Penyebaran Pohon Induk Jeruk Bebas Penyakit di Indonesia

Program rehabilitasi jeruk telah dilaksanakan di Indonesia. Program rehabilitasi menggunakan sistem pengadaan benih jeruk bebas penyakit yang diketahui merupakan teknologi yang paling modern di Asia Tenggara. Program tersebut menghasilkan benih jeruk bermutu yang dicirikan: (1) bebas patogen sistemik, (2) terjamin kemurnian batang atas dan batang bawahnya, dan (3) tahapan proses produksinya sesuai dengan regulasi pengawasan dan sertifikasi benih.  Benih bermutu dalam praktek merupakan benih berlabel bebas.

Program rehabilitasi jeruk yang multi disiplin tersebut memfokuskan pada kegiatan produksi pohon induk dan distribusi materi benih jeruk bebas penyakit. Para peneliti jeruk telah mampu menguasai teknologinya, merumuskan alur distribusi dan sebagai langkah awal telah membangun 4 Blok Fondasi, yaitu di Riau, Kalimantan Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan yang dianggap mewakili seluruh wilayah Indonesia. Pada tahap selanjutnya, pembangunan Blok Fondasi bertambah di propinsi Bali, Jawa Barat, Jawa Tengah, NTB, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Timor Leste, Sumatera Utara, dan Jambi. Blok Fondasi dibangun di Balai Benih Induk Hortikultura Propinsi dalam rumah kasa yang ‘insect proof’ dan diindeksing secara periodik. Saat ini Blok Fondasi telah dibangun di 15 Propinsi, sedangkan BPMT telah dibangun di 19 Propinsi.

Pohon induk jeruk bebas penyakit berarti bebas patogen sistemik CVPD (Cirus Vein Phloem Degeneration), CTV (Citrus Tristeza Virus), CVEV (Citrus Vein Enation Virus) yang tular vektor dan yang non tular vektor CEV (Citrus Exocortis Viroid) dan CPsV (Citrus Psorosis Virus).  Kelima macam penyakit ini dideteksi telah dijumpai dan sebagian lagi diprediksikan telah ada di pertanaman jeruk dan perlu diwaspadai pada setiap upaya rehabilitasi atau pengembangan jeruk di Indonesia.

Pohon induk jeruk bebas penyakit dklasifikasikan sebagai (1) Benih penjenis/(Breeder seed) adalah klasifikasi benih paling awal yang biasanya dihasilkan dan dalam pengawasan pemulia tanaman yang menseleksi atau merakit varietas tersebut, (2) Benih dasar / Blok Fondasi (Foundation Seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih sumber, dan  (3) Benih pokok / Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT/Stock seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih dasar. Sedangkan benih jeruk yang diproduksi di Blok Penggandaan Mata Tempel oleh penangkar berdasarkan regulasi pengawasan dan sertifikasi benih merupakan benih sebar jeruk untuk petani.

Proyeksi kebutuhan benih jeruk hingga tahun 2020 berdasarkan program dari direktorat teknis adalah sekitar 12 juta benih untuk beberapa varietas jeruk komersial. Oleh karena itu, kebutuhan benih tersebut perlu didukung oleh ketersediaan benih induk jeruk bebas penyakit yang mencukupi. Balitjestro merupakan satu-satunya Unit Pelaksana Teknis (UPT)  Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang bertanggungjawab dalam mempoduksi dan mendistribusikan pohon induk jeruk bebas penyakit tersebut dalam rangka mendukung pengembangan agribisnis jeruk di Indonesia.

Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian    menempati posisi strategis dalam  industri perbenihan nasional, karena benih sumber yang dihasilkan akan menjadi sumber bagi produksi benih yang di tanam petani. Sampai dengan tahun 2011, UPBS Balitjestro telah mendistribusikan pohon induk jeruk klas BF ke pengguna sebanyak 1.799 pohon tersebar ke propinsi Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, Bengkulu, Jabar, Jateng, Yogyakarta, Jatim, Bali, NTT, Kalbar, Kalsel dan Papua. Sedangkan klas BPMT terdistribusi sebanyak 13.046 pohon ke propinsi  Aceh, Sumut, Sumbar, Sumsel, Riau, Jambi, Bengkulu, Jabar, Jateng, DIY, Jatim, Bali, NTB, NTT, Kalbar, Kalsel, Kaltim, Sulteng,  Sulsel, Sultra, Gorontalo dan Papua (tabel 1).

Tabel 1. Produksi pohon induk jeruk bebas penyakit klas BF dan BPMT tahun 2005- 2011 (pohon)

TAHUN JUMLAH POHON INDUK JERUK (tanaman)
KLAS BF KLAS BPMT
2005 550 4.000
2006 287 1.031
2007 162 2.565
2008 115 1.990
2009 388 1.400
2010 297 2.060
2011 266 4.524
JUMLAH 2.065 17.570

Pada tahun 2005, penyebaran pohon induk jeruk didominasi jeruk siam, ini seiring dengan meningkatnya minat petani untuk menanam jeruk siam sehingga kebutuhan mata tempel juga diperlukan cukup banyak . Pada tahun 2006-2008 varietas yang didistribusikan mulai bervariasi yaitu antara jeruk siam, keprok, pamelo dan manis. Kelompok jeruk pamelo yang diminati adalah pamelo Nambangan dan Magetan yang merupakan jeruk besar unggul nasional dataran rendah. Sedangkan tahun 2009 sampai dengan 2011, penyebaran didominasi oleh jeruk keprok yaitu keprok Batu 55 dan  Garut (dataran tinggi), keprok Madura, Tejakula, Borneo Prima, Terigas dan Selayar (dataran rendah). Perubahan permintaan ini seiring dengan kebijakan pemerintah untuk mengurangi dominasi jeruk siam yang dikonsumsi masyarakat di kota besar 1-2 kali seminggu, dengan jalan memperluas pengembangan jeruk berwarna kuning dalam rangka substitusi impor, mengingat sejak beberapa tahun terakhir permintaan jeruk mandarin (keprok) terus meningkat, yang ditandai dengan masih tingginya angka impor jeruk keprok yaitu sebesar 68.535 ton pada tahun 2006, yang sebagian besar berasal dari China disamping Pakistan. Sehingga ketersediaan pohon induk jeruk keprok ini diharapkan dapat mendukung arah pengembangan jeruk berwarna kuning melalui perluasan areal dan pemantapan areal dengan rehabilitasi dan top working.

Berdasarkan keberadaan pohon induk jeruk BPMT yang sudah tersebar dan apabila alur proses produksi benih jeruk bebas penyakit berjalan sesuai dengan tahapannya, maka mulai tahun 2005-2011 potensi pohon induk BPMT tersebut sebagai sumber mata tempel untuk menghasilkan benih sebar minimal sebanyak 31.807.250 tanaman, dengan perhitungan pada tahun I, satu induk BPMT akan menghasilkan 250 mata tempel, tahun II menghasilkan 500 mata tempel dan tahun ke tiga dan seterusnya menghasilkan 750 mata tempel (tabel 2).

Perhitungan ini mengesampingkan keberadaan BF karena BF ini apabila diturunkan bisa menjadi BPMT yang merupakan sumber mata tempel. Dari 31.807.250 tanaman yang ada, jika ditanam dalam 1 ha lahan yang berisi 500 tanaman maka total terdapat luasan tanaman jeruk sebesar 63.614,5 ha.  Luasan ini dapat bertambah apabila digabungkan data di tingkat petani yang menangkar sendiri benih jeruknya, baik mengikuti alur produksi benih jeruk yang benar maupun tidak.

Tabel 2. Perhitungan pohon induk BPMT menghasilkan benih sebar (tanaman)

JUMLAH BPMT KONVERSI KE BENIH SEBAR ( X 1.000)
2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JUMLAH
Th 2005 4 1.000 2.000 3.000 3.000 3.000 3.000 15.000
Th 2006 1,031 257,75 515,5 773,25 773,25 773,25 3.093
Th 2007 2,565 641,25 1.282,50 1.923,75 1.923,75 5.771,25
Th 2008 1,99 497,5 995 1.492,50 2.985
Th 2009 1,4 350 700 1.050
Th 2010   2,060 515 515
Th 2011 4.524 3.393 3.393
JUMLAH 13,046 31.807,25

Gambar 2 merupakan alur proses produksi pohon induk jeruk bebas penyakit yang merupakan alur proses regulasi benih jeruk bebas penyakit yang diakui secara nasional sehingga dalam penangkaran benih jeruk bebas penyakit harus mengacu pada proses ini. Sebelum di sebar ke petani, suatu calon varietas harus ditentukan Pohon Induk Tunggalnya, kemudian dari pohon induk yang terpilih diambil materi untuk perbanyakan atau benih keturunannya untuk dilakukan “pembersihan” dari patogen sistemik penyakit jeruk di laboratorium dengnan menggunakan teknik Penyambungan Tunas Pucuk (PTP) atau Shoot Tip Grafting (STG).  Prinsip dasar dari teknik ini, adalah menyambungkan jaringan meristem paling ujung tunas jeruk pada varietas tertentu dengan batang bawah yang telah dipersiapkan sebelumnya. Alasannya, patogen sistemik yang telah ada pada jaringan tanaman pohon induk belum sampai pada bagian ujung tunasnya sehingga akan diperoleh individu tanaman hasil penyambungan secara in vitro yang bebas dari patogen sistemik.

Untuk memastikan bebas tidaknya dari patogen sistemik maka benih harus dilakukan indeksing  dengan menggunakan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) atau Eliza. Setelah dinyatakan bebas, maka benh tersebut menjadi Pohon Induk (PI) sebagai duplikat dari PIT. Dari PI ini dapat diturunkan menjadi BF, diturunkan lagi menjadi BPMT sampai menjadi benih sebar yang siap di tanam di lapang. Proses menghasilkan BF sampai menjadi benih sebar ini mendapat pengawaasan secara ketat dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB).

[cml_media_alt id='890']alur-produksi-benih[/cml_media_alt]

Gambar 1. Alur  proses  produksi  pohon  induk  (benih  penjenis) dan  distribusi  bibit  jeruk  bebas  penyakit

Pada tahun 2009 BF dari Balitjestro dikirim ke 4 propinsi yaitu propinsi Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Barat dan Bali. Sedangkan untuk BPMT dikirim ke propinsi Aceh, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Kalimantan Selatan. Pada tahun 2010 BF dikirim ke 8 propinsi yaitu Propinsi Jambi, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali dan Papua. Sedangkan untuk BPMT dikirim ke 8 Propinsi yaitu Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Sulawesi Tenggara.

Pada tahun 2011 BF dikirim ke 8 propinsi yaitu Sumatera Barat, Bengkulu, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali dan Papua. Sedangkan BPMT dikirim ke 12 Propinsi yaitu Sumatera Barat, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTT, Sulawesi Tenggara dan Papua.

Sampai dengan tahun 2011 benih jeruk bebas penyakit kelas blok fondasi (BF) dan kelas blog penggandaan mata temple (BPMT) telah tersebar di 19 Propinsi di Indonesia seperti pada gambar 2 di bawah ini.

[cml_media_alt id='891']Distribusi BPMT di 19 Propinsi[/cml_media_alt]

Gambar 2. Penyebaran BF dan BPMT di 19 Propinsi di Indonesia

Dengan demikian keberadaan pohon induk jeruk bebas penyakit BF dan BPMT yang sudah tersebar pada 19 Propinsi di Indonesia merupakan aset yang berharga dalam rangka mendukung pengembangan jeruk sehat di Indonesia. Kebijakan Pemda melalui program Dinas Pertanian setempat mempunyai pengaruh yang kuat dalam pengelolaan pohon induk jeruk bebas penyakit.

[cml_media_alt id='893']jeruk label[/cml_media_alt]

 

Gambar: Benih sumber jeruk bebas penyakit kelas BPMT siap kirim

 

[cml_media_alt id='892']BF BPMT 2[/cml_media_alt]

Gambar. Screen house penyimpanan pohon induk jeruk bebas penyakit di KP Punten Balitjestro

 

[cml_media_alt id='889']BF BPMT (1)[/cml_media_alt]

Gambar. Kondisi tanaman jeruk bebas penyakit kelas BF di KP Punten Balitjestro

 

Oleh: Suhariyono dan Agus Sugiyatno
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Tinggalkan Balasan