Permasalahan Apel di Kota Batu

[cml_media_alt id='1589']Apel Anna Kota Wisata Batu[/cml_media_alt]

Sistem agribisnis apel di Kota Batu sudah terbangun sejak lama, dan dalam perkembangannya mengalami dinamika pasang surut sesuai dengan permasalahan yang ada pada masa tersebut. Sejak krisis moneter pada tahun 1997 agribisnis apel mulai mengalami kelesuan pada akhir-akhir ini. Secara umum empat masalah penting yang dihadapi dalam pengembangan agribisnis apel pada saat ini adalah 1) penurunan mutu lahan, 2) harga buah yang sangat fluktuatif, 3) akses permodalan bagi petani kecil lebih sulit, dan 4) kelembagaan belum optimal.

1. Penurunan Mutu Lahan

Laju penurunan mutu lahan apel di wilayah Kota Batu terjadi relatif cepat karena sebagian besar merupakan kawasan pegunungan berlereng curam dengan karakteristik tanah yang peka terhadap erosi. Disisi lain, luas kawasan hutan semakin sempit, usahatani yag dilakukan oleh petani banyak yang tidak menerapkan kaidah konservasi lahan, dan ketergantungan petani terhadap bahan kimia sangat tinggi.

Dalam praktek, baik kualitas maupun kuantitas teknologi yang diterapkan oleh petani sangat bergantung pada harga buah apel pada musim tersebut, padahal fluktuasi harga buah ditingkat petani sangat besar. Pada saat harga tinggi, petani akan memelihara kebunnya secara optimal bahkan cenderung berlebih. Sebaliknya pada saat harga panen rendah seperti yang biasa terjadi pada bulan Nopember-Desember, pemeliharaan kebun yang diterapkan oleh petani menjadi tidak optimal. Sebenarnya petani menyadari bahwa pemeliharanan kebun yang kurang baik akan berdampak negatif  dalam waktu lama, tetapi petani kecil umumnya tidak mempunyai akses permodalan sebaik petani kelas menengah dan besar. Selain itu, lembaga pelaku agribisnis apel dalam beberapa subsistem belum optimal baik kelengkapan maupun aktivitasnya sehingga mempengaruhi kenerja sistem agribisnisnya secara keseluruhan.

Populasi tanaman  apel di kebun petani  adalah jenis Apel Rome Beauty, Manalagi dan Anna dengan menggunakan satu jenis batang bawah yaitu apel liar (Soekartawi, 2002). Pada 5 tahun terakhir ini terlihat adanya populasi kutu sisik pada tanaman apel yang merupakan informasi yang harus ditindaklanjuti sehingga dapat diketahui akibat yang disebabkan hadirnya hama kutu sisik. Hama ini telah dilaporkan juga menyerang tanaman jeruk, yang kemudian termasuk dalam hama utama tanaman jeruk. Perhatian yang intensif terhadap hama kutu sisik diharapkan mengurangi kerugian yang akan dialami oleh pengelola tanaman apel.

 

Tanaman yang terserang berat akan menunjukkan gejala seperti kekurangan air, daun berwarna kuning, dan rontok, ranting dan tunas mati. Cabang  retak dan mengeluarkan blendok. Daun dan buah terserang menunjukkan warna kuning (halo) disekitar populasi Kutu sisik. Beberapa jenis Kutu sisik dapat mengakibatkan tanaman mati.

Kutu sisik menyerang daun, ranting dan buah, menyukai tempat-tempat yang terlindung, seperti di bagian bawah permukaan daun di sepanjang tulang daun. Seperti halnya jenis scale lainnya, jenis ini mengeluarkan toksin saat menusuk pada tanamn. Daun yang terserang akan berwarna kuning, terdapat bercak-bercak klorotis dan seringkali membuat daun menjadi gugur.  Serangan berat akan mengakibatkan ranting dan cabang menjadi kering serta terjadi retakan-retakan pada kulit. Jika serangan terjadi di sekeliling pangkal buah, akan menyebabkan buah gugur.

Akibat serangan pada buah dapat menurunkan kualitas, karena kotor dan bila dibersihkan meninggalkan bercak-bercak hijau atau kuning pada kulit buah. Tanaman yang terserang berat akan menunjukkan gejala seperti kekurangan air, daun berwarna kuning, dan rontok, ranting dan tunas mati. Cabang  retak dan mengeluarkan blendok. Daun dan buah terserang menunjukkan warna kuning (halo) disekitar populasi Kutu sisik. Beberapa jenis Kutu sisik dapat mengakibatkan tanaman mati (Tim PRA LERD, 2006).

[cml_media_alt id='1590']Ir. Suhariyono peneliti Apel di Balitjestro [/cml_media_alt]
Ir. Suhariyono peneliti Apel di Balitjestro
Sesuai hasil wawancara dengan petani, dilaporkan bahwa masalah utama penyakit adalah adanya serangan penyakit Bercak daun, Embun Tepung, Mata ayam dan Phytopthora. Salah satu penyakit utama pada komoditas apel adalah penyakit bercak daun Marssonina yang disebabkan oleh jamur Marssonina coronaria. Gejala penyakit ini diawali dengan adanya bercak tidak teratur, berwarna cokelat, permukaan daun bagian atas timbul titik hitam yang dimulai dari daun tua kemudian daun muda hingga seluruh bagian gugur. Perkembangan penyakit ini juga sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang terjadi 1 – 2 minggu setelah rompes, daun menjadi kering dan infeksi berkembang sampai pada ranting.

Gejala penyakit  bercak daun Marssonina coronaria pada beberapa varietas tanaman apel pada awalnya daun keempat dan kelima dari pucuk timbul bercak-bercak cokelat kehitaman, yang meluas menjadi bercak-bercak bulat dengan garis tengah 0,5-1,5 cm. Bercak-bercak dapat bersatu sehingga membentuk bercak yang besar yang bentuknya tidak teratur. Pada bercak permukaan atas timbul titik-titik berwarna hitam. Biasanya penyerangan dimulai dari daun-daun agak tua, kemudian menular ke daun-daun muda, akhirnya hampir seluruh daun tanaman tersebut berwarna cokelat, nekrose, kering dan sebagian gugur. Bercak-bercak yang tumbuh diatas permukaan daun, berbentuk bulat, berdiameter 5-10 mm, makin lama bercak makin meluas sehingga bersatu, berbentuk tak teratur dan berwarna cokelat dengan tepi keunguan (Dinas Pertanian Kota Batu, 2004).

Terjadinya penyakit kanker pada ketiga macam kepemilikan lahan menunjukkan tingkat sanitasi yang masih harus ditingkatkan, karena penyakit tersebut terjadi pada kondisi iklim mikro yang lembab disekitar batang utama, sedangkan penyakit Jamur upas hanya terjadi pada kepemilikan lahan 0,5 -1 ha, sedangkan pada kepemilikan lahan <0,5 ha, dan > 1 ha tidak ditemukan serangan.

Ditemukan serangan penyakit busuk buah yang disebabkan oleh jamur Gloeosporium sp. Petani lebih mengenal dengan penyakit mata ayam, karena gejalanya yang mirip mata ayam dengan titik penetrasi yang jelas di tengah gejala. Namun perlu dilakukan kajian lebih lanjut kemungkinan adanya serangan jamur sekunder pada titik penetrasi yang memperparah gejala yang terjadi. Penyakit busuk buah seringkali menyerang buah yang telah berumur diatas 3 bulan atau hampir rompes. Pertahanan tanaman secara aktif ditunjukkan dengan adanya warna merah disekitar gejala yang melokalisir serangan oleh jamur. Pada kondisi yang tidak terlalu lembab dan buah mendapat matahari langsung akan menghambat terjadinya penyakit, karena spora yang ada tidak dapat tumbuh pada kondisi tersebut.

Keberadaan lapisan kutikula dan lapisan lilin mempersulit pasak infeksi jamur menembus lapisan epidermis daun untuk mencapai jaringan yang lebih dalam. Selain menghambat proses penetrasi, lapisan kutikula dan lapisan lilin juga berperan mempengaruhi pergerakan air yang menempel di permukaan epidermis daun. Lapisan lilin mempengaruhi kebasahan daun, alasannya karena lapisan lilin dapat mencegah kontak air dengan permukaan daun. Hal ini mempengaruhi tingkat kelembapan yang terjadi di permukaan daun sehingga berpengaruh terhadap kemampuan jamur untuk berkecambah dan melakukan infeksi.

2. Harga  Fluktuatif

Secara umum minat pelaku agribisnis apel (petani dan pedagang) terhadap pengembangan apel sangat baik. Bagi petani, minat tersebut sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga buah di yang dibeli pedagang.  Meskipun biaya produksi terutama harga pupuk kimia dan pestisida meningkat, minat petani terhadap tanaman apel masih tinggi asalkan diikuti oleh kenaikan harga panen seperti yang terjadi pada musim ini yaitu Rp7.000,- s/d 9.000,- per kg di tingkat petani (panen bulan September 2009). Namun demikian, kenyataannya fluktuasi harga buah apel di tingkat petani sangat tinggi, yaitu harga terendah hanya sekitar Rp. 2.000,-/kg jika saat panen raya bersamaan dengan musim panen buah lainnya, terutama panen mangga yang biasanya panen mulai Oktober dan berakhir sekitar Desember (Soekartawi, 2002). Kondisi ini biasanya diikuti dengan menurunnya intensitas pemeliharaan kebun yang dapat mengakibatkan kerusakan tanaman pada musim berikutnya. Harga apel yang diharapkan oleh petani adalah sekitar Rp 5.000,- agar petani dapat memperoleh keuntungan yang layak dan minat untuk melihara apel secara optimal dapat dipertahankan.

Bukan hanya petani, pedagang pun lebih senang pada saat harga tinggi karena pada saat tersebut kuantitas maupun kualitas transaksinya lebih banyak sehingga keuntungan yang didapat lebih tinggi dibandingkan dengan transaksi yang dilakukan pada saat harga lebih rendah.   Fluktuasi harga yang terlalu tinggi apabila dapat dikurangi akan membawa pengaruh besar terhadap perkembangan agribisnis apel di Kota Batu, karena berpengaruh langsung terhadap peningkatan pendapatan para pelaku utama agribisnis apel yaitu petani dan pedagang (Soekartawi, 2002).

3. Akses Permodalan Petani

Permodalan merupakan salah satu penunjang utama dalam pengembangan agribisnis apel.  Bagi petani besar, permodalan belum menjadi masalah utama karena selain modal pribadi relatif besar, akses permodalan mereka juga lebih mudah.  Kelompok petani besar dan menengah apabila membutuhkan tambahan modal usahatani biasanya lebih mudah untuk mengakses ke pedagang langganan dan kios saprodi sehingga pengelolaan kebunnya menjadi lebih baik.  Sebaliknya, petani kecil biasanya akses modal ke kios dan pedagang relatif lebih sulit.  Petani umumnya tidak mau/kurang memanfaatkan sumber modal dari bank karena masalah birokrasi dan anggunan yang dianggap kurang memihak petani kecil.

Satu-satunya sumber modal usaha bagi petani kecil yang selama ini dianggap efektif adalah koperasi kelompok tani. Masalahnya adalah tidak semua kelompok tani aktif dan memiliki koperasi seperti Kelompok Tani Makmur Abadi di Tulungrejo dan Bumi Jaya II di Bumiaji. Kedua kelompok tani ini telah memiliki koperasi untuk membantu kebutuhan usahatani anggotanya, bahkan koperasi Kelompok Tani Makmur Abadi selain memiliki unit usaha kios saprodi juga telah mengembangkan beberapa unit usaha yang komersial seperti agrowisata kebun apel, menyewa kebun apel, pengolahan pupuk organik, dan unit simpan pinjam.  Keberhasilan kelompok tani Makmur Abadi sebaiknya dijadikan model dalam pemberdayaan dan pembinaan kelembagaan petani apel di Kota Batu.

4. Peran Kelembagaan belum Optimal        

Agribisnis yang tangguh membutuhkan dukungan kelembagaan yang kuat yang memiliki dinamika selaras dengan perkembangan lingkungan.  Saat ini jumlah kelompok tani apel di Kota Batu telah mencapai 26 kelompok, tetapi yang bergabung dalam Gapoktan Apel Batu Lestari hanya 16 kelompok, selanjutnya dari anggota gapoktan yang aktif hanya 13 kelompok tani.  Kondisi ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain hambatan dari dalam petani itu sendiri yang umumnya memiliki karakter relatif egois untuk berbagi pengetahuan tentang teknologi budidaya yang diterapkannya sehingga kesadaran untuk berkelompok juga kurang.  Sebenarnya masalah ini dapat dikurangi apabila dilakukan pembinaan yang intensif oleh petugas terkait.  Sayangnya hingga saat ini, pembinaan yang dilakukan oleh petugas kepada sebagian kelompok tani dirasa masih sangat kurang oleh petani. 

Lemahnya kelembagaan di tingkat petani dapat mengakibatkan posisi tawar yang dimiliki petani juga lemah. Peningkatan kekuatan kelembagaan petani biasanya akan diikuti oleh perbaikan posisi tawarnya, misalnya dalam penentuan harga jual buah, akses permodalan, dan lain-lain.  Kekuatan agribisnis apel lokal yang dikenal sebagai “apel malang” tidak hanya ditentukan oleh pelaku agribisnis apel di Kota Batu, tetapi juga oleh pelaku agribisnis apel di Nongkojajar dan Poncokusumo karena ketiga daerah tersebut merupakan penghasil sekaligus pemasok apel malang di Indonesia. Oleh karena itu program pemberdayaan kelembagaan agribisnis apel di Kota Batu sebaiknya bisa dikembangkan hingga tingkat Malang Raya (Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo) agar usaha pengembangan agribisnisnya menjadi lebih efektif. 

Pengembangan agribisnis apel juga perlu dilengkapi dengan sarana pendukung yang memadai seperti kios pemasok sarana produksi, jasa perbaikan alat dan mesin pertanian (alsintan),  bengkel pembuat/jasa perbaikan mesin pasca panen dan pengolah hasil, dan lain-lain.  Saat ini ketersediaan sarana strategis tersebut di Kota Batu baik kuantitas maupun kualitasnya sudah cukup memadai untuk mendukung pengembagan agribisnis apel.  Setiap desa memiliki kios saprodi rata-rata 2 buah, dan di Kota Batu terdapat 10 bengkel yang melayani jasa perbaikan alsintan secara memadai, serta 2 bengkel pembuat/ perbaikan mesin/alat grading dan  pengolahan buah apel.  

 

Oleh: Suhariyono
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Tinggalkan Balasan