Petani Jeruk Terus Dihimbau untuk Gunakan Benih Jeruk Berlabel Biru

AlurProduksiBenihJerukBebasPenyakit

Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika akhir-akhir ini sering mendapatkan pertanyaan dan bahkan komplain dari petani yang mengeluhkan tanaman jeruknya tidak berkembang sebagaimana mestinya. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ada yang diakibatkan karena pemeliharaan yang kurang baik sebagaimana teknologi anjuran, namun ada pula yang salah varietas maupun salah dalam memilih benih. Petani tahunya benih dari Batu atau Malang itu dari Balitjestro, hal seperti inilah yang harus diluruskan.

Mendapati informasi seperti itu, Kepala Balitjestro Dr. Joko Susilo Utomo dalam arahannya (Jum’at 10/10/2014) saat konsolidasi Tim UPBS di Tlekung berpesan agar pencarian solusilah yang diutamakan. Jangan berlepas tangan dan hanya mencari pihak yang salah. Petani kadang tidak tahu bahwa benih proyek pemda yang diterima dan bermasalah itu bukan dari Balitjestro atau dalam hal ini Koperasi Citrus. Ada banyak penangkar di Batu – Malang dan di daerah lain yang ikut menangani benih jeruk. Oleh karena itu, perlu dicermati satu persatu permasalahan dan dicari solusinya, sebagaimana keluhan salah seorang petani dari Banyuwangi yang ternyata mendapati beberapa pohonnya salah varietas.

Bagi petani adalah sebuah kerugian ketika benih yang dipesan atau didapatkan ternyata heterogen varietas jeruknya. Selain ekspresi pertumbuhan dan buah serta hasil panen yang tidak optimal, harga jeruk pun terimbas jatuh. Tentunya hal ini sebuah kerugian besar bagi petani setelah perlu menunggu tiga tahun untuk berbuah. Perlu adanya sebuah kejujuran dari stake holder terkait agar memperhatikan aturan yang sudah disepakati bersama khususnya jika itu menyangkut benih jeruk berlabel (bersertifikat) dan kesesuaian varietas yang dipesan.

Petani diharapkan hanya memakai benih jeruk yang berlabel biru untuk menjaga kualitas tanaman jeruk dalam jangka panjang. Sebagaimana diungkapkan sebelumnya bahwa penangkar wajib untuk mempunyai SMM (Sistem Manajemen Mutu) yang menjamin produk yang dijual. Dengan adanya SMM akan menjamin konsumen jika terjadi sebuah permasalahan, misalnya ada petani yang komplain mengenai kesalahan varietas, maka yang bertanggungjawab adalah produsen benih dan petani bisa menuntut secara hukum.

Menurut Joko Susilo Utomo, tanaman jeruk tidak seperti tanaman lain misalnya kacang atau padi dimana ketika benih jeruk yang tidak berlabel ternyata di kemudian hari diketahui mengandung virus atau penyakit sistemik lainnya, maka resiko kematian tanaman jeruk itu sangat tinggi dan itu menular. Untuk benih padi dan kacang, virus yang menjangkiti tidak sampai mematikan namun menurunkan kualitas dan kuantitas produksi. Maka tidak heran jika peraturan perbenihan di jeruk dibuat sangat ketat.

Dalam survei yang dilakukan Arry Supriyanto di tahun 2012, sekitar 80-90% benih jeruk yang dihasilkan oleh dua kawasan industri benih di Purworejo-Jateng dan Kampar-Riau yang berkapasitas 1.500.000 – 2.000.000 benih jeruk per tahun itu adalah tidak berlabel dan sudah menyebar ke minimal 7 provinsi di Indonesia.

Benih jeruk bebas penyakit berlabel biru jaminan kualitas prima

Demikian pula yang terjadi di sentra penangkar benih jeruk di  Sambas-Kalbar dan Batola – Kalsel, benih jeruk yang ditanam di kebun petani sebagian besar tidak berlabel. Kondisi ini dapat menjelaskan mengapa penyebaran penyakit mematikan CVPD melalui distribusi ke daerah sentra produksi tidak terkendali dan mengakibatkan ambruknya agribisnis jeruk di Kabupaten Luwu Utara -Sulawesi Selatan, Jember – Jawa Timur, dan Sambas-Kalimantan Barat di mana lebih dari 30% pertanaman jeruknya dari sekitar 11.000 ha pada tahun 2010 dilaporkan telah terinfeksi oleh CVPD.

Adanya berbagai permasalahan sebaran benih yang tidak berlabel mengakibatkan industri jeruk nasional terus mengalami kemerosotan. Data luas areal jeruk terbaru yang dirilis oleh Pusdatin Kementan 2014 menunjukkan bahwa dalam 5 tahun (2008-2013) terakhir justru terjadi kemerosotan areal tanamn jeruk sekitar 7.000 hektar dari 60.190 hektar di tahun 2009 menjadi 53.517 hektar di tahun 2013. Tentunya salah satu sebab utama adalah serangan penyakit CVPD dan benih liar yang tidak berlabel. Untuk itu petani dihimbau untuk berhati-hati dalam memilih benih, pilih hanya benih jeruk berlabel biru yang ditanam, jangan yang lainnya. Tentunya Dinas Pertanian dan BPSB setempat, juga Dirjend Hortikultura sebagai pengambil kebijakan dan pengawas harus lebih tegas lagi dalam mengawasi dan menegakkan regulasi berbagai proyek pengadaan benih untuk petani.

Penangkar benih harus ikut bertanggung jawab mencegah penyebaran penyakit CVPD dan bahkan bukan justru sebagai agen penyebar penyakit yang harus diperhatikan serius dalam setiap gerak pengembangan agribisnis jeruk di tanah air.  [Zainuri | Balitjestro]

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event