Produksi dan Distribusi Materi BF dan BPMT Jeruk dan Buah Subtropika

[cml_media_alt id='1014']DistribusiBenihBPMTseIndonesia[/cml_media_alt]

Pemintaan terhadap materi BF dan BPMT, terutama untuk tanaman jeruk bebas penyakit meningkat terus dari berbagai Propinsi dimana pada tahun 2009 materi BF dari 4 Propinsi sebanyak 95 pohon dan materi BPMT sebanyak 1.500 pohon, pada tahun 2010 permintaan meningkat menjadi 8 Propinsi untuk materi BPMT sebanyak 387 pohon dan materi BPMT sebanyak 1.440 pohon. Pada tahun 2011 permintaan BF meningkat lagi menjadi 9 Propinsi sebanyak 266 pohon dan permintaan materi BPMT menjadi 12 Propinsi sebanyak 4.524 pohon. Pada tahun 2012  meningkat menjadi 14 propinsi dengan jumah pesanan sebanyak 6841 pohon benih sumber jeruk (Suhariyono at all, 2012).

Peningkatan  materi benih sumber jeruk bebas penyakit kelas benih BF dan BPMT pada 3 tahun terakhir ini sebagai indikator peningkatan pengembangan tanaman jeruk di Indonesia yang sikron dengan program direktorat jendral tanaman hortikultura dalam pengembangan tanaman jeruk. Proyeksi kebutuhan benih jeruk sampai tahun 2020 berdasarkan program dari direktorat teknis adalah sekitar 12 juta benih jeruk untuk beberapa varietas komersial (Supriyanto et all.,2007; Sugiyatno, 2009).

Proses pembuatan benih jeruk bebas penyakit secara normal dan optimal memerlukan waktu 14 bulan sejak semai batang bawah sampai benih siap siar, dimulai dengan menyemaikan benih JC kemudian transplanting ke dalam polybag sampai siap diokulasi memerlukan waktu 7 bulan. Sejak batang bawah JC diokulasi sampai benih layak siap siar dengan ditandai benih jeruk telah mengalami 2-3 pertunasan/ flush memerlukan waktu 7 bulan (Hardiyanto at all, 2010).

[cml_media_alt id='1016']BPMTjerukKPtlekungBalitjestro[/cml_media_alt]

Berdasarkan keberadaan pohon induk jeruk BPMT yang sudah tersebar dan apabila alur proses produksi benih jeruk bebas penyakit berjalan sesuai dengan tahapannya, maka mulai tahun 2005-2010 potensi pohon induk BPMT tersebut sebagai sumber mata tempel untuk menghasilkan benih sebar minimal sebanyak 28.414.250 (dua puluh delapan juta empat ratus empat belas ribu dua ratus lima puluh) tanaman, dengan perhitungan pada tahun I, satu induk BPMT akan menghasilkan 250 mata tempel, tahun II menghasilkan 500 mata tempel dan tahun ke tiga dan seterusnya menghasilkan 750 mata tempel . Perhitungan ini mengesampingkan keberadaan BF karena BF ini apabila diturunkan bisa menjadi BPMT yang merupakan sumber mata tempel.

Dari 28.414.250 tanaman yang ada, jika ditanam dalam 1 ha lahan yang berisi 500 tanaman maka total terdapat luasan tanaman jeruk sebesar 56.828,5 ha.  Luasan ini dapat bertambah apabila digabungkan data di tingkat petani yang menangkar sendiri benih jeruknya, baik mengikuti alur produksi benih jeruk yang benar maupun tidak (Sugiyatno at all, 2011) . Hasil evaluasi di lapang  dijumpai beberapa masalah diantaranya dalam menyiapakan pohon iduk bebas penyakit yang melalui tahapan STG dan Regrafting memerlukan waktu 10-14 bulan, dan indeksing dengan menggunakan tanaman indikator memerlukan waktu 3 – 6 bulan, kemudian masalah pengelolaan BF dan BPMT di berbagai propinsi juga bervariasi maka perlu adanya  asistensi, monitoring dan evaluasi terhadap  pengelolaan BF dan BPMT di berapa Propinsi sentra produksi jeruk

Dasar Pertimbangan

  1. Balai Peneltian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika adalah satu-satunya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang bertanggungjawab dalam memproduksi dan mendistribusikan pohon induk bebas penyakit dalam rangka pengembangan agribisnis jeruk di Indonesia, 3 tahun terakhir ini  permintaan materi BF dan BPMT jeruk terus meningkat terkait dengan program pengembangan jeruk dan perluasan areal jeruk serta kawasan hortikultura. Oleh karena itu kebutuhan benih jeruk bebas penyakit harus didukukung dengan ketersediaan benih sumber baik berupa kelas benih BF maupun BPMT yang mencukupi. Materi BF dan BPMT jeruk didapat dari beberapa tahapan penting antara lain Shoot Tip Grafting (STG) serta multiplikasinya.
  2. Sampai tahun 2013 BF sudah tersebar di 20 Propinsi dan BPMT sudah tersebar di 24 Propinsi se-Indonesia dimana pengelolaannya bervariasi antar propinsi. Faktor lain yang mendukung keberhasilan pengelolaan BF dan BPMT adalah Sumber Daya Manusia (SDM). Dimana pengelola BF dan BPMT harus menguasai teknik pengelolaannya sesuai standar baku pengelolaan BF dan BPMT yang berlaku di Indonesia. Masalah di lapang sering terjadi petugas pengelola BF dan BPMT berganti- ganti personil, dan mereka kurang mengetahui wawasan tentang proses penyediaan benih jeruk bebas penyakit khususnya dalam pengelolaan BF dan BPMT. Oleh karena itu perlu adanya asistensi, evaluasi dan monitoring  perlu dilakukan terhadap pengelolaan BF dan BPMT di berbagai Propinsi  sehingga dapat  mengetahui tingkat respon dari teknologi yang telah diberikan .

Perkiraan Manfaat dan Dampak

  1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas benih tanaman jeruk  dan meminimumkan resiko penyebaran penyakit sistemik tular benih
  2. Produksi BF dan BPMT jeruk bebas penyakit dari Balitjestro sampai  tahun 2013 telah didistribusi ke 20 Propinsi untuk BF dan 24 Propinsi untuk  BPMT di Indonesia mempunyai peran strategis karena akan digunakan untuk memproduksi benih  jeruk bebas penyakit oleh penangkar dan petani. Dengan adanya BF dan BPMT di masing – masing propinsi tersebut diharapkan berdampak terhadap pemenuhan kebutuhan benih bermutu yang dapat terpenuhi sendiri oleh pemerintah daerah dan pihak swasta atau penangkar.

Tinggalkan Balasan