Profil Keprok Batu 55 dan Keprok SoE

Keprok Soe dari NTT - Badan Litbang PertanianPresiden SBY membuka Penas XIV Petani Nelayan dengan menekan tombol sirene. SBY beserta Ibu Negara Ani Yudhoyono kemudian meninjau gelar teknologi dan sumber daya genetik pertanian yang didukung penuh oleh Badan Litbang Pertanian. Di saung Agro Inovasi, SBY memanen jeruk  keprok Batu 55 dan keprok So’E. Setelah memetik dari pohon, Presiden dan Ibu Negara langsung mencicipi jeruk tersebut dan mengangkat jempol tanda rasanya yang nikmat.

Keprok Batu 55 yang berasal dari Batu Jawa TImur dan Keprok So’E yang berasal dari NTT memang menjadi primadona karena tampilannya yang menarik dan disukai banyak konsumen. TIdak kalah dengan jeruk impor, bahkan justru menang karena kesegarannya.

Presiden SBY menginstruksikan agar dua jenis jeruk yang dicicipinya dikembangkan lebih serius agar bersaing dengan jeruk impor. Peluang pengembangan mem ang masih terbuka luas, Badan Litbang Pertanian bersama Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian dalam beberapa tahun terakhir ini selalu mengalokasikan anggaran besar untuk kawasan hortikultura, salah satunya jeruk. Namun memang permasalahan di daerah yang kompleks, perlu segera dicari jalan keluarnya.

Profil singkat Jeruk Keprok Batu 55 dan Keprok So’E

Bulan Mei-Juli adalah masa panen jeruk Keprok Batu 55. Jika kita mengelilingi daerah lokasi tanam yaitu di daerah Dusun Selokerto, Selorejo Kecamatan Dau Kabupaten Malang dan Kota Batu dapat dengan mudah kita jumpai hamparan Keprok Batu 55 menguning dan beberapa sudah dipanen. Harga yang kompetitif yaitu kisaran Rp 10.000,- sampai 15.000,- (bankan di tempat wisata seperti Selecta mencapai Rp 25.000,-) membuat petani tergiur menanamnya bahkan tidak sedikit yang mengganti varietas Manis Pacitan yang harganya Rp 3500,- dengan Keprok Batu 55 ini.

Lokasi tanam Keprok Batu 55 saat ini masih di sekitar Batu dan Kecamatan Dau Kabupaten Malang dengan luas sekitar 200 hektar. Jeruk ini memang menjadi andalan karena rasanya manis, sedikit masam dan segar dengan tingkat kemanisan 10-12o brix, bentuk buahnya bulat, ukuran sedang, warna kulit buah kuning oranye, warna daging buah oranye, dengan produktifitas 40-60 kg/pohon/tahun. Area pengembangan keprok batu 55 di dataran tinggi 700-1200 m dpl. Varietas ini dilepas tahun 2006.

Jeruk keprok SoE merupakan salah satu varietas jeruk  lokal,  komersial unggulan  Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang  kualias  buahnya  tidak kalah dibanding dengan jeruk  keprok lain yang telah berkembang di Indonesia, seperti keprok Batu 55, Tawangmangu, Chinakonde, Garut, Madura, Tejakula dan lainnya. Jeruk keprok ini memiliki rasa manis sedikit asam,  ukuran buah sedang, Warna daging buah oranye, Warna kulit buah kuning-oranye kemerahan, kandungan vitamin C, 31.20 mg/100 gr dan tumbuh di dataran tinggi  (900-1200 m d.p.l) [zh/balitjestro]

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event