Perlunya Penataan Ulang Perbenihan Jeruk Menuju Agribisnis Jeruk Indonesia yang Berdaya Saing

PerbenihanJerukNasional
Gambar: Benih berlabel biru Koperasi Citrus siap kirim

Arry Supriyanto prihatin ketika melihat data terakhir dan berbagi laporan perkembangan jeruk Indonesia di daerah sentra. Di sisi lain, pengembangan jeruk keprok di berbagai daerah perlu disyukuri karena senantiasa bertambah, sampai saat ini diperkirakan bertambah 10.000 hektar. Namun di daerah sentra yang lama (khususnya jeruk siam) di berbagai wilayah mengalami kemerosotan signifikan sebanyak 17.000 hektar. Data luas areal jeruk terbaru yang dirilis oleh Pusdatin Kementan 2014 menunjukkan bahwa dalam 5 tahun (2008-2013) terakhir justru terjadi kemerosotan areal tanaman jeruk sekitar 7.000 hektar dari 60.190 hektar di tahun 2009 menjadi 53.517 hektar di tahun 2013.

Untuk itu, Arry Supriyanto (10/10/2014) mengajak semua instansi terkait mulai dari pemerintah daerah sampai pusat untuk segera bertindak, khususnya Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Badan Litbang Pertanian yang mendapat mandat komoditas penelitian dan pengembangan tanaman jeruk. Langkah nyata dan tegas harus segera dilakukan.

Diawali dari Perbenihan (Lagi) 

Pengembangan yang belum didukung teknologi inovatif mengakibatkan produk yang dihasilkan berdaya saing rendah dan keberlanjutannya sering terganggu dengan pemeliharaan yang tidak optimal dan kehadiran serangan penyakit yang mematikan. Pembangunan kawasan agribisnis jeruk diawali di perbenihan, artinya pengembangan agribisnis jeruk yang berdaya saing dan berkelanjutan menuntut dukungan industri benih yang tangguh.  Sistem produksi dan distribusi benih jeruk bebas penyakit yang berlaku secara nasional saat ini, sebenarnya jika diterapkan dengan baik akan memungkinkan penangkar benih jeruk mampu memenuhi kebutuhan akan benih jeruk dalam jumlah banyak dan berkualitas prima.

Di lapang, benih jeruk bebas penyakit yang berlabel biru beredar bersamaan dengan benih liar. Hal ini bisa disebabkan oleh keterbatasan ketersediaan benih jeruk, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan petani, dan lemahnya penegakan hukum terhadap pelanggaran oleh penangkar dalam proses produksi benih jeruk.

Sistem produksi dan distribusi benih jeruk bebas penyakit mengikuti pentahapan awal seleksi Pohon Induk Tunggal, diikuti dengan pembersihan dari patogen sistemik melalui kultur shoot-tip (STG) dan indeksing untuk mengetahui keberadaan pathogen penyebab penyakit termasuk penyebab penyakit CVPD yang semuanya dilaksanakan di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Distribusi selanjutnya oleh pihak pengembangan mengikuti alur Blok Fondasi (BF) – Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) – Blok Penggandaan Benih Komersial atau para penangkar benih hingga benih berlabel biru diterima petani. BPSB akan mengawasi  setiap tahapan penting proses produksi, dan  jika dinyatakan lulus, benih yang dihasilkan berhak diberi label biru.

Penataan Ulang

 Pengembangan agribisnis jeruk di Indonesia belum didukung sepenuhnya oleh inovasi teknologi hasil penelitian-pengkajian. Industri perbenihan jeruk ternyata belum mampu mendukung agribisnis jeruk nasional sehingga produk yang dihasilkan selain berdaya saing rendah, juga tidak ada jaminan keberlanjutannya. Salah satu penyebab utamanya adalah ketersediaan benih berlabel biru bermutu yang selalu tidak mencukupi kebutuhan untuk pengembangan areal baru.

Penggunaan benih liar yang leluasa beredar di pasar menjadi pilihan petani yang belum paham resikonya selain harganya biasanya sangat murah. Variasi kinerja dalam pengelolaan BF dan BPMT yang difungsikan sebagai generator kunci kesuksesan produksi benih jeruk di Indonesia juga dirasakan. Kinerja sistem produksi dan distribusi benih jeruk nasional belum optimal dan adanya kebijakan perbenihan ditingkat provinsi semakin menambah kerumitan sehingga koordinasi dan sinergisme antara pusat dan daerah menjadi sulit dilakukan. Akibatnya, proses produksi benih jeruk menjadi tidak efisien sehingga tidak mampu mencukupi kebutuhan petani baik dalam hal jumlah maupun waktu tanam yang ideal.

Langkah penataan ulang, perbaikan teknologi produksi dan distribusi benih, koordinasi dan sinergisme pelaku perbenihan antar pusat-daerah-yang didukung oleh regulasi dan kebijakan perbenihan jeruk perlu segera dirumuskan dan di-implementasikan menuju terwujudnya industri benih jeruk yang tangguh dan mampu mendukung pengembangan agribisnis jeruk berdaya saing tinggi dan berkelanjutan. [Zainuri | Balitjestro]

 

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event