Mengenal Penyakit CVPD (Huanglongbing)

 

[cml_media_alt id='338']huanglongbing-001[/cml_media_alt]

Picture; Kutu loncat Jeruk Asia yang menyerang tanaman jeruk dan membawa penyakit dari pohon satu ke pohon lainnya. Di Florida, banyak tanaman jeruk terserang penyakit ini. Foto oleh Sam Droege, USGS Patuxent Wildlife Research Center.

 

Kutu loncat Diapohorina citri Kuw. merupakan serangga penular atau vektor penyakit CVPD yang mempercepat penyebaran penyakit ini di lapang. Satu ekor vektor CVPD yang mengandung patogen L. asiaticus terbukti mampu menularkan penyakit sistemik ini ke pohon jeruk sehat. Jika di kebun jeruk kita tidak dijumpai pohon yang terinfeksi penyakit CVPD karena ditanami dengan bibit jeruk bebas penyakit, maka kehadiran serangga penular ini hanya merupakan hama biasa yang merusak pupus atau tunas muda.

Agar pengendalian vektor CVPD lebih tepat sasaran, dinamika populasi D. citri di target wilayah pengembangan yang sangat dipengaruhi kondisi lingkungan setempat perlu dipahami berdasarkan hasil monitoring. Monitoring dapat dilakukan dengan menggunakan perangkap kuning (‘Yellow trap’) yang dipasang diantara pohon jeruk setinggi sekitar setengah tajuk tanaman. Pengendalian serangga penular CVPD akan efektif jika dilakukan secara serentak oleh setiap anggota Kelompok Tani Jeruk. Artinya setiap Kelompok Tani Jeruk bertanggung jawab terhadap pengendalian serangga D. citri di wilayah masing-masing.

D. citri dapat dikendalikan secara efektif dengan metode penyaputan batang dengan insektisida sistemik berbahan aktif imidakloprid atau pestisida sistemik lain yang efektivitasnya perlu diuji sebelumnya. Penyaputan batang dapat diulang setiap 2 – 4 minggu. Selain itu juga dapat dilakukan dengan penyiraman larutan insektisida berbahan aktif tiametoksam 5 gram/liter dengan dosis 0,5 liter per pohon (umur 4 tahun) diaplikasikan di bawah tajuk tanaman, atau penyemprotan dengan insektisida pada saat tanaman sedang berpupus atau bertunas. Insektisida lain yang dapat digunakan diantaranya seperti pada Tabel 1. Berbeda dengan cara penyemprotan, metode penyaputan batang tidak akan membunuh musuh alami D. citri sebagai vektor penyakit CVPD.

Tahapan pelaksanaan penyaputan batang adalah sebagai berikut: (1) bagian batang di atas bidang penempelan hingga di bawah cabang utama dibersihkan dari kotoran yang menempel dengan kain dan tidak perlu dikerok, (2) pada bagian batang tersebut disaput dengan kuas yang sebelumnya dicelupkan dalam insektisida murni (tidak dilarutkan) dengan tinggi saputan selebar diameter batangnya (Gambar 3). Penyaputan batang bisa juga dilakukan dengan menggunakan alat/mesin khusus penyaput batang seperti pada Gambar 4. Untuk lingkar batang 18 – 20 cm dosis yang digunakan 10 – 15 ml, (3) tanaman kemudian disiram agar insektisida sistemik yang disaputkan segera terdistribusikan ke seluruh bagian tajuk tanaman. Jenis insektisida yang digunakan, waktu dan frekuensi aplikasinya disajikan pada Tabel 1, Tabel 2 dan Tabel 3.

[cml_media_alt id='333']Pengendalian Penyakit CVPD[/cml_media_alt][cml_media_alt id='332']Waktu Pengendalian CVPD[/cml_media_alt][cml_media_alt id='331']Waktu Pengendalian CVPD Jeruk di atas 3 tahun[/cml_media_alt]

Keterangan : x: disesuaikan berdasarkan hasil monitoring; (x): dilakukan jika penyemprotan dinilai sudah tidak efektif karena luas kanopi semakin besar.

Hasil penelitian menunjukkan ada beberapa agensia hayati yang mampu mengendalikan secara efektif vektor penyakit CVPD di lapang diantaranya adalah parasit nimfa, ektoparasit Tamarixia radiata dan endoparasit Diaphorencyrtus aligarhensis dengan tingkat parasitisme di lapang berturut-turut 90% dan 60-80% pada musim kemarau. Predator Curinus coeruleus memangsa telur dan nimfa sedangkan Syrphidae biasanya memangsa telur D. citri.

Entomopatogen Hirsutella sp. Dapat menginfeksi vektor CVPD dewasa di lapang hingga mencapai 60% pada musim penghujan (Gambar 7). Dalam skala percobaan, jamur Metarrhizium anisopliae (Methch.) terbukti efektif mengendalikan serangga penular CVPD.

Related Post

Tinggalkan Balasan