Pengendalian Penyakit Busuk Buah (Gleosporium sp.) Pada Tanaman Apel di Kota Batu

Balitjestro terus lakukan pendampingan dan pengawalan teknologi budidaya tanaman apel, jeruk, dan stroberi, di Kota Batu. Hal ini merujuk pada Perjanjian kerjasama antara Dinas Pertanian Kota Batu dengan Balitjestro MOU Nomor: B-400.1/HM.210/H.3.4/02/2019. Salah satu yang dilakukan adalah pendampingan dan pengawalan untuk memecahkan permasalahan penyakit busuk buah pada apel di Kota Batu.

Pada tanggal 17 Januari 2020, Balitjestro mendapatkan laporan mengenai outbreak penyakit busuk buah apel dari Dinas Pertanian Kota Batu dan Asosiasi Petani Apel di Kota Batu. Penyakit busuk buah menjadi permasalahan penting pada budidaya tanaman apel saat ini di Kota Batu. Kurang lebih selama tiga tahun petani apel gagal panen karena penyakit busuk buah. Penyakit busuk buah bukan merupakan penyakit yang baru dialami oleh petani apel di Kota Batu, telah dilaporkan oleh Balitjestro pada tahun 2014 penyakit ini menjadi permasalahan utama budidaya apel di Kota Batu.

Untuk menindaklanjuti laporan dari asosiasi petani apel, Balitjestro bersama dengan Dinas Pertanian Kota Batu dan dibantu oleh petani apel melakukan survey penyakit busuk buah di Bulukerto, Sumbergondo, dan Tulungrejo.

Hasil Survei Lapangan

Intensitas penyakit busuk buah di kebun A mencapai 80%, kondisi ini diperparah dengan membiarkan gulma tumbuh dan buah terinfeksi di kebun tanpa adanya sanitasi. Kondisi kebun yang rimbun mengakibatkan cahaya matahari sulit masuk ke dalam kebun.  Kondisi tersebut membuat kelembapan di lingkungan kebun tinggi dan berdampak pada keberhasilan perkecambahan spora. Penanaman monokultur dengan satu varietas apel yang rentan membuat siklus dan persebaran spora patogen tidak mampu dikendalikan. Sumber makanan untuk patogen akan terus tersedia di kebun, patogen akan terus berkembang dan menjadi sumber inokulum tanaman atau kebun lain karena spora mampu tersebar oleh bantuan angin.

Gambar: Busuk apel yang di petani dikenal sebagai mata ayam di lahan petani apel Batu| Pic.Balitjestro@2020

Intensitas penyakit di lokasi kedua mencapai 90% kondisi ini diperparah dengan tidak adanya kegiatan sanitasi kebun. Kebun tidak ada perawatan dan gulma tidak dikendalikan populasinya. Buah dan daun yang bergejala dibiarkan begitu saja di kebun sehingga mampu menjadi sumber inokulum. Gulma yang menutupi tanah membuat kondisi lingkungan mikro menjadi lembap dan gulma mampu menyimpan air di permukaan daun. Kelembapan yang tinggi merupakan kondisi yang cocok untuk perkembangan penyakit terutama penyakit busuk buah. Perkecambahan spora dibantu oleh adanya air dan kelembapan yang tinggi. Kondisi lingkungan di kebun kedua merupakan kondisi yang optimal untuk perkembangan penyakit busuk buah.

Kebun ketiga memiliki intensitas penyakit yang rendah dengan rata-rata gejala bercak buah dan daun dengan diameter ≤ 0.5 cm dan menginfeksi apel dengan varietas manalagi. Rendahnya intensitas penyakit pada kebun ketiga dapat disebabkan karena perawatan kebun yang intensif dan pola tanam dengan varietas apel yang berbeda. Varietas manalagi merupakan varietas yang rentan terhadap penyakit busuk buah, sedangkan varietas anna dan rome beauty merupakan varietas yang toleran-tahan terhadap penyakit busuk buah. Penggunaan varietas yang tahan dan pengendalian gulma mampu menurunkan intensitas penyakit pada kebun ketiga. Varietas tahan mampu sebagai penghalang persebaran spora penyebab penyakit yang dalam distribusinya dibantu oleh angin dan percikan air hujan. Pengendalian gulma pada pertanaman apel juga mampu membuat kondisi kelembapan di kebun rendah dan tidak ada air yang tersimpan di permukaan daun gulma (gambar 4). Kelembapan rendah dan minimnya air di permukaan tanah membuat spora tidak optimal melakukan perkecambahan.

Identifikasi Penyakit Busuk Buah Apel

Identifikasi penyakit busuk buah apel dilakukan dengan mengambil sampel buah apel yang bergejala pada waktu survey di lapang. Gejala yang dipilih adalah gejala awal busuk buah, karena gejala yang telah parah akan memicu tumbuhnya patogen sekunder. Bagian buah yang bergejala ditumbuhkan dalam media PDA (Potato dextrose agar) dan Bacto Agar, dan diamati kemunculan organismenya. Pengamatan hari pertama pada PDA telah tumbuh.

Pengamatan mikroskopik dilakukan untuk mengidentifikasi morfologi organisme yang tumbuh dalam media. Pengamatan dilakukan dengan mengambil sedikit miselium dalam agar dan diberi pewarna lacto glyserol cotton blue. Miselium tersebut diamati dibawah mikroskop dan diidentifikasi secara morfologi. Terdapat konidiospora dari Gleosporium  sp pada miselium yang diamati.

Gambar. Hasil pengamatan mikroskopis | Pic.Balitjestro_2020

Gleosporium  sp. teridentifikasi sebagai penyebab penyakit busuk buah pada tanaman apel. Gejala penyakit ini diawali dengan adanya bercak tidak teratur, berwarna cokelat, permukaan daun bagian atas timbul titik hitam yang dimulai dari daun tua kemudian daun muda hingga seluruh bagian gugur. Perkembangan penyakit ini juga sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang terjadi 1 – 2 minggu setelah rompes, daun menjadi kering dan infeksi berkembang sampai pada ranting.

Patogen ini dapat berkembang  dengan baik pada suhu optimum 30 C. Persebaran spora Gleosorium  sp dapat dengan bantuan air hujan dan angin. Air dapat diserap oleh spora sehingga spora akan mudah untuh terpencar. Musim hujan merupakan saat kritis serangan patogen Gleosorium  sp karena saat musim hujan, tanaman membentuk tunas-tunas baru. Gleosorium  sp dapat menginfeksi langsung tanpa melalui luka pada daun-daun muda dan buah dan mampu menginfeksi melalui lentisel dengan masa inkubasi 1 minggu.

Faktor lingkungan mempengaruhi perkembangan penyakit busuk buah apel, dilaporkan oleh Buyung Al-Fanshuri bahwa suhu minimum dan kelembapan mempunyai korelasi lebih tinggi terhadap penurunan produksi apel di Kota Batu. Faktor tersebut mempengaruhi dinamika populasi OPT pada tanaman apel. Semakin tinggi suhu minimum dan kelembapan maka produksi apel semakin menurun hal tersebut mempengaruhi perkecambahan Gleosporium  sp yang akan optimal saat kelembapan tinggi. (Anang Triwiratno/Balitjestro)

Agenda
No event found!