Petani ASEAN Kunjungi Sentra Jeruk Keprok Batu 55

Petani ASEANSebanyak 35 Petani dari negara ASEAN yaitu Kamboja, Laos, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam dan Indonesia mengunjungi Balitjestro dalam rangkaian acara Penas 2014 di Kepanjen, Kabupaten Malang. Kunjungan ke Balitjestro khusus untuk mengetahui perkembangan jeruk indonesia dan dilanjutkan ke petani di Selorejo, Dau, Kabupaten Malang.

Dr.Joko Susilo Utomo, Kepala Balitjestro memberikan apresiasi tinggi dan berharap agar komunitas petani ASEAN ini mampu saling bertukar pengetahuan, khususnya untuk tanaman jeruk dan buah subtropika. Ancaman budidaya jeruk di dunia sama, yaitu huanglongbing. Indonesia, Malaysia dan negara ASEAN semua pernah terkena serangan yang sangat mematikan ini.

Nurhadi, Koordinator program Balitjestro mempresentasikan profil Balitjestro, kondisi jeruk nasional dan kondisi jeruk dunia. Varietas jeruk yang dimiliki oleh Balitjestro saat ini mencapai 228 varietas yang terdiri dari jenis jeruk keprok, jeruk manis, jeruk siam, jeruk herbal dan jeruk besar (pamelo). Indonesia dengan sebaran pulau yang luas dan kondisi wilayah yang heterogen perlu pengembangan jeruk spesifik lokasi.

Nurhadi mempresentasikan profil Balitjestro, posisi jeruk nasional dan dunia. (kanan) Joko Susilo Utomo Kepala Balitjestro menyerahkan sertifikat kepada perwakilan peserta Penas dari petani ASEAN

Salah satu peserta menanyakan mengenai Okucang (okulasi cangkok), yaitu jeruk yang ditanam di lahan pasang surut. jeruk ini memiliki batang bawah yang tahan terhadap tanah yang basah, bahkan terendam. Okucang relatif tahan terhadap genangan dan penyakit busuk akar. Bibit okucang jeruk mengkombinasikan metode okulasi dan cangkokan sehingga selain sesuai untuk lahan pasang surut juga hemat dalam penggunaan mata tempel.

Bibit okucang yang dihasilkan mempunyai sistem perakaran yang menyebar di daerah permukaan lapisan olah seperti bibit cangkokan yang sering digunakan petani  di lahan pasang surut.  Selain itu, bibit okucang dinilai hemat dan lebih efisien dalam penggunaan materi perbanyakan dibandingkan dengan cara cangkokan.

Walaupun waktu yang diperlukan memproduksi bibit okucang lebih lebih lama 2 – 3 bulan dibandingkan dengan cara okulasi, bibit okucang terbukti sesuai untuk lahan berair tanah dangkal seperti lahan pasang surut yang banyak dijumpai di Kalimantan, Sumatera dan Papua.

Setelah sesi materi dan diskusi berakhir, kunjungan dilanjutkan ke lapang yaitu di kebun Percobaan Tlekung, kemudian dilanjutkan kunjungan dan study ke sentra jeruk petani di Selorejo, Dau Kabupaten Malang. Daerah ini merupakan sentra jeruk manis pacitan yang mulai berganti menjadi sentra jeruk keprok batu 55. Petani mendapat keuntungan yang lebih besar ketika menjual jeruk keprok batu 55. [zh/balitjestro]

Petani ASEAN (38)

Sentra jeruk di Selorejo, Dau, Kabupaten Malang. 

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event