Sambas Citrus Center

Citrus Center di Sambas, tepatnya di jalan raya Segedong, Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas hadir untuk mengawal teknologi agribisnis jeruk yang ada di Kabupaten Sambas khususnya, dan Kalimantan Barat pada umumnya. Berdiri pada tahun 2003 di lahan seluas 2,65 Ha, kehadirannya merupakan langkah nyata pemerintah daerah dan pusat untuk mengawal pengembangan jeruk. Citrus Center dikelola oleh Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan Barat yang lokasinya di Kabupaten Sambas.

Adanya Citrus Center ini diharapkan sangat membantu petani dalam penanganan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman yang semakin mengkhawatirkan, khususnya makin maraknya kerugian petani jeruk akibat Huanglongbing (HLB). Saat ini, Kalimantan Barat menjadi provinsi ke-4 di Indonesia sebagai penghasil jeruk dengan produksi 126.502 ton. Langkah antisipatif terus dilakukan, apalagi luasan kawasan jeruk berkurang 4.047 hektar dari tahun 2008 sampai tahun 2016. Pada tahun 2018 dilakukan penanaman 400.000 benih jeruk untuk menggantikan tanaman jeruk yang mati.

Citrus Center ini digadang-gadang menjadi pusat informasi dan inovasi teknologi jeruk bertaraf nasional, menyediakan sarana pelatihan dengan menyediakan laboratorium, kebun percontohan, show room, ruang serbaguna, ruang pengelola, ruang penyimpanan dan fasilitas penunjang lainnya. Selain itu, Citrus Center diharapkan mampu berperan sebagai bank bibit jeruk unggulan di Kalimantan Barat.

Dalam perkembangannya, Citrus Center ini ternyata mengalami pasang surut. Berbagai fasilitas yang tersedia belum maksimal menurunkan sebaran hama dan penyakit jeruk dan praktek produksi benih jeruk liar yang diperkirakan masih 70% beredar. Disisi lain, fasilitas lengkap gedung dan pengelolaan pascapanen juga tidak berkembang, alias mangkrak. Dalam tiga tahun terakhir, berbagai pemberitaan lokal di Sambas, baik Bupati, anggota dewan, pengusaha maupun petani mengharapkan peran Citrus Center ditingkatkan, tidak hanya sekedar menjadi showroom atau lokasi budidaya tanaman jeruk saja, tetapi berbagai program pelatihan dan pengawalan tanaman jeruk dapat efektif dilakukan. Pengembangan produk olahan jeruk perlu segera dimulai mengingat dari 8000 hektar tanaman jeruk, saat ini 60% sudah berproduksi.

Agar harga produk buah jeruk stabil, pemasaran jeruk tidak hanya di area lokal Sambas dan Kalimantan saja, namun perlu juga diekspor. Peluang hadirnya Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Aruk dapat dimanfaatkan lebih besar, khususnya dalam ekspor dan impor. Pemerintah telah mengadakan kesepakatan Sosek Malindo dimana salah satu poinnya adalah adanya kesepakatan dagang antara Sambas dan Lundu, Sambas dan Sematan atau Sambas dan Kuching.

Semoga peran Citrus Center bisa dioptimalkan kembali dan kehadirannya mampu meningkatkan kesejahteraan petani jeruk, khususnya di Kalimantan Barat. Hal ini bisa dimulai dari pembenahan industri benih jeruk yang sehat. Berbagai pihak senantiasa siap mendukung, termasuk Balitjestro tentunya. (Hnf_2019)

Agenda
Tanggal Kegiatan
Rabu, 16 Oktober 2019 Kunjungan Industri – SMKN 1 Gondang Nganjuk
Rabu, 16 Oktober 2019 Studi Banding oleh Diperta Kab. Tulungagung
Jumat, 15 November 2019 SMA IT Al- Hikmah