Proses Perkembangan Buah dan Biji Lengkeng Pingpong (Dimocarpus Longan Lour)

Masyarakat mulai mengenal lengkeng dataran rendah pada tahun 2000 dengan varietas yang muncul pertama kali adalah pingpong, diamond river dan itoh. Stake holder bidang pertanian tertarik dengan hal ini disebabkan lengkeng yang dikenal sebelumnya hanya bisa berbuah di dataran tinggi ternyata ada yang berbuah di dataran rendah dengan umur genjah. Dinas pertanian, swasta dan petani dengan antusias mulai mengembangkan lengkeng jenis ini.

Salah satu varietas yang berkembang secara cepat adalah pingpong, disebut demikian karena buahnya sebesar bola tenis meja/pingpong. Varietas ini hasil introduksi dari Thailand. Karakter yang paling mudah diketahui dari lengkeng jenis ini adalah daunnya yang kecil dan menggulung. Selain buahnya yang besar, lengkeng pingpong mempunyai keunggulan yaitu cepat berbuah, berbunga sepanjang tahun, rasanya sangat manis, warna buah yang lebih cerah dibandingkan dengan lengkeng lokal dan pemeliharaannya mudah. Dengan keunggulan karakter yang dimiliki tersebut maka banyak petani mulai menanam lengkeng jenis ini, ada yang di pot dan ada yang di lahan secara luas.

[cml_media_alt id='1259']Pingpong[/cml_media_alt]
Gambar 1. Karakter lengkeng pingpong ; (a) daun, (b) bunga dan (c) buah
Seiring berjalannya waktu ternyata lengkeng pingpong juga mempunyai kelemahan yaitu biji yang besar, daging buahnya lunak dan kadar air tinggi serta lengket. Oleh karena itu konsumen kurang menyukai lengkeng jenis ini sebagai buah meja sehingga pedagang tidak bersedia menjual. Hal ini mengakibatkan petani lengkeng pingpong merugi. Setelah dilakukan penelitian diketahui bahwa penyebab biji yang besar adalah pada proses morfologis perkembangan biji lengkeng. Sedangkan daging buah yang sangat berair dan lengket disebabkan karena kadar gula yang tinggi.

Perkembangan buah lengkeng pingpong mempunyai pola sigmoid yang berlangsung selama 110 hari setelah anthesis (HSA). Permulaan pertumbuhan dan perkembangan buah dimulai dengan fertilisasi disebut dengan fruit set. Pada lengkeng pingpong, bagian buah yang pertama kali terbentuk adalah kulit buah, cairan endosperm dan kulit biji pada saat 10 HSA (Gambar 2), tetapi karena buah sangat kecil sekali yaitu 0,0038 gr (Tabel 1.) sehingga antara kulit buah dan kulit biji tidak bisa dipisahkan untuk diamati.

[cml_media_alt id='1260']Perkembangan Buah Lengkeng Pingpong - Balitjestro[/cml_media_alt]

Tabel 1. Data hasil pengamatan perkembangan buah dan biji lengkeng pingpong

[cml_media_alt id='1261']Perkembangan buah dan biji lengkeng pingpong[/cml_media_alt]

Komponen biji yang terbentuk pertama kali adalah kulit biji pada waktu 20 hari setelah anthesis. Kulit biji pada awalnya berisi cairan yang disebut dengan cairan endosperm. Setelah 40 hari setelah anthesis mulai terbentuk embrio. Embrio yang terbentuk dicirikan berbentuk hati yang terdiri dari dua keping kotiledon. Setelah itu embrio berkembang cepat dan mengisi penuh kulit biji pada saat 60 hari setelah anthesis sedangkan endosperm menghilang.

[cml_media_alt id='1262']Grafik perkembangan berat buah, berat biji dan berat daging buah Lengkeng Pingpong[/cml_media_alt]

Sementara itu bagian buah yang lain yaitu daging buah mulai terbentuk pada saat 50 hari setelah anthesis dan sempurna menyelimuti biji pada 80 HSA. Oleh karena biji terbentuk sempurna mendahului daging buah maka perkembangan biji cepat setelah 60 HSA sampai 80 HSA (gambar 3). Daging buah yang sudah terbentuk sempurna mampu menekan perkembangan biji setelah 80 HSA (gambar 3). Setelah terbentuk sempurna, daging buah berkembang cepat sampai mengalami stagnan pada 100 HSA. Dan total padatan terlarut juga mengalami peningkatan cepat setelah 80 HSA dan melambat setelah 100 HSA (Tabel 1). Ketika perkembangan buah sudah mulai melambat merupakan salah satu ciri bahwa buah sudah mulai masak, ciri yang lain adalah menimbulkan bau lengkeng, kulit halus dan berwarna coklat merata.

Data pada saat buah masak menunjukkan bahwa daging buah mempunyai berat 11,3188 dan ketebalan 5,8950 mm, biji lengkeng mempunyai berat 3,5688 g dan diameter 15,37 mm. Lengkeng lokal hanya mempunyai rata-rata tebal daging buah 2-4 mm dan diameter biji 10,3-13,2 mm. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya daging buah lebih tebal dan berat, jika dibandingkan lengkeng lokal namun bijinya juga lebih besar. Biji yang sangat besar inilah salah satu penyebab konsumen kurang menyukai walaupun daging buahnya tebal.

Dengan karakter yang dimiliki lengkeng pingpong tersebut, baik keunggulan maupun kelemahannya maka lengkeng jenis ini merupakan plasma nutfah yang cocok sebagai tabulampot. Selain itu, lengkeng ini juga merupakan materi genetik yang bisa digunakan bagi para pemulia sebagai tetua untuk melakukan persilangan dengan jenis lain agar ditemukan varietas baru hasil persilangan.

sumber : Tulisan diolah dari Prosiding ICTH Jogja 2013

Oleh: Buyung Al Fanshuri
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Related Post

Tinggalkan Balasan