Prospek Pengembangan Varietas-varietas Unggul Anggur di Daerah Sentra Produksi

ABSTRAK

[cml_media_alt id='1141']Anggur BS 89[/cml_media_alt]Anggur merupakan tanaman asli Eropa dan Asia Tengah yang kini sudah ditanam di berbagai belahan bumi, termasuk di Indonesia. Untuk memenuhi kekurangan konsumsi dalam negeri Indonesia masih    impor,  yang dari sisi volume menduduki ranking kelima terbesar sesudah apel, jeruk, pear dan kurma. Tetapi dari sisi nilai, menduduki tempat keempat. Pada saat ini banyak kita jumpai buah anggur impor yang membanjiri  supermaket, swalayan  dan pasar tradisional diseluruh pelosok tanah  air, mulai yang berwarna merah, hijau dan ungu dengan kisaran harga yang tinggi antara  Rp.30.000,- Rp.60.000/kg.  Sedangkan buah anggur dalam negeri lebih murah dengan harga berkisar Rp 15.000,– Rp 25.000, dengan kualitas setara. Padahal tanaman anggur ini sudah beradaptasi baik dilingkungan tropika Indonesia terutama varietas –varietas  unggul yang telah dilepas Menteri Pertanian, diantaranya:  Bali, Kediri Kuning, Probolinggo Super, Probolinggo Biru, Prabu Bestari, Jestro Ag60 dan Jestro Ag86.   Sedangkan potensi tanaman anggur di Indonesia yang telah terkelola  masih 50% diantaranya :  untuk wilayah Klaten potensi pengembangan 18,4 ha, luas pertanaman anggur 21,5 ha.  Kediri potensi pengembangan  110 ha   yang terkelola masih  9.805 ha,  Kota  Probolinggo  dengan potensi 1.099,2 ha yang terkelola masih 9,24 ha, Kabupaten Situbondo  potensi pengembangan  3.589 ha yang terkelola 3,1 ha,   Palu dengan potensi 325 ha masih terkelola 0,25 sedang untuk Buleleng  potensi 936 ha sudah terkelola 808 ha.

Kata kunci :   potensi pengembangan, sentra produksi, varietas unggul.

PENDAHULUAN

Anggur merupakan tanaman asli Eropa dan Asia Tengah yang kini sudah ditanam di berbagai belahan bumi, termasuk di tanah air. Manfaat anggur bagi kesehatan telah didukung banyak peneliti, yaitu mampu menyehatkan jantung, terutama karena kandungan flavonoid, resveratrol, serta polifenolat. Pada simposium internasional mengenai efek kesehatan dari buah-buahan dan sayuran, para ahli menunjukkan konsumsi anggur bisa meningkatkan fungsi jantung, mencegah pembesaran hati dan ginjal, serta mengurangi kerusakan oksidatif pada jantung dan ginjal.

Anggur adalah buah impor yang dari sisi volume menduduki ranking kelima terbesar sesudah apel, jeruk, pear dan kurma. Tetapi dari sisi nilai, rankingnya menduduki tempat keempat. Sebab harga anggur lebih tinggi dibanding kurma. Buah yang berasal dari lembah di antara sungai Tigris dan Eufrat ini sudah dibudidayakan oleh manusia sekitar 4.000 tahun SM.

Dewasa ini dengan mudahnya kita dapat menemui buah anggur impor di supermarket, pasar tradisional, toko buah dan kios buah di sepanjang jalan. mulai yang berwarna  merah, hijau  dan ungu   dengan  kisaran harga yang tinggi antara  Rp.30.000,- Rp.60.000/kg.  Sebagai pembanding  buah anggur produksi dalam negeri yang harganya berkisar  Rp. 15.000,-Rp.25.000,-.  Melihat perkembangan impor yang begitu pesat menjadi pertanyaan buat kita apakah Indonesia tidak mampu menghasilkan anggur seperti anggur impor? Sebenarnya anggur dapat ditanam di Indonesia pada beberapa daerah yang memiliki kesesuaian syarat tumbuh. Bila kita menanam anggur varietas unggul di tempat yang sesuai dan budidaya yang baik, bukannya tidak mungkin kita dapat menghasilkan buah anggur yang dapat menyaingi buah impor.

Indonesia sebenarnya juga punya koleksi puluhan jenis anggur, baik untuk buah segar, wine maupun kismis. Kebun koleksi anggur itu berlokasi di Banjarsari, Pasuruan. Jadi pengembangan buah ini sebenarnya sangat strategis. Sumber bibitnya ada, agroklimatnya mendukung, pasarnya juga ada. Paling tidak untuk subtitusi anggur impor. dibandingkan dengan kawasan sub tropis, Indonesia sebagai negeri tropis sebenarnya juga punya beberapa keunggulan, disamping beberapa kelemahannya. Produktifitas anggur di kawasan tropis, lebih rendah dibanding dengan kawasan sub tropis. Kalau di kawasan sub tropis hasil optimal anggur bisa mencapai 20 ton per hektar per tahun, maka di negeri kita hanya separonya. Tetapi panen anggur di kawasan sub tropis hanya bisa sekali dalam setahun. Di negeri kita bisa hampir tiga kali, bahkan saat panennya pun bisa kita atur sepanjang tahun.

Kalau umur panen anggur 105 hari semenjak pemangkasan daun, maka dalam setahun (365 hari) logikanya bisa panen 3 kali. Namun anggur menuntut masa istirahat 20 hari setelah habis panen sampai saat pemangkasan. Hingga total dalam 375 hari (setahun lebih 10 hari) kita akan panen anggur sebanyak tiga kali. Jadi kalau kita menghitung produktifitas per hektar per musim tanam, kita kalah dengan negeri sub tropis. Tetapi kalau kita menghitung tingkat produktifitas per hektar per tahun, maka anggur kita lebih produktif. Sebab dalam tenggang waktu 375 hari tersebut, rata-rata kita akan menghasilkan 30 ton anggur dalam tiga kali panen. Dengan catatan lahan yang kita tanami anggur merupakan lahan berpengairan teknis. Bisa berupa sawah atau lahan kering yang diberi sarana pengairan baik. Aplikasi pemupukan, baik organik maupun anorganik juga harus cukup. Sebab kalau tidak, tingkat produktifitasnya akan terus menurun hingga kurang dari 10 ton per hektar per musim panen.

Investasi minimal untuk membuka kebun anggur, per hektarnya bisa mencapai Rp 150.000.000,- Alokasi dana terbesar untuk membangun para-para (bisa juga pagar untuk sistem knifin), untuk sarana pengairan, pagar kebun dan bangunan serta jalan kebun. Untuk bibit dan penanamannya sendiri tidak terlalu mahal. Beda dengan buah-buahan tanaman keras lainya seperti mangga atau durian yang memerlukan skala minimal 10 hektar, anggur cukup dengan skala minimal 2 hektar untuk tujuan komersial. Para petani di Kediri yang hanya memanfaatkan pekarangan rumahnya sebagai “kebun anggur” tidak bisa disebut sebagai berskala komersial. Dengan bibit dan perawatan yang baik, dalam waktu 2,5 tahun anggur sudah mulai berproduksi. Dengan hasil optimal 10 ton, dengan harga jual di tingkat petani Rp 4.000,- per kg. maka akan diperoleh hasil kotor Rp 40.000.000,- sekali panen atau Rp 120.000.000,- dalam waktu 375 hari (1 tahun 10 hari). Namun keuntungan bersihnya masih harus dikurangi biaya operasional dan penyusutan.

Biaya operasional terbesar adalah untuk tenaga kerja dan pupuk. Untuk menghasilkan 10 ton buah per panen, diperlukan pupuk organik 5 ton (1 truk besar) per hektar. Pupuk kimianya meliputi ZA, Sp, KCL, NPK dan berbagai unsur mikro sampai sekitar 1 ton. Masih diperlukan pula Zat Perangsang Tumbuh (hormon tanaman) dan pestisida, terutama insektisida, fungisida dan bakterisida. Total biaya operasional termasuk untuk paking buah, bisa mencapai Rp 20.000.000,- per musim tanam. Hingga hasil bersihnya hanya sekitar Rp 20.000.000,-per panen. Kalau dana yang kita gunakan merupakan pinjaman komersial dengan grace period 3 tahun, dan masa pengembalian 5 tahun maka hasil bersih tadi masih akan dipotong untuk membayar cicilan dan bunga pinjaman. Tetapi secara kasar, menanam anggur untuk dipasarkan sebagai buah segar cukup menguntungkan. Sebab semakin tua umur tanaman, tingkat produktifitasnya akan semakin tinggi.

[cml_media_alt id='1142']poster koleksi anggur tropika indo[/cml_media_alt]VARIETAS-VARIETAS UNGGUL ANGGUR INDONESIA

Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika mempunyai koleksi anggur di Kebun Percobaan Banjarsari  sebanyak 42 asesi dan 7 diantaranya telah dilepas sebagai varietas anggur unggul. Ketujuh  varietas tersebut adalah anggur Probolinggo Biru-81, Bali, Kediri Kuning, Probolinggo Super, dan  pada tahun 2007, 2008  Prabu Bestari, Jestro Ag60 dan Jestro Ag86 telah dilepas sebagai anggur varietas unggul yang mempunyai kualitas buah seperti anggur impor (Andrini Anis, Budiyati E, 2007,2008).

Dari ketujuh varietas unggul tersebut mempunyai keunggulan masing-masing seperti  rasa buah anggur Prabu Bestari ini tak kalah manis dengan anggur impor dengan kadar gula berkisar 20% dengan sedikit rasa asam (1,9%) sehingga buah terasa manis segar apalagi  kadar airnya yang tinggi (± 47,77%).  Selain dari segi rasa, kandungan vitamin C buah anggur ini cukup tinggi, berkisar 23,33 mg/100 gram bahan dan kulit buah anggur yang berwarna merah mempunyai potensi kandungan resveratrol yang mencapai 1,5 – 3 mg/liter. Zat resveratrol berfungsi mencegah penggumpalan darah, obat kanker dan mencegah penyakit jantung (Rukmana, 1999).

Kita sebenarnya telah memiliki varietas anggur unggulan yang berwarna ungu yaitu anggur Bali dan anggur Probolinggo Biru -81,  Meskipun Anggur Jestro Ag60 juga berwarna ungu tua, anggur ini mempunyai kelebihan yang tidak dipunyai varietas unggul yang lain,  yaitu manis segar dan  seedless. ( Budiyati.E, Andsrini A, 2008).  Anggur Jestro Ag60 akan masak pada umur 90-100 hari setelah pangkas pembuahan,  dengan ciri-ciri warna buah ungu kehitaman dan bila dipijat  sudah lunak.  Anggur Jestro Ag86  mempunyai rasa  manis segar dan beraroma wangi saat buah dikunyah   dan secara  umum Anggur Jestro Ag86 bisa dipanen pada umur 90 – 100 hari setelah pangkas pembuahan,  dengan ciri buah masak bila kulit buah berwarna kuning kehijauan sedikit transparan sehingga tampak bayangan biji anggur dan buah sudah lunak (Andrini A, Budiyati E, 2008).

Nama Varietas sebelum dilepas, Nama Setelah dilepas, Nomor SK Menteri

  1. BS 85/Cardinal, Probolinggo Super, SK Mentan No.104/Kpts/TP.240/3/2000 tanggal 27 Maret 2002
  2. BS 88/Belgi, Kediri Kuning, SK Mentan No.361/Kpts/LB.240/6/2004 tanggal 2 Juni 2004
  3. BS 6, Bali, SK Mentan No.361/Kpts/LB.240/6/2004 tanggal 2 Juni 2004
  4. BS 4, Probolinggo Biru 81, SK Mentan No.361/Kpts/LB.240/6/2004 tanggal 2 Juni 2004
  5. BS 89/Red Prince, Prabu Bestari, SK Mentan No 600/Kpts/Sar.120/11/20072 tanggal 7 Nopember 2007
  6. BS 60/MS27-3,Jestro Ag60, SK Mentan No.1745/Kpts/Sar.120/12/2008  tanggal 22 Desember  2008
  7. BS 86/Muscatto D’Adaa, Jestro Ag86, SK Mentan No 1755/Kpts/Sar.120/11/20072 tanggal 22 Desember  2008

 

Oleh: Emi Budiyati
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Related Post

Tinggalkan Balasan