Petani Stroberi Merugi Selama Delapan Bulan

stroberi_jp20102016h30
RUSAK: Painu, petani desa Pandanrejo, menunjukkan tanaman stroberi yang mengering karena cuaca tidak menentu akhir-akhir ini. Akibatnya, petani tidak panen selama 8 bulan terakhir

Jawa Pos, 20 Oktober 2016. Halaman 30.
KOTA BATU– Petani stroberi Batu harus gigit jari selama delapan bulan terakhir. Sebab, mereka mengalami gagal panen. Penyebab utamanya adalah cuaca yang tidak menentu.

Praktis, produksi buah tidak bisa maksimal. Ukurannya kecil berdiameter tidak lebih dari 1 sentimeter, sedang rata-rata buah stroberi sebelumnya berdiameter sekitar 2 sentimeter. Bahkan, buah tersebut tampak layu meski belum dipetik.

Hal ini dialami Painu, petani stroberi Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji. Menurutnya, tidak ada pemasukan selama enam bulan belakangan. “Yang paling merusak-itu kalau hujannya malam hari. Karena lebih parah dampaknya (tidak ada sinar matahari, Red),” kata Painu di sela-sela merawat stroberi, kemarin (19/10).

Saat hujan, lanjutnya, kondisi tanah becek dan airnya menggenang. Kondisi tersebutmembuat daun tanaman mudah mengering. Bahkan, beberapa di antaranya juga membusuk dan berujung pada matinya tanaman. “Mayoritas dari kami belum bisa menemukan solusi permasalahan ini,” imbuhnya.

Sedang untuk menutupi biaya operasional tiap hari, Painu menggunakan sistem subsidi silang. Yakni, diambilkan dari keuntungan penjualan bunga mawar di lahan lainnya. “Terpaksa pakai subsidi silang biar terus jalan,” tandas pria 67 tahun tersebut. (by/c4/im)

Related Post