Produksi dan Distribusi BF dan BPMT

[cml_media_alt id='1710']JerukBerlabel[/cml_media_alt]Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian menempati posisi strategis dalam  industri perbenihan nasional, karena benih sumber yang dihasilkan akan menjadi sumber bagi produksi benih yang di tanam petani.

Sistem produksi dan distribusi benih jeruk bebas penyakit mengikuti pentahapan awal seleksi Pohon Induk Tunggal, diikuti dengan pembersihan dari patogen sistemik melalui kultur shoot-tip (STG) dan indeksing untuk mengetahui keberadaan pathogen penyebab penyakit termasuk penyebab penyakit CVPD yang semuanya dilaksanakan di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Distribusi selanjutnya oleh pihak pengembangan mengikuti alur Blok Fondasi (BF) – Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) – Blok Penggandaan Benih Komersial atau para penangkar benih hingga benih berlabel biru diterima petani. BPSB akan mengawasi  setiap tahapan penting proses produksi, dan  jika dinyatakan lulus, benih yang dihasilkan berhak diberi label biru.

Hingga kini, 19 provinsi telah membangun BF dan 21 provinsi telah memiliki BPMT untuk menghasilkan benih jeruk bebas penyakit unggulan daerah.  Berdasarkan pengamatan di lapang, dijumpai adanya keragaman pengelolaan BF dan BPMT berikut permasalahan teknis dan non teknis yang dihadapi oleh para pengelola perbenihan jeruk dan penangkar di daerah.

Koordinasi dan sinergisme pelaku perbenihan dari tingkat pusat hingga daerah, karena alasan yang belum bisa dipahami sepenuhnya terbukti sulit dilaksanakan secara dengan baik. Akibatnya, pengembangan agribisnis jeruk di Indonesia yang berdaya saing tinggi dan  keberlajutan   belum sepenuhnya didukung oleh industri perbenihan.

[cml_media_alt id='1711']ScreenBF_BPMT[/cml_media_alt]
Gambar. Screen BF dan BPMT di Kebun Percobaan Punten

Pohon induk jeruk bebas penyakit dklasifikasikan sebagai (1) Benih penjenis/(Breeder seed) adalah klasifikasi benih paling awal yang biasanya dihasilkan dan dalam pengawasan pemulia tanaman yang menseleksi atau merakit varietas tersebut, (2) Benih dasar / Blok Fondasi (Foundation Seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih sumber, dan  (3) Benih pokok / Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT/Stock seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih dasar. Sedangkan benih jeruk yang diproduksi di Blok Penggandaan Mata Tempel oleh penangkar berdasarkan regulasi pengawasan dan sertifikasi benih merupakan benih sebar jeruk untuk petani.

Alur proses produksi pohon induk jeruk bebas penyakit yang merupakan alur proses regulasi benih jeruk bebas penyakit yang diakui secara nasional sehingga dalam penangkaran benih jeruk bebas penyakit harus mengacu pada proses ini. Sebelum di sebar ke petani, suatu calon varietas harus ditentukan Pohon Induk Tunggalnya, kemudian dari pohon induk yang terpilih diambil materi untuk perbanyakan atau benih keturunannya untuk dilakukan “pembersihan” dari patogen sistemik penyakit jeruk di laboratorium dengnan menggunakan teknik Penyambungan Tunas Pucuk (PTP) atau Shoot Tip Grafting (STG).

[cml_media_alt id='1709']Alur_Proses_Produksi_Pohon_Induk_Jeruk_BPMT[/cml_media_alt]
Gambar. Alur  proses  produksi  pohon  induk  (benih  penjenis) dan  distribusi  bibit  jeruk  bebas  penyakit

Prinsip dasar dari teknik ini, adalah menyambungkan jaringan meristem paling ujung tunas jeruk pada varietas tertentu dengan batang bawah yang telah dipersiapkan sebelumnya. Alasannya, patogen sistemik yang telah ada pada jaringan tanaman pohon induk belum sampai pada bagian ujung tunasnya sehingga akan diperoleh individu tanaman hasil penyambungan secara in vitro yang bebas dari patogen sistemik.

Untuk memastikan bebas tidaknya dari patogen sistemik maka benih harus dilakukan indeksing  dengan menggunakan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) atau Eliza. Setelah dinyatakan bebas, maka benh tersebut menjadi Pohon Induk (PI) sebagai duplikat dari PIT. Dari PI ini dapat diturunkan menjadi BF, diturunkan lagi menjadi BPMT sampai menjadi benih sebar yang siap di tanam di lapang. Proses menghasilkan BF sampai menjadi benih sebar ini mendapat pengawasan secara ketat dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB).

Syarat benih BF dan BPMT yang siap kirim adalah;

  1. Diameter batang bawah 0,6-1,2 cm
  2. Umur dari okulaso 5-6 bulan
  3. Tinggi benih 40-70 cm dari okulasi
  4. Telah mengalami 2 kali masa pertumbuhan tunas
  5. Berlabel bebas penyakit dari BPSB (label putih untuk BF dan label ungu untuk BPMT)

Benih jeruk bebas penyakit kelas benih BF dan BPMT yang sudah siap siar dapat dikirim dengan dua cara yaitu : 1) Benih dikirim dalam polybag untuh, biasanya untuk pengiriman jarak dekat atau pengiriman dalam suatu wilayah dalam satu pulau. Pengiriman  biasanya menggunakan jasa transpotasi kendaraan roda empat atau melalui ekpidisi. 2) Benih dikirim dalam bentuk cabutan, biasanya untuk pengiriman jarak jauh atau antar pulau.

Pengiriman menggunakan jasa cargo melalui pesawat dengan teknik pengemasan sebagai berikut: Benih dicabut dari polybag untuk dibersihkan akarnya dari media tumbuh, akar dan tunas dipotong secukupnya. Akar diberi moss lembab kemudian dibungkus kertas koran. Benih kemudian dimasukkan dan dibungkus kardus sesuai jumlah yang akan dikirim, Kemasan kardus ukuran lebar 40 cm, tinggi 40 cm dan panjang 80 cm berkapasitas benih BF atau  BPMT sebanyak 400 – 450 batang.

[cml_media_alt id='1708']Gambar. Distribusi BMPT se-Indonesia [/cml_media_alt]
Gambar. Distribusi BMPT se-Indonesia

Oleh : Harwanto
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Related Post

Tinggalkan Balasan