Potensi Pembenihan Jeruk Lokal Komersial Varietas Keprok SoE Pada Tiga Varietas Batang Bawah (JC, Rl dan Volkameriana)

ABSTRAK

Untuk pertumbuhan jeruk yang optimal diperlukan benih yang  unggul (berlabel bebas penyakit),  diantaranya dengan penyediaan batang bawah yang potensial mendukung batang atas. Pohon jeruk terdiri dari dua bagian penting, yaitu batang-atas dan batang-bawah. Batang atas sebagai batang komersial sedangkan batang-bawah mempunyai kemampuan dalam mengeksploitasi kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. Jeruk keprok SoE merupakan salah satu komoditas unggulan propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang kualitas buahnya tidak kalah dibanding dengn jeruk impor. Penelitian dilaksanakan di KP Tlekung Balitjestro dari bulan September s/d Desember 2010. Tujuan penelitian mendapatkan batang bawah yang potensial pada pemibitan khususnya untuk jeruk keprok SoE. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dari 3 varietas batang bawah sebelum diokulasi, untuk tinggi tanaman tertinggi pada batang bawah Japansche citroneJC (34 cm),   sedangkan berdasarkan jumlah daun terbanyak  pada varietas volkameriana (30 biji), persentase tumbuh benih hasil okulasi mencapai 100% pada semua batang bawah, untuk pertumbuhan pada pembenihan (jumlah daun, tinggi tanaman, diameter batang atas dan diameter batang bawah) pada umur 15 minggu setelah okulasi, jumlah daun, tinggi tanaman  tertinggi, ditunjukkan varietas JC (32 cm, 44.2 biji) serta jumlah berkas pembuluh pada perlekatan/pertautan 342, sedang indikator kompatibilitas antara diameter batang bawah hampir sama dengan batang atas (I:I) dan pada penelitian ini ditunjukkan oleh perlakuan jeruk keprok SoE (batang atas 0.812) dengan batang bawah volkameriana 0.858.

Kata kunci:   Jeruk Keprok SoE, Benih, Batang bawah, Batang atas.

 

Jeruk keprok SoE merupakan salah satu varietas jeruk  lokal,  komersial unggulan  Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang  kualias  buahnya  tidak kalah dibanding dengan jeruk  keprok lain yang telah berkembang di Indonesia, seperti keprok Batu 55, Tawangmangu, Chinakonde, Garut, Madura, Tejakula dan lainnya (Didiek AB, et all, 2004).

Salah satu kunci keberhasilan pengembangan buah-buahan sangat ditentukan oleh ketersediaan benih yang bermutu/unggul (berlabel bebas penyalit). Untuk memperoleh benih bermutu adalah dengan penyambungan, baik dengan grafting maupun budding.Dalam penyambungan, terjadi penggabungan antara dua jenis tanaman yaitu batang atas dan batang bawah yang berbeda. Dari batang atas diharapkan akan berkembang pertumbuhan cabang, tunas, dan produksi buah yang tinggi dengan kualitas yang baik. Di lain pihak batang bawah diharapkan berkembang sistem perakaran yang kokoh, dapat beradaptasi pada kondisi tanah yang kurang subur dan tahan terhadap penyakit.

Petani jeruk di Indonesia sebagian besar hanya mengenal jenis batang bawah Japansche Citroen (JC) dan Rough Lemon (Citrus jambhiri) yang akhir-akhir ini sulit diperoleh sehingga pertanaman jeruk yang ada sekarang didominasi dengan jenis batang bawah JC,  yang dikenal relatif tahan kekeringan dan punya daya adaptasi yang tinggi.  Padahal kita mempunyai  macam-macam batang bawah hasil penelitian Balitjestro diantaranya Rough Lemon/RL, Volkameriana, AA23, Cleopatra Manis AA 23, Manis AA 32, Poncirus Trifoliata, Citrumello 4475, Sweet Orange, Emperor, Benton dan Kunci-01. (Arry Supriyanto, 2007)

Sifat-sifat batang bawah sangat berpengaruh terhadap penyambungan  batang atas.  Salah satu peran nyata batang bawah adalah pengaruh terhadap kecepatan tumbuh batang atas.   Hasil penelitian Phillips dan Castle (1997) dan Wutscher (1988) menunjukkan bahwa batang bawah juga mempengaruhi volume kanopi, produksi buah, konsentrasi hara daun, dan kandungan jus buah. Fallahi dan Rodney (1992) mengemukakan bahwa penyambungan beberapa jenis batang bawah dengan jeruk Fairchild mempengaruhi konsentrasi hara daun, pertumbuhan tanaman (lingkar batang dan volume kanopi), serta produksi (kuantitas dan kualitas buah).Hasil penelitian Roose et al (1989) menunjukan batang bawah berperan dalam mengontrol pertumbuhan batang atas dan produksi buah.  Batang bawah mempengaruhi produksi, kandungan air, kandungan jus dan kandungan asam pada buah (Phillip dan Castle, 1977; Wutscher, 1988 dan Fallahi et al., 1989). Selanjutnya, batang bawah juga mempengaruhi transpirasi, fiksasi CO2 (Agbaria et al.,(1995) dan kandungan asam amino (Moreno et al., 1994).

 

METODOLOGI

Percobaan dilakukan  di KP Tlekung Balitjestro (950 m dpl),  dari Bulan  September sampai dengan Desember 2010.  Perlakuan dengan menyiapkan mata  tempel dari batang atas varietas SoE yang diokulasikan dengan 3 varietas batang bawah Japance Citroen (JC),  Rough Lemon (RL)  dan Volkameriana yang sudah berumur 12 bulan siap diokulasi,  sebanyak 6  tanaman per varietas  x 3 Ulangan. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK).   Pengamatan pertumbuhan dilakukan Setiap 1 (satu) minggu setelah Okulasi dibuka, dengan peubah yang diamati meliputi:  persentase  tumbuh tunas, jumlah daun,  tinggi tanaman, diameter batang atas dan bawah, dan irisan melintang pada pertautan sambungan serta jumlah berkas pembuluh xylem dan fhloem.  

 

HASIL DAN PEMBAHASAN 

Kegiatan penelitian  benih jeruk keprok  varietas lokal komersial SoE  dengan 3 varietas batang bawah (JC, RL dan Volkameriana), menunjukkan hasil sebagai berikut

[cml_media_alt id='1180']Batang Bawah JC[/cml_media_alt]

Dari gambar 1, menunjukkan bahwa 3 varietas batang bawah sebelum disambung dengan varietas lokal komersial SoE, vigoritas tertinggi ditunjukkan oleh varietas  JC dan Volkameriana dan ini terbukti bahwa batang bawah jeruk varietas JC dan volkameriana mempunyai keunggulan berefek vigor dan kualitas buah dari batang atas lebih baik. Keunggulan lainnya  JC adalah adaptif di lahan kering, daya hasil tinggi dan selalu kompatibel dengan berbagai jenis batang atas, sedang kelemahan dari varietas ini adalah tidak tahan terhadap penyakit Phytophthora(Chaerani dkk, 2010).

[cml_media_alt id='1179']Batang Bawah Jeruk[/cml_media_alt]

Pada pertumbuhan selanjutnya  (gambar 2,  tabel 2), menunjukkan bahwa jumlah daun dan tinggi tanaman tertinggi pada  jeruk SoE yang disambung dengan batang bawah JC yang diikuti  oleh RL dan Volkameriana, menurut hasil penelitian Barus (2000) menunjukkan bahwa batang bawah Rough Lemon (RL) paling dapat mengendalikan pertumbuhan batang atas jeruk besar Nambangan dan Cikoneng dibanding dengan batang bawah  Citrumelo. Dan perbedaan jenis batang bawah menyebabkan perbedaan volume kanopi, hasil buah per pohon, kandungan hara daun dan kualitas buah (lingkar buah, bobot buah, ketebalan kulit, kadarjus, kandungan padatan terlarut dan kadar asam total) pada grapefruit Redblush.

[cml_media_alt id='1178']Batang Bawah JC Balitjestro[/cml_media_alt]

Dari gambar 3, irisan melintang pada pertautan/sambungan keprok SoE dengan batang bawah JC tersebut nampak hasil okulasi yang  sempurna. Hal ini ditunjukkan dengan menyatunya kulit batang dan jaringan floem dari dua batang yang tergabung. Pada xilem masih terlihat berkembang berbeda meski demikian terlihat ada penyatuan antara xilem batang atas SoE dan batang bawah JC.  Lapisan kambium vasikuler, floem dan kulit batang menyatu sempurna.

[cml_media_alt id='1177']Batang Bawah Jeruk JC[/cml_media_alt]

Dari Tabel 3 gambar 3,4 dan 5, menunjukkan bahwa macam/letak jumlah pembuluh  pada irisan melintang pada pertautan/perlekatan ke 3 varietas batang bawah mempunyai respon/jumlah berkas pembuluh tidak sama, varietas JC mempunyai jumlah berkas pembuluh tertinggi (342)  pada perlekatan,   yang diikuti RL (203)   hal membuktikan bahwa mekanisme terjadinya proses pertautan antara batang atas dan batang bawah dimulai dari  lapisan cambium masing-masing sel tanaman,  baik batang atas dan batang bawah membentuk jaringan kalus berupa sel-sel parenkim, sel-sel parenkim dari batang bawah dan batang atas masing-masing saling kontak, menyatu dan selanjutnya membaur, sel-sel parenkim yang terbentuk akan terdiferensiasi membentuk kambiun sebagai lanjutan dari lapisan cambium batang atas dan batang bawah yang lama, selanjutnya  dari lapisan cambium akan terbentuk jaringan pembuluh sehingga proses translokasi hara dari batang bawah ke batang atas dan sebaliknya untuk hasil fotosintesis dapat berlangsung kembali (Hartmann, et al.,1997). Dalam pengeratan cabang (ranting) media okulasi  dapat mengakibatkan berakumulasinya bahan bahan organik (Hartmann dan Kester, 1983) yang berguna dalam pembentukan kalus (Hellriegel, 1982) sebagai bahan perekat dan penyembuhan luka pasca daerah pertautan antara batang atas dengan batang bawah.

KESIMPULAN

Dari  penelitian ini dapat disimpulkan bahwa,  persentase tumbuh hasil okulasi mencapai 100% pada semua perlakuan.Untuk pertumbuhan  benih meliputi jumlah daun, tinggi tanaman, diameter batang atas dan diameter batang bawah, jeruk lokal komersial varietas SoE pada 3 varietas batang bawah JC, RL dan Volkameriana pada umur 15 minggu setelah okulasi  menunjukkan hasil yang bervariasi.Indikator kompatibilitas antara diameter batang bawah yang hampir sama dengan batang atas (I:I) dan pada penelitian ini, ditunjukkan oleh perlakuan jeruk keprok SoE dengan batang bawah volkameriana pada umur 15 minggu setelah okulasi.

 

Oleh: Emi Budiyati, Hardiyanto, Hasim Ashari
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Tinggalkan Balasan