Riview Hasil Penelitian Teknologi Pengendalian Organisme Penganggu Tumbuhan Jeruk di Balitjestro dan Aplikasinya di Lapang

(Review on Research Result of Controlling Technology of Citrus Pest and Disease at Indonesian Citrus and Subtropical Fruits Research Institute and Application in the Field)

Prosiding Seminar Nasional Jeruk 2007 Yogyakarta, 13 – 14 Juni 2007, Hal. 408-428

Mutia Erti Dwiastuti dan Agus Muharam
Balai Penelitian Tanaman Jeruk Dan Buah Subtropika
Pusat Penelitian Dan Pengembangan Hortikultura, Jakarta

Abstrak
Organisme penganggu tanaman utama tanaman jeruk tercatat sebanyak 13 macam, menyebabkan penurunan produksi dan kualitas buah. Program Penelitian diarahkan untuk memecahkan permasalahan yang terjadi di lapang. Sampai tahun 2006, telah dihasilkan teknologi pengendalian yang sebagian di antaranya telah diaplikasikan di lapang serta digunakan sebagai rekomendasi. Teknologi produksi bibit jeruk bebas penyakit merupakan terobosan awal untuk mengganti tanaman jeruk yang telah tercemar CVPD. Teknologi produksi bibit bebas penyakit yang ditemukan menggunakan metoda penyambungan tunas pucuk (PTP). Produk bibit jeruk bebas penyakit tersebut telah digunakan sebagai rekomendasi nasional. Saat ini produk bibit telah tersebar di 20 lokasi di 18 propinsi dengan status Blok Fondasi (BF) dan 32 lokasi di 19 propinsi dengan status Blok Pengadaan Mata Tempel (BPMT). Bibit sebar bebas penyakit diprediksi telah tersebar lebih dari 10 juta bibit. Teknologi indeksing (pemeriksaan) penyakit CVPD dan penyakit sistemik lain (CTV, CVEV, CEV, CPsV, CTLV dan CcaV) telah digunakan sebagai rekomendasi nasional dalam menentukan kelayakan BF jeruk sebagai sumber mata tempel bebas penyakit. Teknologi indeksing penyakit jeruk menggunakan metoda Elisa, Immunofluorescence, Polymerase Chain Reaction (PCR) dan tanaman indikator respektif. Teknologi indeksing telah diaplikasikan secara periodik untuk pemeriksaan lebih dari 7000 sampel. Strategi pengendalian di lapang telah disusun dan diperkenalkan sebagai Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS) yang berisi 5 komponen teknologi secara utuh: (1) Bibit berlabel bebas penyakit, (2) Pengendalian vektor CVPD, (3) Sanitasi kebun, (4) Pemeliharaan optimal dan (5) Konsolidasi pengelolaan kebun. Keberhasilan PTKJS telah teruji di beberapa sentra jeruk misalnya di Ponorogo (2002), Sambas (2006) dan Sumatera Utara (2006). PTKJS juga direkomendasikan dalam penyusunan dokumen Good Agriculture Practice (GAP) tanaman jeruk. Teknologi Pengendalian ramah lingkungan telah menghasilkan produk agens hayati parasitoid Tamarixia radiata dan formula entomopatogen Hirsutella citriformis. Teknologi ini mulai diaplikasikan dan disosialisasikan ke beberapa daerah. Teknologi pengendalian burik kusam akibat beberapa OPT sudah mulai mendapat hasil awal pada uji terbatas. Tungau Karat Jeruk (TKJ) dapat dikendalikan dengan bahan nabati mimba 15 g/l (Azadiractin sp), Kaolin, entomopatogen Hirsutella sp, dan Predator Phytoseiidae. Kudis (Spaceloma Fawcetti) dapat dikendalikan dengan antagonis Gliocladium sp. Sementara itu agens hayati potensial untuk mengendalikan kutu sisik adalah entomopatogen Aschersonia sp, Fusarium cocophylum dan predator Halmus chalbeus. Teknologi pengendalian penyakit Diplodia (Botryodiplodia theobromae) secara sederhana dan murah dengan bubur California telah diaplikasikan secara luas dengan tingkat keberhasilan cukup baik. Teknologi pengendalian penyakit busuk pangkal batang dan akar (Phytophthora sp) menghasilkan beberapa alternatif pengendalian, di antaranya menggunakan batang bawah toleran (JC termasuk yang toleran), secara kimia dengan bahan aktif asam fosfit, dengan bahan nabati serbuk daun/bunga cengkeh (Syzyqium aromaticum). Teknologi pengendalian phytophthora belum banyak diaplikasikan di lapang. Sementara itu hama dan penyakit utama lainnya masih perlu diteliti dan merupakan program penelitian di tahun-tahun mendatang.
Kata kunci : CVPD, Tamarixia radiata, Hirsutella citriformis, Spaceloma Fawcetti, Gliocladium sp. Aschersonia sp., Fusarium cocophylum, Halmus chalbeus, Botryodiplodia Theobromae, Phytophthora sp., Syzyqium aromaticum.

Abstract
Citrus major pest and disease recorded were 13 kinds, causing production & fruit quality decrease. Research program directed to solve the problems occurred on field. Until 2006, there has been produced control technology which has been applied on field and used as recommendation as well. Production technology of free disease citrus seed was an early breakthrough to replace the citrus plant infected by greening disease. Production technology of free disease seed uses the shoottip grafting in vitro (STG) method. The free disease citrus seed has been used as national recommendation. Today, seed product has been spread out at 20 locations in 18 provinces with Foundation Block status and 32 locations in 19 provinces with Bud wood Multiplication Block status. It was predicted that 10 millions of free disease seeds have been spread. Indexing technology of greening and other systemic diseases (CTV, CVEV, CEV, CPsV, CTLV and CcaV) have been used as national recommendation in determining feasibility of citrus foundation block as free disease bud wood multiplication source. Citrus disease indexing technology by Elisa, Immunofluorescence, PCR and Respective indicator plant methods. Indexing technology has been applied periodically for observation over 7000 samples. Control strategy has been arranged and introduced as Integrated Management of Healthy Citrus Orchard (IMHCO) consists of 5 technology components (1). Seed with free disease label, (2). Control of greening disease vector, (3). Orchard sanitation, (4). Optimal Rearing, (5). Orchard Management Consolidation. IMCHO success has been tested in several citrus centers such as Ponorogo (2002), Sambas (2006), and North Sumatra (2006). IMCHO was also recommended on document arrangement of good agriculture practice (GAP) of citrus plant. Environmental save control technology has produced biological agents’ product, parasitoid Tamarixia radiata and enthomopathogent formula Hirsutella citriformis. This technology is applied and socialized into several areas. Control technology for russet fruit caused by several pests was began to show early result in limited test. Citrus russet mites can be controlled by botanic agens mimba 15 g/l (Azadiractin sp), Kaolin, entomopathogent Hirsutella sp, and predator Phytoseiidae. Scab (Spaceloma Fawcetti) can be controlled by antagonist Gliocadium sp, while potential biological agents to control scale insect is entomopathogen Aschersonia sp, Fusarium cocophylum and predator Halmus chalbeus. Control technology for diplodia disease (Botryodiplodia theobromae) in simple and cheap way by California mix has been applied extensively with success level is quite good. Control technology for root rot and trunk rot disease (Phytophtora sp) has produced several control alternatives, for example using tolerant rootstock (JC is tolerant), chemically using active material of fosfit acid, and using powder of clove flower/leaf (syzyqium aromaticum). Control technology phytophtora has not been applied widely on field. While other major pest and disease need further research and as research program in upcoming years.
Keywords : CVPD, Tamarixia radiata, Hirsutella citriformis, Spaceloma Fawcetti, Gliocladium sp. Aschersonia sp. Fusarium cocophylum, Halmus chalbeus, Botryodiplodia Theobromae, Phytophthora sp., Syzyqium aromaticum.

Artikel lengkapnya bisa di download disini atau disini

Agenda

no event