Rancang Bangun Agribisnis Apel Kota Wisata Batu

PetaUsulanPengembanganApeldiKotaWisataBatu

Di Kota Batu tanaman apel pada tahun 2000 tercatat ada 3.107.195 pohon  dengan produksi 147.000 ton. Turun pada tahun 2004  jumlah tanaman apel menjadi 2.137.314 pohon dengan produksi 46.000 ton (Dinas Pertanian Kota Batu, 2004). Komoditas ini bagi Kota Batu memiliki peran penting bagi dinamika kesejahteraan dan perekonomian bukan hanya bagi pelaku agribisnisnya tetapi juga masyarakat umum. Perkembangan apel juga menjadi pendorong perkembangan sektor pariwisata karena keindahan tanaman ini juga menjadi magnet yang menarik wisatawan untuk berkunjung ke Kota Batu.

Pada tahun 2006 didatangkan varietas baru batang atas dan batang bawah apel dari Belanda melalui Program  Local Economic Resources Development (LERD) atau Pengembangan Sumberdaya Ekonomi Lokal (PSEL) berbasis apel  yang merupakan kerjasama Pemerintah Kota Batu dengan Bappenas dan Pemerintah Belanda. Selanjutnya pada tahun 2007 dan 2008 dilakukan peremajaan tanaman tua di beberapa lokasi, namun demikian hasil dari kegiatan tersebut pada saat ini masih belum dirasakan pengaruhnya secara nyata terhadap pemecahan masalah agribisnis apel di Kota Batu, karena varietas yang baru diintroduksi belum diketahui keunggulannya dibandingkan dengan varietas yang sudah adaptif (Rome Beauty, Manalagi, dan Anna).  Disamping itu, sebagian bibit untuk peremajaan mutunya kurang baik dan kegiatan peremajaan tanaman tidak diikuti dengan pengawalan teknologi  sehingga perkembangan tanaman di lapangan pada saat ini kurang memuaskan.

Sejak krisis moneter pada tahun 1997, agribisnis apel di Kota Batu mengalami kelesuan dan usaha penanganannya masih bersifat parsial sehingga belum dicapai hasil yang memuaskan.  Secara umum ada empat masalah yang perlu mendapatkan prioritas untuk ditangani selama lima tahun ke depan, yaitu 1) penurunan mutu lahan, 2) harga buah apel yang sangat fluktuatif, 3) akses permodalan bagi petani kecil lebih sulit, dan 4) peran kelembagaan petani belum optimal.

Untuk mempercepat terwujudnya kembali kejayaan apel di Kota Batu yang lestari diperlukan rancang bangun yang terpadu dan terarah selama lima tahun kedepan berdasarkan pada penyelesaian masalah utama disertai dengan antisipasi terhadap perubahan lingkungan strategis yang sedang dan akan.

Rancang Bangun Pengembangan Agribisnis Apel di Kota Batu terdiri atas 3 program utama yang dijabarkan dalam beberapa bentuk kegiatan. Adapun programnya : 1) Penghambatan Laju Degradasi dan Perbaikan Mutu Lahan 2) Pengawalan Teknologi dan Penelitian Budidaya Apel Ramah Lingkungan, dan 3) Pembentukan dan Penguatan Kelembagaan Agribisnis Apel. Kegiatannya meliputi a) penerapan teknologi konservasi lahan, b) memasukkan ternak dalam usahatani apel, c) pengandaan fasilitas pengolah pupuk organik, d) perluasan kawasan sentra produksi, e) pengawalan teknologi budidaya di tingkat kelompok tani, f) penelitian budidaya apel ramah lingkungan, g) pembangunan Klinik Agribisnis Apel, h) pembentukan koperasi di tingkat kelompok tani apel, i) pelatihan bagi penyuluh/petugas pendamping petani apel, j) peningkatan pembinaan kelompok tani, dan k) pembentukan dan pembinaan kelembagaan pengolahan apel.

Dukungan kebijakan pemerintah yang diharapkan meliputi : a) penetapan harga pokok apel di tingkat petani, b) himbauan agar institusi lingkup Pemkot Batu dan Hotel di wilayah Batu menjadikan buah apel sebagi sajian “selamat datang” (Well come fruit) bagi tamunya, dan c) mewajiban bagi super market di wilayah Kota Batu menjual buah apel Batu dan mendisplay sebanyak 10% dari seluruh buah yang di display dengan perlakuan yang sama dengan buah impor. [Tim Peneliti Apel | Balitjestro]

 

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event