Pengendalian Penyakit CVPD di Kabupaten Sambas-Kalimantan Barat

Kabupaten Sambas di Kalimantan Barat merupakan salah satu sentra utama jeruk di Indonesia. Dengan luas tanam sekitar 12.000 ha,  Sambas mampu memproduksi jeruk Siam Pontianak sekitar 120.000 ton per tahun.  Kini pertanaman jeruk di Kabupaten Sambas terinfeksi penyakit CVPD dengan luas serangan hampir 30 %.  Berbagai upaya  telah dilakukan oleh pemerintah daerah setempat guna menanggulangi penyakit berbahaya yang bisa mematikan perekonomian sekitar 20% penduduk kabupeten Sambas ini;  tetapi belum memberikan hasil yang memuaskan karena dilakukan secara parsial.

Badan Litbang Pertanian melalui  BPTP Kalbar dan Balitjestro telah mengadakan pengkajian efektivitas dan peningkatan adopsi teknologi anjuran  penerapan PTKJS dalam mengendalikan penyakit CVPD di satu desa, yaitu desa Tebas Sungai di kecamatan Tebas, kabupaten Sambas, Kalimantan barat.  Di desa ini ada sekitar 18 kelompok tani (Citrus grower groups) yang mengelola sekitar 80 ha kebun jeruk.  Kegiatan pengkajian difokuskan pada satu kelompok tani  terdiri dari 25 petani jeruk dan mempunyai total areal sekitar 8,4 ha.

Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat yang sering disebut PTKJS  (Integrated Management for Citrus Health Orchard) terdiri 5 komponen teknologi yang harus diterapka secara utuh dan serentak, yaitu (1). Penggunaan bibit jeruk bebas penyakit (free of viruses), (2). pengendalian vector CVPD,  (3). Eradikasi tanaman sakit CVPD, (4). Pemeliharaan tanaman secara optimal,  dan (5). Penguatan kelembagaan kelompok tani dalam menerapkan PTKJS.  Startegi pengendalian CVPD seperti disajikan pada Tabel 1.  Demo plot penerapan PTKJS secara utuh diterapkan di salah satu kebun jeruk dalam satu kelompok tani terpilih dalam koordinasi langsung BPTP Kalbar dan Balitjestro.  Pendampingan teknologi yang dilakukan BPTP kalbar dan Balitjestro adalah demo plot sebagai contoh penerapan teknologi anjuran pengendalian CVPD,  nara sumber SL-PHT dan kegiatan pertemuan lain, dan dalam implementasinya bekerja sama dengan instansi terkait seperti Dinas Pertanian dan Badan Pelaksana Penyuluhan setempat, PPL, Mantri Tani dan POPT.  Strategi pengendalian CVPD dilakukan seperti pada Gambar 1.

Hasil identifikasi luas serangan dan tingkat serangan dilakukan di kebun untuk demplot,  5 kebun petani dalam satu kelompok tani dengan , dan 5 kebun masing-masing satu kebun di  5 kelompok tani yang berbeda tetapi dalam satu Gabungan Kelompok Tani jeruk di desa Tebas Sungai.  Kegiatan selanjutnya adalah eradikasi tanaman sakit CVPD, penanaman kembali dengan bibit sehat, dan pengendalian vector CVPD.

[cml_media_alt id='874']Strategi Pengendalian  Penyakit CVPD di Kabupaten Sambas-Kalbar[/cml_media_alt]

Masing-masing lokasi yang digunakan dalam pengkajian ini dipotret kondisi luas dan tingkat serangan CVPD nya.  Eradikasi dilakukan pada tanaman yang mempunyai tingkat serangan paling tidak 60%,  sedangkan pohon dengan tingkat serangan dibawah 60% disarankan untuk dipangkas;  dan jika selanjutnya tunas baru yang tumbuh tetap menimbulkan gejala masih adanya serangan CVPD maka tanaman harus segera dieradikasi.   Tanaman yang sudah dibongkar kemudian ditanami kembali menggunakan bibit jeruk sehat berlabel bebas penyakit.   Pengendalian vector dilakukan dengan cara bark painting menggunakan insektisida sistemik berbahan aktif imidaklprit dilakukan dua kali setiap 5 minggu dan 2 kali menggunakan insektisida kontak berbahan aktif dimethoat.  Gambar 2 menggambarkan tingkat luas dan tingkat serangan CVPD di Demoplot;  sedangkan Gambar selanjutnya penurunan jumlah telur, nympa dan imagoD.citri setelah diberi perlakuan pengendalian vector CVPD.

[cml_media_alt id='875']gambar: apsnet.org[/cml_media_alt]
Gejala Daun terserang CVPD / Huanglongbing. Gambar: apsnet.org
Sosialisasai tentang penyakit CVPD dan bahayanya jika tidak ditanggulangi segera dapat meningkatkan kesadaran (awareness) dan pemahaman petani untuk bersama sama melakukan pengendalian penyakit CVPD yang bias menghancurkan agribisnis jeruk di kabupaten Sambas.  Sekolah lapang-SLPHT dan penyuluhan dapatg meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petani bagaimana cara mengendalikan penyakit CVPD yang efektif.  Petani mampu membongkat sendiri tanaman jeruknya yang terinfeksi penyakit CVPD, tetapi mengharapkan pemerintah untuk menggantinya dengan bibit secara gratis. Pengendalian vector CVPD menggunakan insektisida sitemik secara bark painting dan penyemprotan dengan insektisida kontak masing-masing dua kali pada saat tanaman mulai bertunas terbukti efektik menekan perkembangan vector CVPD hingga 98,3%.  Replikasi penerapan teknologi anjuran bisa dilakukan pemda setempat dalam skala yang lebih luas di kabupaten Sambas-Kalbar.Gambar2. Tingkat serangan penyakit CVPD di demo plot sebelum penerapan teknologi anjuran

 [cml_media_alt id='873']Pengendalian CVPD di Sambas_01[/cml_media_alt]

 

Oleh: Arry Supriyanto
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Related Post

Tinggalkan Balasan