Sambutan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian pada Acara Pembukaan Citrus Spectacular Day

Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh

Yang saya hormati:

  • Ibu Mieke Wahyuni Suswono dan Ibu-Ibu SIKIB yang berbahagia;
  • Walikota Batu, Bp. Eddy Rumpoko;
  • Ketua DPRD Kota Batu;
  • Muspida Kota Batu;
  • Bupati Ponorogo atau yang mewakili
  • Para pejabat Eselon II dan Eselon III di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota,
  • Para pengusaha, pelaku agribisnis, petani, mahasiswa dan pelajar serta seluruh undangan dan hadirin yang berbahagia

Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.

Marilah kita selalu memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan berkah dan rahmat -Nya, sehingga pada pagi ini kita dapat hadir, berkumpul bersama dan berpartisipasi dalam acara CITRUS SPECTACULAR DAY yang diselenggarakan oleh BADAN LITBANG PERTANIAN di BALITJESTRO, Kota Batu yang sejuk ini dalam keadaan sehat wal’afiat. Saya sampaikan terimakasih dan penghargaan kepada Walikota Batu, Ibu-Ibu SIKIB, dan para undangan lainnya yang telah meluangkan waktunya untuk dapat hadir memenuhi undangan kami dan sekaligus dapat melihat langsung perkembangan inovasi teknologi yang telah dihasilkan oleh BADAN LITBANG PERTANIAN.

Para hadirin yang berbahagia,

Sampai saat ini Indonesia termasuk negara pengimpor jeruk terbesar kedua di ASEAN setelah Malaysia, dengan volume impor khususnya jeruk manis sebesar 127.041 ton selama kurun waktu 2005–2009 dengan rata–rata per tahun mencapai 25.408 ton atau setara dengan US $ 17.5 juta/tahun. Sedangkan untuk jenis keprok atau mandarin, selama kurun waktu 2005–2009 mencapai 504.063 ton atau sekitar 100.813 ton per tahun dengan nilai mencapai US $ 80.6 juta/tahun (BPS, 2010). Sehingga tidak mengherankan apabila produk buah impor, termasuk jeruk, telah membanjiri pasar swalayan, kios-kios buah, pasar tradisional, dan bahkan dengan mudah bisa kita beli di pedagang kaki lima. Kecenderungan meningkatnya impor jeruk berbagai varietas mengindikasikan adanya segmen pasar tertentu yang menghendaki jenis dan mutu buah jeruk prima yang belum bisa dipenuhi produsen dalam negeri. Konsekuensinya untuk memenuhi kebutuhan konsumen harus dipenuhi dari impor, yang sebagian besar berasal dari Australia, China dan Pakistan, yang sebenarnya kondisi buah jeruknya tidak lebih segar dari buah jeruk kita, karena telah disimpan cukup lama di dalam cool storage, sekitar 6 bulan – 1 tahun.

Hadirin yang berbahagia,

Peningkatan impor buah jeruk sebenarnya dapat dijadikan sebagai peluang pasar sekaligus peluang pengembangan jeruk keprok nasional kita, seiring dengan peningkatan preferensi konsumen akan buah jeruk bermutu. Besarnya peluang pengembangan jeruk keprok ini tidak lepas dari potensi yang kita miliki, antara lain: banyaknya sentra produksi jeruk, tingginya keragaman sumber daya genetik jeruk, ketersediaan varietas jeruk keprok nasional berkualitas tinggi, termasuk ketersediaan benihnya, teknologi yang telah dihasilkan, ketersediaan pasar, serta kemauan pelaku agribisnis jeruk itu sendiri.

Luas panen jeruk di Indonesia saat ini mencapai 72.3 juta Ha, dengan total produksi sekitar 2.07 juta ton atau produktivitasnya mencapai 38,85 ton/Ha (Sumber: Kemtan,2009). Sedangkan jenis dan varietas jeruk komersial yang sudah dilepas oleh Kementrian Pertanian dengan kualitas buah yang tidak kalah dengan jeruk impor, antara lain Keprok Batu 55 berasal dari Batu, Jawa Timur; keprok Garut dari Jawa Barat; keprok Pulung dari Jawa Timur; keprok Tawangmangu dari Jawa Tengah; dan keprok SOE dari NTT. Jenis keprok lainnya seperti keprok Tejakula (Bali); keprok Madura; keprok Borneo Prima (Kaltim); dan keprok Trigas (Kalbar) juga sangat berpotensi untuk dikembangkan di masa mendatang khususnya untuk dataran rendah, demikian pula jenis Siam maupun jeruk besar atau Pamelo yang sangat potensial.

Namun demikian, keberadaan buah jeruk keprok nasional yang bermutu masih terbatas sehingga masih sulit dijumpai di pasar tradisional maupun di pasar modern. Hal ini terjadi karena skala usaha tani jeruk di Indonesia masih sangat kecil, lokasinya terpencar dan bukan merupakan hamparan luas. Pengembangan agribisnis jeruk ke depan harus berupa estate atau skala perkebunan berupa hamparan luas, sehingga pengusahaannya akan jauh lebih efisien dan meningkatkan daya saing, yang akhirnya buah jeruk akan bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri seperti yang kita cita-citakan bersama.

[cml_media_alt id='1861']Rekor MURI  (18)[/cml_media_alt]Hadirin yang berbahagia,

Acara CITRUS SPECTACULAR DAY yang diselenggarakan saat ini memiliki arti yang sangat penting  sebagai salah satu pertanggungjawaban, upaya penyebarluasan dan pendayagunaan hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh BADAN LITBANG PERTANIAN melalui BALITJESTRO langsung kepada pihak pengguna,  petani, pelaku agribisnis, pengambil kebijakan,  akademisi dan masyarakat luas.  Acara ini merupakan salah satu perwujudan dari upaya mengakselerasi  hasil-hasil penelitian jeruk yang telah banyak didokumentasikan untuk segera didiseminasikan, didayagunakan dan diadopsi oleh pelaku agribisnis untuk meningkatkan daya saing produk jeruk dalam negeri.

Produksi buah-buahan saat ini telah mencapai sekitar 18 juta ton/tahun; namun demikian konsumsi percapita masih cukup rendah, yaitu sekitar 34 kg/kapita/tahun, masih jauh dari yang dianjurkan oleh FAO yaitu sekitar 70 kg/kapita/tahun. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal, seperti rendahnya daya beli dan asesibilitas, keterbatasan produk yang bermutu, ataupun kurangnya kesadaran gizi masyarakat. Promosi untuk peningkatan konsumsi buah-buahan kepada masyarakat masih perlu digalakkan.

Kinerja Badan Litbang Pertanian selama periode 2005-2009 memperlihatkan capaian yang cukup signifikan, sehingga diharapkan mampu memberikan kontribusi kongkrit terhadap perbaikan profil agribisnis jeruk nasional. Sebagai indikator terlihat produk-produk inovasi teknologi hasil penelitian ke berbagai sentra-sentra pengembangan. Balitjestro telah melepas 17 VUB jeruk yang beberapa di antaranya telah dimanfaatkan oleh masyarakat melalui distribusi bibit-bibit bermutu ke berbagai sentra pengembangan melalui implementasi penyediaan pohon induk 71 varietas jeruk bebas virus melalui teknologi Shoot Tip Grafing (STG), distribusi 1.072 benih penjenis untuk pembangunan Blok Foundasi (BF) di 14 propinsi, 6.706 benih dasar untuk pembangunan Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) di 19 provinsi dan sekitar 45 juta bibit jeruk bebas penyakit telah siap beredar di sentra-sentra pengembangan jeruk di 20 Provinsi.

Untuk mendukung revitalisasi perbenihan, telah dihasilkan regulasi dan rekomendasi sistem produksi dan diseminasi bibit jeruk bebas penyakit berskala nasional, yang saat ini telah diadopsi dan dikembangkan. Berbagai inovasi teknologi untuk mewujudkan usaha agribisnis jeruk yang tangguh telah dikaji dan diterapkan antara lain penggunaan varietas batang bawah alternatif dan pemupukan berdasarkan hasil panen untuk lahan pasang surut;  pengendalian OPT ramah lingkungan berbasis sumberdaya lokal dengan biopestisida, teknologi peningkatan nilai tambah jeruk melalui top working atau top grafting, serta berbagai produk agroinput yang siap dikomersialisasikan seperti ’Trichocid’ untuk mengendalikan penyakit tular tanah (Fusarium sp., Phytophthora sp. Verticillium sp.) dan dekomposor kompos ’Gliocid’ untuk mengendalikan penyakit kudis jeruk. 5). Kegiatan diseminasi telah dilakukan masing-masing sebanyak 48 kali pada ekspose produk dan teknologi melalui Technoekspo, Promosi, Seminar, Pekan Flori dan Flora Nasional, Citrus Field Day, Citrus Vaganza, Festival Buah, Gelar Teknologi, Pekan Agro Inovasi Badan Litbang; pengembangan jejaring kerjasama berupa penelitian sebanyak 29 kegiatan baik dengan perguruan tinggi, lembaga riset lainnya serta swasta; kerjasama rancang bangun/pengembangan yang dilaksanakan Balitjestro baik dengan stakeholder dalam negeri maupun luar negeri sebanyak 10 kegiatan (Rancang Bangun Jeruk dan Buah Subtropika dengan Pemda, Ditjen PLA, Rancang Bangun Pengembangan Jeruk dan Buah Subtropika pada Wilayah PTPN XII, Kaltim Prima Coal/KPC, ACIAR) serta 5 kali kegiatan pemagangan yang diikuti oleh swasta, petani maupun Dinas Pertanian.

[cml_media_alt id='1857']Rekor MURI  (14)[/cml_media_alt]Hadirin yang berbahagia,

Agribisnis hortikultura, terutama tanaman jeruk di masa mendatang akan semakin mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang tumbuhnya  sektor perekonomian di Indonesia, terutama dalam menciptakan lapangan kerja, peluang pasar dan peningkatan devisa negara. Dalam kaitan ini, Kebijakan ini dituangkan dalam program utama Badan Litbang Pertanian melalui Rencana Strategis periode 2010-2014, yang diarahkan untuk ‘penciptaan inovasi teknologi dan varietas unggul berdaya saing’,  dengan menetapkan kebijakan litbang yang outputnya berorientasi pada tiga kegiatan, yaitu: 1). Kegiatan Utama untuk mendukung program strategis Kementrian Pertanian seperti P2BN, PSDS), 2). Kegiatan Strategis untuk mempercepat pematangan teknologi dan meningkatkan efektivitas pemanfaatan sumberdaya penelitian pertanian seperti konsorsium, KKP3T, insentif Ristek dan 3). Kegiatan In-house untuk menghasilkan inovasi teknologi, diseminasi dan kelembagaan pendukung untuk peningkatan produksi 5 komoditas prioritas, dan 30 fokus komoditas pertanian. Untuk periode 2010-2014, sub program yang terkait dengan aspek hortikultura adalah  ‘Kegiatan  Penelitian dan Pengembangan Hortikultura’, dengan fokus pada aspek pemuliaan dan pengelolaan sumberdaya genetik hortikultura sebagai bahan perakitan varietas unggul baru adaptif daerah tropis (genjah, better eating quality, seedless, trendsetter), serta inovasi teknologi modern yang efektif, efisien dan ramah lingkungan berbasis sumber daya lokal yang dapat mengantisipasi perubahan iklim dan menanggulangi permasalahan OPT. Kebijakan ini dituangkan dalam program utama Badan Litbang Pertanian melalui Rencana Strategis periode 2010-2014, yang diarahkan untuk ‘penciptaan inovasi teknologi dan varietas unggul berdaya saing’,  dengan menetapkan kebijakan litbang yang outputnya berorientasi pada tiga kegiatan, yaitu: 1). Kegiatan Utama untuk mendukung program strategis Kementrian Pertanian seperti P2BN, PSDS), 2). Kegiatan Strategis untuk mempercepat pematangan teknologi dan meningkatkan efektivitas pemanfaatan sumberdaya penelitian pertanian seperti konsorsium, KKP3T, insentif Ristek dan 3).

Kegiatan In-house untuk menghasilkan inovasi teknologi, diseminasi dan kelembagaan pendukung untuk peningkatan produksi 5 komoditas prioritas, dan 30 fokus komoditas pertanian. Untuk periode 2010-2014, sub program yang terkait dengan aspek hortikultura adalah  ‘Kegiatan  Penelitian dan Pengembangan Hortikultura’, dengan fokus pada aspek pemuliaan dan pengelolaan sumberdaya genetik hortikultura sebagai bahan perakitan varietas unggul baru adaptif daerah tropis (genjah, better eating quality, seedless, trendsetter), serta inovasi teknologi modern yang efektif, efisien dan ramah lingkungan berbasis sumber daya lokal yang dapat mengantisipasi perubahan iklim dan menanggulangi permasalahan OPT. Kebijakan ini dituangkan dalam program utama Badan Litbang Pertanian melalui Rencana Strategis periode 2010-2014, yang diarahkan untuk ‘penciptaan inovasi teknologi dan varietas unggul berdaya saing’,  dengan menetapkan kebijakan litbang yang outputnya berorientasi pada tiga kegiatan, yaitu: 1). Kegiatan Utama untuk mendukung program strategis Kementrian Pertanian seperti P2BN, PSDS), 2). Kegiatan Strategis untuk mempercepat pematangan teknologi dan meningkatkan efektivitas pemanfaatan sumberdaya penelitian pertanian seperti konsorsium, KKP3T, insentif Ristek dan 3). Kegiatan In-house untuk menghasilkan inovasi teknologi, diseminasi dan kelembagaan pendukung untuk peningkatan produksi 5 komoditas prioritas, dan 30 fokus komoditas pertanian. Untuk periode 2010-2014, sub program yang terkait dengan aspek hortikultura adalah  ‘Kegiatan  Penelitian dan Pengembangan Hortikultura’, dengan fokus pada aspek pemuliaan dan pengelolaan sumberdaya genetik hortikultura sebagai bahan perakitan varietas unggul baru adaptif daerah tropis (genjah, better eating quality, seedless, trendsetter), serta inovasi teknologi modern yang efektif, efisien dan ramah lingkungan berbasis sumber daya lokal yang dapat mengantisipasi perubahan iklim dan menanggulangi permasalahan OPT.Badan Litbang Pertanian telah mengantisipasi dengan menyiapkan suatu kebijakan untuk subsektor hortikultura, yang diarahkan untuk ‘penciptaan inovasi teknologi dan varietas unggul yang berdaya saing’,  dengan fokus pada upaya perakitan varietas unggul baru adaptif untuk daerah tropis yang genjah, better eating quality, seedless, dan trendsetter, serta inovasi teknologi modern yang efektif, efisien, dan ramah lingkungan berbasis sumber daya lokal yang dapat mengantisipasi perubahan iklim dan atau pemanasan global yang akhir-akhir ini menjadi pembicaraan hangat hampir di seluruh dunia.

Tantangan pembangunan subsektor hortikultura tersebut perlu dihadapi dan diatasi bersama secara sinergis.  Melalui rangkaian acara  dalam penyelenggaran CITRUS SPECTACULAR DAY ini, saya mengharapkan para peserta dan undangan dapat memanfaatkan inovasi teknologi yang telah dihasilkan oleh Balitjestro.  Saya juga berharap agar selama acara ini berlangsung terjadi  kontak bisnis dan terjalin kerjasama kemitraan dalam menciptakan dan mengembangkan inovasi dan teknologi hortikultura.

Hadirin yang berbahagia,

Pada kesempatan yang baik ini, marilah kita bersama-sama melaksanakan semangat untuk mengangkat citra jeruk nasional melalui “Gerakan Makan Buah Jeruk Nasional” yang diikuti oleh sekitar 3000 peserta terdiri dari siswa Tk, SD, SMP, SMA, mahasiswa dan peserta umum. Saya merasa sangat bangga dengan usaha ini dan mudah-mudahan gerakan ini dapat menimbulkan semangat nasionalisme bagi bangsa Indonesia terutama untuk mencintai produk dalam negeri.

Demikian beberapa hal yang bisa saya sampaikan. Akhirnya, saya mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada Bapak dan Ibu serta para undangan lainnya yang telah perpartisipasi untuk mensukseskan acara ini, dan dengan mengucapkan “Bismillaahirrohmaanirrohiim, CITRUS SPECTACULAR DAY” dengan tema Kebangkitan Jeruk Nasional Siap “Menggilas” Jeruk Impor secara resmi saya nyatakan dibuka.

Terima kasih.

Billahitaufiq wal hidayah,

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh.

Malang, 5 Agustus 2010

Kepala Badan Litbang Pertanian,

 

 

Dr. Ir. S. Gatot Irianto

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event