggalkan lokasi Penas, Ani Yudhoyono sengaja membawa tiga jeruk untuk dibawa pulang.

Ani Yudhoyono yang diketahui gemar dengan dunia fotografi juga tak lupa mengabadikan momen-momen perjalananya meninjau lokasi Penas. Dengan kamera DSLR miliknya, dia terlihat sibuk mengambil gambar beberapa buah di hadapannya.

Sementara itu, lokasi penanaman lombok juga tak luput dari peninjauan SBY. Sembari memperlihatkan lombok yang sudah dipetiknya, dia sedikit mengeluarkan selera humornya. ”Ini sebentar lagi harganya naik,” kata SBY disambut tawa masyarakat. Kestabilan harga cabai memang sering menjadi problem pertanian. Menurut SBY, apabila harga lombok naik, memang masyarakat yang dirugikan. Namun, bila harga lombok turun, petanilah yang dirugikan. (by/c10/kim)

sumber : Jawa Pos

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event