Pewilayahan Tanaman Apel di Jawa Timur

[cml_media_alt id='342']Apel Batu[/cml_media_alt]
Untuk mempelajari kebutuhan optimal tanaman apel dan pengembangan tanaman apel dilakukan kegiatan karakterisasi lahan dan iklim di sentra produksi Jawa Timur dan dioverlapingkan daerah lain di Indonesia dengan menggunakan pendekatan studi pustaka dan survei di Batu, Poncokusumo- Malang, Nongkojajar Pasuruan. Berdasarkan hasil karakterisai kesesuaian lahan dan iklim menunjukan bahwa ketinggian tempat (elevasi) kecocokan tanaman apel berada pada ketinggian antara 800 hingga 1500 m dpl, dengan curah hujan 1000 hingga 3000 mm/tahun, kedalaman efektif tanah 30 hingga 50 cm serta konsistensi tanah gembur hingga teguh, sedangkan areal yang sesuai untuk tanaman apel di pulau Jawa hanya 0,57 %. Pertumbuhan yang terbaik dan produksi tertinggi pada ketinggian 1000 m dpl. hingga 1.200 m dpl. atau 1.300 m dpl. Jenis apel Rome Beauty lebih baik pada ketinggian 700 m dpl. hingga 1000 m dpl. dan jenis apel Manalagi lebih baik pada ketinggian antara 1000 m hingga 1.200 m dpl., sedangkan pada ketinggian diatas 1.2000 m dpl. apel Anna lebih baik pertumbuhannya. Pada ketinggian 1000 m sampai 1500 m dpl tanaman mempunyai tingkat pertumbuhan yang baik. Hal ini mungkin juga dipengaruhi oleh kondisi tanah dimana semakin ke atas tutupan bahan volkan yang subur dengan kondisi fisik yang lebih baik dan juga semakin tebal.

Pendahuluan

Impor buah apel Indonesia pada tahun 2005 sebanyak 74.019 ton senilai US$ 32.005.000 atau setara dengan Rp.288.045.000.000,- ( 1 US$ = Rp.9000,-) jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat 3,9% per tahun hingga tahun 2010. Membanjirnya buah apel impor ini seiring dengan melesunya kegiatan agribisnis apel di dalam negeri yang mulai berlangsung pada tahun 2000-an dengan ditunjukkan oleh kondisi pertanaman apel di lahan petani yang kurang terpelihara, menurunnya produksi dan mutu buah yang dihasilkan, harga sarana produksi yang tidak terjangkau dan harga buah apel yang relatif murah. Langkah – langkah subtitusi impor perlu dilakukan untuk menghemat devisa.

Sampai saat ini sentra produksi apel utama di Indonesia hanya di Jawa Timur yang mulai tumbuh berkembang pada tahun 1970-an dan pada puncak perkembangannya pada tahun 1980-an sampai dengan pertengahan tahun 1990-an di Batu, Poncokusumo Malang dan Nongko Jajar Pasuruan. Sedangkan wilayah pengembangan potensial lainnya seperti Bali, NTT, NTB, Situbondo dan Sumatera Utara belum ditentukan. Agar pengembangan wilayah apel tetap lestari, maka penanaman baru perlu diarahkan pada lahan – lahan yang memiliki karakter tanah dan iklim yang sesuai dengan kebutuhan tanaman. Penggunaan lahan untuk tanaman apel dalam waktu yang jangka panjang secara intensif menggunakan agroinput anorganik telah menyebabkan degradasi lahan sehingga produktivitas tanaman cenderung menurun.

Menurunnya produktivitas dan mutu buah apel yang berakibat rendahnya daya saing apel dalam negeri disebabkan oleh 6 faktor utama, yaitu (1) pemeliharaan kebun yang kurang optimal, (2) kesuburan lahan yang menurun drastis, ( 3) pengetahuan yang dimiliki petani tidak memadai dan (4) pohon apel yang ada sekarang sudah tua, (5) terjadi perubahan agroklimat lingkungan tumbuh apel kini tidak seoptimal pada dua dekade sebelumnya, (6) serangan penyakit yang pengendaliannya mengandalkan fungisida (Hasil PRA Balitjeruk). Selama ini hanya satu varietas batang bawah yang digunakan petani apel sehingga diperlukan varietas alternatif batang bawah apel.

Rendahnya tingkat pemeliharaan kebun apel milik petani disebabkan oleh (a) biaya produksi yang semakin mahal, (b) modal petani tidak mencukupi untuk memelihara kebunnya secara optimal, dan (c) motivasi petani untuk memelihara kebun apelnya menurun karena tidak ada standar harga serta (d) lemahnya kelembagaan petani yang ada menjadikan posisi tawar petani makin sulit berhadapan langsung dengan pedagang.

Rendahnya kesuburan lahan apel petani disebabkan oleh (a) bahan organik dan pupuk kimia yang diberikan pada pohon apel tidak optimal, dan (b) lahan apel petani telah tercemar bahan kimia. Rendahnya bahan organik lahan apel juga telah dilaporkan oleh tim dari Univesitas Brawijaya, yaitu berkisar dari 1,5 – 2,0 % dari nilai optimal sekitar 5%. Sedikitnya bahan organik yang diberikan oleh petani dapat menyebabkan struktur tanah rusak dan diperparah oleh terjadinya pencemaran bahan kimia yang diakibatkan oleh tingginya intensitas penyemprotan pestisida yang berlebihan, sehingga terjadi akumulasi bahan aktif logam berat. Fenomena tersebut menjadikan mikroorganisme yang ada di tanah menjadi berkurang sehingga secara keseluruhan mengakibatkan tanah mengeras dan kesuburan lahan semakin menurun.

Bahan organik tanah sangat penting artinya sebagai penyangga sifat fisik dan kimia tanah, karena bahan organic merupakan koloid tanah yang berfungsi dalam pembentukan agregat mikro dan komplek jerapan koloid (Saifudin, 1985). Tanah miskin bahan organic akan kurang mampu menyangga air dan pupuk. Pada tanah lapisan atas tipis (kurang dari 20 cm) dan lapisan bawah yang padat disertai kapasitas tukar kation rendah penurunan kadar bahan organik tanah berakibat memburuknya tanah yang berarti menurunkan produktivitas tanah (Suwarjo et al., 1991).penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi crop requirement’s tanaman apel dan dari beberapa sentra produksi di Indonesia, serta potensi wilayah pengembangan tanaman apel di Pulau Jawa

Pembahasan

Hasil kajian lapang karakterisai kesesuaian lahan dan iklim menunjukan bahwa ketinggian tempat (elevasi) kecocokan tanaman apel berada pada ketinggian antara 8.00 hingga 1500 m dpl., dengan curah hujan 1.000 hingga3.000 mm /tahun serta kedalaman efektif tanah 30 hingga 50 cm serta kosistensi tanah gembur samapi teguh. Pertumbuhan yang terbaik dan produksi tertinggi pada ketinggian 1000 m dpl hingga 1.200 m dpl atau 1.300 m dpl. Jenis apel Rome Beauty lebih baik pada ketinggian 800 m dpl. hingga 1000 m dpl. dan jenis apel Manalagi lebih baik pada ketinggian antara 1000 m hingga 1.200 m dpl., sedangkan pada ketinggian diatas 1.2000 m dpl apel Anna lebih baik pertumbuhannya.

Pada ketinggian 1000 m sampai 1500 m dpl tanaman mempunyai tingkat pertumbuhan yang baik. Hal ini mungkin juga dipengaruhi oleh kondisi tanah dimana semakin ke atas tutupan bahan volkan yang subur dengan kondisi fisik yang lebih baik semakin juga semakin tebal.

Berdasarkan hasil kajian lapang maupun hasil analisa laboratorium selanjutnya dipergunakan untuk menyusun persyaratan tumbuh bagi tanaman apel. Hal ini dilakukan dengan membandingkan antara berbagai unsur Kualitas Lahan (Land Quality) yang terdiri atas beberapa Karakteristik Lahan (Land Caracteristic) dengan kenampakan fisik (performance) dan produktifitas (productivity) masing-masing tanaman. Untuk itu ditentukan beberapa karakteristik lahan yang paling menentukan bagi pertumbuhan tanaman tersebut. Misalnya untuk tanaman apel elevasi merupakan unsur yang sangat menentukan dalam pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Demikian juga tekstur tanah dan unsur-unsur lainnya dengan pertimbangan kondisi di lapang dapat dibuat persyaratan tumbuh masing-masing tanaman seperti yang di sjikan pada Tabel 1 berikut ini:

[cml_media_alt id='343']Pewilayahan Apel di Jawa Timur - Suhariyono_01[/cml_media_alt]
Dari Persyaratan Tumbuh yang telah dibuat, dapat ditentukan wilayah pengembangan yang sesuai untuk tanaman apel. Hal ini dapat ditentukan dengan membandingkan / “matching” data antara persyaratan tumbuh tanaman dengan karakteristik lahan yang paling menentukan untuk masing-masing tanaman.

Antara persyaratan tumbuh dengan karakteristik lahan yang tersedia umumnya mempunyai interval / “range” yang tidak sama, sehingga dibuat pendekatan diantara keduanya. Interval dalam Persyaratan Tumbuh untuk tanaman apel dari elevasi 800- 1500 meter dpl., sedangkan data yang tersedia adalah interval ketinggian antara 0 meter – 500 meter – 1000 meter – 2000 meter. Demikian juga dengan ketersediaan data lainnya. Sehingga untuk mendekati antara persyaratan tumbuh dengan ketersediaan data dilakukan analisis data tersebut agar sesuai diantara keduanya.

Berdasarkan Rating dari hasil analisa tanah dari contoh tanah yang berada diantra sentra produksi apel yaitu Kota Batu, Poncokusomo Kabupaten Malang dan Nonokojajar Kabupaten Pasuruan seperti disajikan pada Lampiran 1A dan 1 B menunjukan bahwa:

  • Tekstur tanah termasuk sedang, tidak terlalu kasar dan tidak terlalu halus. Hal ini bisa mengidikasikan bahwa sifat fisik tanah termasuk baik dan mendukung untuk perakaran tanaman . Kecuali contoh dari pengamatan PK (Poncokusumo) cenderung lebih kasar, tetapi masih cukup baik mendukung zona perakaran tanaman budidaya.
  • Secara umum pH tanah cenderung tinggi berkisar antara 5,5 sampai 6,5 yang tergolong agak masam. Kisaran pH ini untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman budidaya secara umum tiak terlalu rendah. Kecuali pada RM-04 (Nongkojajar) termasuk masam antara 4,9 sampai 5,4. ini pun tidak terlalu masam untuk ukuran tanah masam di Indonesia.
  • Kandungan C organik pada umumya termasuk rendah, hanya beberapa lapisan atas cenderung tinggi di RM-04 dan RM-05 ( Nongkojajar ). Hal ini mengidikasikan kekurangan bahan organik dan apabila dilakukan pemupukan selain pupuk buatan / pupuk kimia juga harus diberi pupuk organik.
  • Kandungan P dan K total umumnya tinggi pada semua tanah. Namun demikian kalau analisa khusus termasuk mewakili wilayah ini dengan hasil analisa retensi P yang cukup tinggi yang umumnya dimiliki tanah – tanah volkan, sehingga pemupukan P maupun K tetap harus diberikan begitu juga dengan bahan organik tanah.
  • Kandungan basa-basa tertukar umumnya tinggi sampai sangat tinggi, begitu juga dengan tingkat kejenuhan basanya, kecuali Na ( Natrium) yang biasanya tinggi pada tanah-tanah salin pada derah marin. Dengan demikian kebutuhan unsur terutama dari basa tanah cenderung tercukupi dari ketersediaan didalam tanah.

Berdasarkan Rating dari hasil analisa tanah dari contoh tanah dengan analisa khusus yaitu PK-A1 (Poncokusumo), BT-AG1 (Batu), dan RM-01/ML (Nongkojajar) menunjukan bahwa: Karakrestik umum: tekstur, C organik, kandungan unsur Phosphate, Kalium, basa-basa tertukar, daya sangga hara, dan kejenuhan basa masih cenderung sama dengan tanah analisa diatas. Sedangkan dari analisa khusus yang mengindikasikan karakteristik tanah Volkan, yaitu resistensi Phosphate, kandungan unsur Fe dan Al dengan analisa Oksalat, tanah tersebut dapat digolongkan ke dalam tanah Volkan. Indikasi yang menunjukkan tanah volkan adalah retensi Phosphate cukup tinggi (>25%) dengan persyaratan adanya kandungan gelas volkan (tidak dianalisa) memenuhi syarat sebagai tanah volkan. Begitu juga kandungan Fe dan Al Oksalat juga memenuhi sebagi tanah Volkan. Secara umum tanah Volkan ini mempunyai tingkat kesuburan yang tinggi dengan fisik yang baik.

Untuk keperluan penentuan wilayah pengembangan tanaman apel, telah dibuat Peta Wilayah Pengembangan tanaman apel pada skala 1: 1.000.000. Dari Peta ini diharapkan dapat memberikan informasi potensi wilayah yang sesuai untuk pengembangan tanaman apel di Jawa.

Dalam Penyusunan Peta Potensu diawali dengan membuat/menentukan persyaratan tumbuh tanaman apel kemudian dengan membandingkan/matching data antara persyaratan tumbuh tanaman apel dengan karakteristik lahan yang berasal dari Sumber Data dan Peta Dasar berupa :

  • Peta Dasar Rupa Bumi Indonesia skala 1: 1.000.000. Bakosurtanal, 2000.
  • Peta Sumberdaya Tanah Ekplorasi skala 1:1.000.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat , 2001.
  • Peta Sumberdaya Iklim Pertanian Indonesia skala 1:1.000.000. Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi,2004.
  • Digital Elevation Model (DEM) SRTM cakupan P.Jawa dan Madura.
  • Citra Satelit Landsat.
  • Hasil Peta Potensi Pengembangan Tanaman Apel di Pulau Jawa dan Madura tahun 2007 ini seperti disajikan pada Lampiran 3. Untuk memperoleh wilayah yang lebih tepat dan untuk mendukung sampai pada tingkat manajemen, maka diperlukan kajian yang lebih detil yang disajikan pada Peta dengan skala yang lebih detil.
  • Peta potensi pengembangan tanaman apel di Pulau Jawa berdasarkan kelas kesesuaian dan faktor pembatasnya luas dan persentasinya adalah seperti disajikan pada Tabel 2 di bawah ini:

[cml_media_alt id='344']Pewilayahan Apel di Jawa Timur - Suhariyono_03[/cml_media_alt]
Kesimpulan

  1. Hasil kajian lapang karakterisai kesesuaian lahan dan iklim dapat disimpulkan bahwa ketinggian tempat (elevasi) kecocokan tanaman apel berada pada ketinggian antara 800 hingga 1500 m dpl., dengan curah hujan 1.000 hingga 3.000 mm/tahun kedalaman efektif tanah 30 hingga 50 cm serta kosistensi tanah gembur sampai teguh. Pertumbuhan yang terbaik dan produksi tertinggi pada ketinggian 1000 m dpl. hingga 1.200 m dpl. atau 1.300 m dpl. Jenis apel Rome Beauty lebih baik pada ketinggian 800 m dpl. hingga 1000 m dpl. dan jenis apel Manalagi lebih baik pada ketinggian antara 1000 m hingga 1.200 m dpl., sedangkan pada ketinggian diatas 1.2000 m dpl. apel Anna lebih baik pertumbuhannya. Pada ketinggian 1000 m sampai 1500 m dpl. tanaman mempunyai tingkat pertumbuhan yang baik. Areal yang sesuai untuk tanaman apel di pulau Jawa hanya 0,57%.
  2. Luas lahan Pulau Jawa adalah 13.150.981 ha, namun lahan yang sesuai untuk tanaman apel tanpa faktor pembatas hanya 75.679 ha (0,57%). Selanjutnya lahan sesuai bersyarat dengan berbagai faktor pembatas diantaranya, kondisi media perakaran, elevasi, elevasi dan media perakaran, elevasi dan iklim, elevasi kondisi media dan iklim, iklim dan kondisi media perakaran adalah 996.667 ha (7,56%), Sedangkan lahan yang tidak sesuai dengan berbagai faktor pembatas diantaranya kondisi media perakaran, elevasi, iklim dan toksisitas, elevasi dan kondisi perakaran, elavasi dan toksisitas, elevasi dan iklim, elevasi kondisi media perakaran dan iklim, serta iklim dan kondisi media perakaran adalah seluas 12.078. ha (91,87%).

[cml_media_alt id='345']Pewilayahan Apel di Jawa Timur - Suhariyono_04[/cml_media_alt]
DAFTAR PUSTAKA

  • Anonim, 2001. Peta Sumberdaya Tanah Ekplorasi skala 1:1.000.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat.
  • Anonim, 2004. Peta Sumberdaya Iklim Pertanian Indonesia skala 1:1.000.000. Balai PenelitianAgroklimat dan Hidrologi.
  • Anonim.2006. Laporan PRA Balitjeruk
  • Bakosurtnal, 2000. Peta Dasar Rupa Bumi Indonesia skala 1:1.000.000.
  • Harman, G.E., A.G. Taylor and T.E. Stasz. 1989. Combining effective strains of Trichoderma harzianum and solid matrix priming to provide improved biological seed treatment system. Plant Diseases 73: 631-637
  • Saefudin Sarief.1985. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Bandung
    Suwardjo, Suryatno Efendi dan A. Barus. 1991. Rekayasa Lahan Kering untuk Pola Usaha Tani Berorientasi Pangan. Hal. 11-20 dalam Pedoman Umum dan Spesifikasi Standar Rekayasa Lahan Kering. Model Usaha Tani Lahan Kering Berorientasi Pangan di Daerah Transmigrasi. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor
  • Semangun H., 2000. Penyakit-penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 850p

Suhariyono (Balitjestro), Sutopo (Balitjestro), Suratman (Puslit Tanah)
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

 

Related Post

Tinggalkan Balasan