Renstra

Potensi dan peluang pembangunan agroindustri jeruk dan buah subtropika pada lima tahun ke depan menunjukkan prospek yang perlu dikembangkan, meskipun di sisi lain diperkirakan juga semakin rumit dan kompleks. Kompleksitas ini terkait dengan dinamika lingkungan strategis regional, nasional, internasional maupun global, yang akan melahirkan tantangan dan ancaman.

Hasil analisis SWOT mengidentifikasi potensi beberapa faktor kekuatan dalam pembangunan agroindustri jeruk dan buah subtropika, antara lain: 1) kekayaan plasma nutfah jeruk dengan berbagai keunggulan karakternya yang sebagian besar telah terdiskripsi, 2) ketersediaan varietas unggul yang mempunyai nilai komersial tinggi, 3) Persediaan benih bermutu jeruk bebas penyakit dan buah subtropika, 4) ketersediaan inovasi teknologi budidaya efisien, 5) periode ketersediaan buah yang cukup panjang terkait dengan keragaman AEZ sentra pengembangan, dan 6) dukungan kebijakan pemerintah berupa peraturan, UU, KepMentan, KepMenkeu (Perbankan), RUU Hortikultura.

Diantara faktor-faktor yang diidentifikasi sebagai kelemahan adalah: 1) kualitas yang tidak konsisten dan tuntutan kualitas produk untuk pasar domestik yang semakin meningkat, 2) skala usaha di tingkat petani yang sempit, terpencar, varietas beragam, 3) lemah dan kurangnya sistem kordinasi dan kompetensi petani dalam pemasaran dan pengembangan pasar.

Terdapat enam faktor yang dipertimbangkan sebagai peluang, yaitu: 1) ketersediaan lahan yang cukup luas terkait dengan potensi pengembangan areal baru  guna memenuhi permintaan pasar, 2) tersedianya kawasan hortikultura yang tersebar di 15 propinsi, 3) periode produksi yang cukup panjang dalam satu tahun dalam asosiasinya dengan pasar, 4) tenaga kerja yang tersedia cukup berlimpah, 5) tersedianya lahan sub optimal yang cukup luas di luar pulau Jawa, berpotensi bagi pengembangan areal baru.  6) tersedianya pasar domestik yang cukup potensial dan semakin meningkat, 7) permintaan cukup tinggi pada bulan-bulan tertentu (Oktober-Januari) khususnya untuk pasar Asia.

Sementara ancaman yang perlu dipertimbang-kan terkait dengan: 1) kompetisi dan impor jeruk dan buah subtropika dari luar negeri, 2) perubahan iklim global yang semakin ekstrim menuntut ketersediaan teknologi spesifik lokasi/varietas, dan 3) ketersediaan sumber daya alam yang semakin terbatas, dan 4) globalisasi ekonomi dan perdagangan, khususnya berlakunya ACFTA.

Peluang ke depan yang paling menonjol bagi Balitjestro terkait dengan kebijakan strategis regional adalah semakin meningkatnya  perhatian Pemerintah Daerah  terhadap kemajuan pembangunan pertanian di wilayah masing-masing seiring dengan program otonomi dan pemekaran daerah. Hal  ini memberi peluang bagi upaya  peningkatan peran dan kerjasama yang lebih intensif baik dengan Pemda maupun stakeholder lainnya. Satu hal  lain yang turut  mempercepat  proses produksi  dan distribusi inovasi   pertanian yang tepat sasaran adalah pesatnya perkembangan teknolog informasi.