Perkembangan Apel di Poncokusumo

[cml_media_alt id='2243']apel poncokusumo[/cml_media_alt]Untuk melihat kondisi pertanaman apel di poncokusumo Ka Balitjestro menugaskan staf peneliti dari Balijestro untuk melakukan kunjungan lapang di sana. Survey dilakukan di Desa Poncokusumo, Kecamatan Poncokusumo sebagai salah satu sentra produksi apel di Kabupaten Malang. Wilayah ini berada pada ketinggian 700 – 1000 mdpl. Luas lahan apel di Desa Poncokusumo sebanyak 250 ha dengan seorang petani rata-rata memiliki 0,25 ha lahan apel. Rata-rata umur tanaman adalah 20 – 30 th dengan kondisi tanaman yang cukup bagus.

Saat ini fase tanaman apel di lahan petani ada yang sedang berbunga, berbuah, panen dan bahkan sudah ada yang rompes. Pada tahun 1998 saat terjadi krisis moneter, harga saprodi meningkat tajam, hal ini menyebabkan banyak petani yang beralih fungsi dan terjadi penurunan luasan pertanaman apel hingga tahun 2000-an. Namun, sejak tahun 2007 sampai sekarang petani apel sudah mulai meningkat pemahamannya, apalagi para petani apel di Poncokusumo telah beralih generasi ke petani-petani muda sehingga mereka lebih terbuka terhadap teknologi baru. Perkembangan luasan pertanaman apel juga terus meningkat dimana saat ini selalu ada penambahan 2 – 5 ha lahan apel tiap tahunnya.

Pemeliharaan tanaman apel oleh petani sangat baik. Mereka cukup memperhatikan kebutuhan bahan organik untuk tanah. Pada tanaman umur 20 – 30 tahun, pupuk organik yang diberikan bisa mencapai 100 kw per pohon. Salah satu cara pemeliharaan tanaman yang sederhana namun cukup efektif yang diterapkan oleh petani apel di Poncokusumo adalah aplikasi pemberian zat pengatur tumbuh Dormec dengan cara di oleskan secara langsung pada tunas-tunas dorman. Jadi bukan dengan aplikasi penyemprotan. Dengan cara ini, kemunculan tunas akan lebih teratur dan jumlahnya menjadi tidak berlebihan. Aplikasi ZPT juga menjadi lebih efisien dan efektif

[cml_media_alt id='2242']distribusi stroberi[/cml_media_alt]Selain melihat kondisi apel survey juga dilakukan untuk  mengetahui tentang distribusi stroberi Garut di wilayah malang raya. Stroberi tersebut dipasok dari Garut sebagai sentra produksi ke Malang rata-rata 6 kw – 1 ton per hari. Alasan distributor mengambil produk dari Garut karena kualitas buah stroberi dari sana lebih bagus, bisa bertahan sampai 3 hari, sedangkan stroberi dari Batu hanya bertahan 1 hari saja bahkan sore sudah lunak. Area distribusi meliputi wilayah Malang, Batu dan pasuruan, serta dipasarkan ke supermarket maupun pasar tradisional.

 

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event