Petani Muda, Penggerak Utama Agribisnis Keprok RGL 

Rejang Lebong Siap Ekspor Buah Jeruk RGL. Dubai telah meminta dikirimi buah jeruk RGL sebanyak 10 ton per minggu, dan dari ekportir handal nasional meminta Bengkulu menyediakan buah jeruk RGL sebanyak 20 ton per 10 hari untuk beberapa negara termasuk Malaysia yang walaupun belum bisa dipenuhi paling tidak menjadi cambuk bagi petani untuk bekerja lebih keras.

Rejang Lebong dulu dikenal sebagai daerah tambang emas tersohor dan kini secara bertahap tapi pasti Kabupaten di provinsi Bengkulu yang 70% arealnya merupakan kawasan hutan lindung ini sedang menapaki jalan menjadi sentra agribisnis jeruk nasional yang potensial. Adalah jeruk keprok yang berasal dari Kabupaten tetangga, Lebong dan diberi nama pemerintah sebagai jeruk keprok Rimau Gerga Lebong (RGL) yang nantinya akan memberikan warna emas sentra agribisnis jeruk yang kelak diprediksi menjadi ikon provinsi Bengkulu.

Jeruk RGL berperforma sebagai hasil silangan jeruk manis (Citrus sinensis Osbeck) dan jeruk keprok (Citrus reticulta Blanco), konon berasal dari Israel yang ditanam di Thailand kemudian dibawa petani ke Kabupaten Karo dan dikembangkan di desa Rimbo Pengadang, Kecamatan Rimbo Pengadang, Kabupaten Lebong-Bengkulu.  Buah jeruk RGL berukuran relatif besar dengan kulit agak tebal sehingga mempunyai daya simpan lama.  Jika buah dipanen pada saat masak fisiologis, daging buahnya berasa lembut berwarna kuning-oranye; rasa manis segar dengan kadar sari buah yang melimpah. Dengan penampilan dan citarasa “internasionalnya” buah jeruk RGL mempunyai daya saing mumpuni untuk substitusi impor bahkan diekspor.

Tersebutlah bapak Langgeng pria setengah baya bersemangat muda yang sehari hari bertugas sebagai Ka satgas Pengawas Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Rejang Lebong mengajak masyarakat di kecamatan Bermani Hulu Raya tepatnya di desa PAL 7 menanam jeruk keprok RGL. Pada tahun 2014 pertanaman jeruk RGL baru seluas 30 ha dengan populasi per ha 300 bibit menggunakan jarak tanam 6m x 4 m membentuk segitiga sama sisi.  Pada tahun 2015, selanjutnya bertambah seluas 40 ha dan pada tahun 2016 bertambah lagi 100 ha. Pada saat bersamaan, petani di desa dan kecamatan tetangga juga berminat menanam jeruk keprok RGL.

Tahun 2017 dilakukan penanaman bibit jeruk untuk areal seluas 200 ha menggunakan bibit jeruk berlabel biru yang merupakan dukungan dari Pemda setempat melalui peran wakil bupati yang intens dengan program peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Kini pada tahun 2018, berdasarkan data yang dimiliki dan perlu dicek ulang, luas tanam jeruk keprok RGL di Kabupaten Rejang Lebong telah mencapai 500 ha yang 200 ha diantaranya sudah mulai berbuah dengan rata-rata produktivitas 5-10 ton per ha.

Kini jeruk keprok RGL sudah tersebar di 5 kecamatan yaitu Bermani Hulu raya, Bermani Hulu, Seluka Rejang, Siding Kelingi dan Sindang dataran.  Potensi lahan yang dimiliki kabupaten Rejang lebong untuk pengembangan agribisnis jeruk tersedia 5.000 ha yang sebagian besar masih merupakan lahan tidur nan subur.

Gambar kondisi pohon jeruk keprok RGL umur 4,5 tahun di desa PAL7

Hal menarik dari geliat agribisnis jeruk RGL di Rejang Lebong ini adalah hadirnya kawula muda yang menggeluti bisnis perjerukan RGL dengan totalitas gaya mereka. Sebut Niko, 31 tahun yang mengkoordinir 15 anak muda sebayanya, telah menanam jeruk keprok ebih dari 10 ha dan menikmati hasilnya dengan membeli mobil dan menikahi gadis idamannya. Di tangan dingin mereka produksi per ha pohon jeruk umur 3,5 tahun bisa 30 ton/ha dan yang berumur 4,5 tahun bahkan bisa mencapai 80 ton/ha.

Seperti petani “tua” lainnya, petani muda bersemangat baja ini juga memiliki peralatan untuk panen, wadah buah hasil panenan, ruang pengemasan, yaitu untuk mengumpulkan buah, membersihkan, memilahkan dan mengemas buah untuk siap di pasarkan. Semua aktivitas mereka tersebut terekam dan ditampilkan apik oleh Niko dalam tulisan ini.  Petani generasi muda ini perlu mendapat perhatian dan dukungan  lebih khusus terkait kapasitasnya sebagai generator penggerak kemajuan utama agribisnis jeruk keprok RGL di Rejang Lebong mendatang.

Perbankan nampaknya mencermati prospek usaha perjerukan RGL yang menjanjikan ini dan sudah mengkucurkan kredit bagi petani jeruk RGL dan sekaligus  mengindikasikan adanya kepercayaan terhadap prospek keberhasilan pengembangan agribisnis jeruk keprok RGL di Rejang Lebong di masa mendatang. Kredit BRI yang dikucurkan sejak tahun 2015 merupakan Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) kelompok Rp402 juta, KKPE Perorangan Rp150 juta dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp1,1 milyar; sedangkan pada akhir tahun 2018 yang in syaa allah akan cair awal tahun 2019 sebesar Rp2,9 Milyar.

Masih menurut pak Langgeng yang diangguki oleh wakil bupati Rejang Lebong, bahwa negara Dubai telah meminta dikirimi buah jeruk RGL sebanyak 10 ton per minggu, dan dari ekportir handal nasional meminta Bengkulu menyediakan buah jeruk RGL sebanyak 20 ton per 10 hari untuk beberapa negara termasuk Malaysia yang walaupun belum bisa dipenuhi paling tidak menjadi cambuk bagi petani untuk bekerja lebih keras.

Bila waktu panen jeruk keprok RGL tiba
Gambar Kegiatan pengemasan sederhana buah jeruk keprok RGL

Ya, kerja keras nan cerdas penuh dengan keikhlasan memang harus dilaksanakan oleh setiap petani jeruk di Rejang Lebong yang berniat meningkatkan kesejahteraan hidup dan bermimpi menjadi haji jeruk di masa mendatang. Modal varietas RGL sudah dimiliki dengan daya saing tinggi; modal pengetahuan dan ketrampilan terus bisa ditingkatkan melalui pengawalan teknologi dari Balitbangtan yang dalam hal ini Balitjestro dan BPTP Bengkulu; modal pendanaan tidak ada masalah karena sudah ada dukungan perkreditan dari perbankan; dukungan penuh Pemda setempat tidak diragukan lagi, ditambah dukungan kuat dari anggota DPD dapil Bengkulu. Kuncinya adalah bagaimana direjen mampu membuat orchestra harmonis yang membawa kekuatan agribisnis jeruk keprok RGL yang berdaya saing dan berkelanjutkan guna meningkatkan kesejahteraan petani jeruk RGL dan kemajuan perekonomian Kabupaten Rejang Lebong dengan generator handalnya dari kawula muda potensialnya.

Masih banyak yang harus dilakukan guna mewujudkan kawasan agribisnis jeruk keprok RGL yang berdaya saing dan berkelanjutan serta unggul dalam persaingan ketat di era global, yaitu (1). Sanitasi kebun pertanaman jeruk keprok RGL harus diwaspadai terkait kehadiran penyakit CVPD yang masih endemis di Indonesia apalagi pada tahap permulaan penanaman jeruk belum menggunakan bibit berlabel biru; (2). Produktivitas optimal, kualitas buah premium dan seragam, dan kontinuitas sesuai kebutuhan pasar harus dimanifestasikan dalam penerapan SOP/GAP yang dilanjutkan dengan pendaftaran kebun (untuk bisa ekspor); (3). Melakukan penguatan kelembagaan petani baik kelompok tani, gabungan kelompok tani maupun Asosiasi Jeruk RGL berbasis koperasi agar kegiatan pengelolaan kebun, panen komunal dan pemasaran jeruk bisa dikoordinasikan melewati bangsal pengemasan (packing house) yang memang sudah harus segera dibangun; (4). Komitmen dan konsistensi peningkatan dukungan Pemda dan perbankan setempat perlu dipelihara agar keberlanjutan agribisnis jeruk keprok RGL di Rejang Lebong biss terjamin. []    

Penulis: Arry Supriyanto,
Ahli Peneliti Utama Balitjestro
@2019

Agenda
Tanggal Kegiatan
Rabu, 16 Oktober 2019 Kunjungan Industri – SMKN 1 Gondang Nganjuk
Rabu, 16 Oktober 2019 Studi Banding oleh Diperta Kab. Tulungagung
Jumat, 15 November 2019 SMA IT Al- Hikmah