Pengendalian Huanglongbing (HLB) dengan Teknologi Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS)

[cml_media_alt id='1297']Benih Jeruk Sehat Bebas Penyakit - PTKJS[/cml_media_alt]

Indonesia memiliki banyak varietas jeruk lokal yang populer secara nasional, diantaranya Keprok Batu 55, Manis Pacitan dan Pamelo Nambangan dari Jawa Timur; Keprok Tejakula dari Bali, Keprok Garut dari Jawa Barat, Keprok SoE dari NTT, Keprok Sipirok dari Sumatera Utara, Siam Pontianak dari Kalimantan Barat, Keprok Sioumpu dari Sulawesi Tenggara, dan lainnya.

Pada tahun 80-an sebagian besar sentra-sentra produksi di atas hampir punah terserang penyakit CVPD (“Citrus Vein Phloem Degeneration”) yang sekarang dikenal dengan penyakit Huanglongbing (HLB).

Berbagai upaya telah dilakukan guna menanggulangi penyakit Huanglongbing ini, seperti program rehabilitasi jeruk yang menitik-beratkan pada eradikasi tanaman sakit, pengendalian dengan infusan Oxytetrasiklin-HCl, dan pengendalian terpadu dengan melibatkan seluruh komponen pengendalian termasuk eradikasi, infusan dengan antibiotika. Program FAO yang dimulai tahun 1987 dilakukan untuk merehabilitasi jeruk di Indonesia dengen menghasilkan benih jeruk bebas penyakit.

Walaupun demikian upaya tersebut di atas belum memberikan hasil yang memuaskan, dengan penyebabnya diantaranya adalah komponen teknologi anjurannya tidak dilakukan secara utuh dan tidak semua petani di kawasan wilayah target pengembangan menerapkan teknologi anjuran secara serentak.

Permasalahan 

  • Produktivitas jeruk di Indonesia relatif rendah, yaitu berkisar 7-8 ton per hektar dibandingkan dengan potensinya ± 20 ton/ha, bahkan bisa mencapai ± 40 ton/ha di negara penghasil jeruk utamanya.
  • Sentra-sentra produksi jeruk di Indonesia hampir punah dan belum terbebas dari serangan penyakit Huanglongbing, sedangkan upaya rehabilitasi dan pengembangan yang telah dilaksanakan belum memberikan hasil yang memuaskan.
  • Pertanaman jeruk yang ada masih merupakan kantong-kantong produksi yang sempit dan terpencar serta belum membentuk hamparan usaha berskala ekonomis sehingga penerapan teknologi anjuran menjadi lebih sulit.
  • Petani dan petugas belum sepenuhnya memahami tentang penyakit Huanglongbing dan cara pengendaliannya.  Selain itu, pembinaan yang dilakukan selama ini belum diorientasikan ke hamparan usaha tetapi masih berbasis petani sebagai individu rumah tangga.

Penyakit  Huanglongbing,  Vektor  Dan  Musuh  Alami

Penyakit CVPD (“Citrus Vein Phloem Degeneration”) atau sering disebut ‘greening’ kini namanya secara internasional telah dibakukan menjadi Huanglongbing (HLB) atau kira-kira berarti penyakit yang menyebabkan daun berwarna kuning. Penyakit ini disebabkan oleh suatu bakteri perusak jaringan phloem yang tidak dapat dikulturkan disebut Liberibacter asiaticus.

Penyakit Huanglongbing ditularkan oleh kutu loncat Diaphorina citri Kuw. dan benih yang telah terinfeksi penyakit ini. Tipe hubungan patogen huanglongbing di dalam tubuh vektornya bersifat persisten, sirkulatif dan non propagatif, artinya jika vektor Huanglongbing telah mengandung patogen L. asiaticus, maka jika kondisinya ideal selama hidupnya akan bersifat viruliferous, tetapi tidak diturunkan kepada anaknya.  Serangga penular ini menyerang kuncup daun dan tunas-tunas muda, dan mengakibatkan tunas menjadi keriting dan pertumbuhannya terhambat.

Pada tingkat serangan lebih lanjut, bagian tunas yang terserang secara bertahap menjadi kering dan kemudian mati. Serangga penular Huanglongbing ini menjadi lebih aktif pada suhu tinggi (dataran rendah) dibanding pada suhu rendah (dataran tinggi).  Tanaman inang kutu loncat ini adalah kemuning (Muraya peniculata) dan dari famili Rutaceae.

Kutu loncat ini juga menghasilkan sekresi berwarna putih berbentuk spiral, diletakkan di atas permukaan daun atau pucuk tunas. Diaphorina citri mempunyai 3 stadia hidup, yaitu telur, nimfa dan dewasa.  Siklus hidupnya berlangsung selama 16-18 hari pada suhu panas atau ± 45 hari pada suhu dingin.  Serangga penular ini mampu bertelur sebanyak 500-800 butir selama masa hidupnya yang biasanya diletakkan secara tunggal atau kelompok pada kuncup dan tunas-tunas muda sehingga pola pertunasan merupakan faktor penting dalam perkembangbiakannya.

Di lapang, populasi vektor penyakit Huanglongbing ini, dikendalikan oleh dua parasit nimfa yaitu Tamarixia radiata dan Diaphorencyrtus aligarhensis dengan tingkat parasitisme berturut-turut 90% dan 60-80%. Beberapa predator seperti Curinus coeruleus, Coccinella repanda, Syrpidae dan Chrysophydae juga mampu mengendalikan populasi hama ini.

Entomopatogen yang diketahui dapat menginfeksi kutu ini adalah Metharizium sp. dan Hirsutella sp. hingga mencapai 30%.  Aplikasi entomopatogen dapat dilakukan pada musim hujan sesuai siklus hidup jamur.

Berdasarkan pemahaman yang lebih komprehensif dan pengalaman sebelumnya, maka disusun langkah-langkah pengendalian Huanglongbing yang dikenal dengan Teknologi Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS) yang menuntut kedisiplinan petani dalam menerapkannya secara utuh dan serentak.

PTKJS terdiri dari lima komponen teknologi, yaitu:

  1. Menggunakan benih jeruk sehat berlabel biru yang bebas Huanglongbing dan penyakit virus lainnya.
  2. Mengendalikan serangan penular/ kutu loncat/ vektor Huanglongbing.
  3. Mengeradikasi tanaman jeruk yang terserang penyakit Huanglongbing.
  4. Memelihara tanaman jeruk di kebun secara optimal
  5. Diterapkan di seluruh kawasan agribisnis jeruk melalui Kelompok Taninya sebagai unit terkecil pembinaan

Pengendalian  Serangga  Penular  Huanglongbing

Kutu loncat jeruk (Diaphorina citri) di target wilayah pengembangan yang sangat dipengaruhi kondisi lingkungan setempat perlu dipahami berdasarkan monitoring.

[cml_media_alt id='1295']Parasitoid Diaphorina Citri Huang Lung Bin[/cml_media_alt]

Monitoring dapat dilakukan dengan menggunakan perangkap kuning (‘Yellow trap’) yang dipasang setinggi kanopi tanaman. Pengendalian serangga penular Huanglongbing akan efektif jika dilakukan secara serentak oleh setiap anggota Kelompok Tani Jeruk (KTJ). Artinya setiap KTJ bertanggung jawab terhadap sistem pengendalian serangga Diaphorina citri di wilayah masing-masing.

Diaphorina citri dapat dikendalikan secara efektif dengan metode penyaputan batang dengan insektisida berbahan aktif imidakloprid atau pestisida sistemik lain yang efektivitasnya perlu diuji sebelumnya.

Penyaputan batang dapat diulang setiap 2-4 minggu.  Selain itu juga dapat dilakukan penyemprotan dengan insektisida berbahan aktif Dimethoate 2 cc/l pada saat tanaman sedang bertunas.

Insektisida berbahan aktif Endosulfan 0.05% ampuh untuk mengendalikan telur Diaphorina sehingga efektif diterapkan pada awal pertunasan. Dengan metode penyaputan batang, musuh alami Diaphorina diharapkan tidak mati.  Tahapan pelaksanaan penyaputan batang: (1) bagian batang di atas bidang penempelan hingga di bawah cabang utama dibersihkan dari kotoran yang menempel, (2) disaput dengan kuas yang sebelumnya dicelupkan dalam insektisida murni (tidak dilarutkan) dengan tinggi saputan selebar diameter batangnya.

Penyaputan batang bisa juga dilakukan dengan menggunakan alat/mesin khusus penyaput batang.  Untuk lingkar batang 18-20 cm dosis yang digunakan 10-15 ml, (3) tanaman kemudian disiram.  Waktu dan frekuensi aplikasi disajikan pada Tabel 1 dan Tabel 2.

[cml_media_alt id='1296']Monitoring Diaphorina citri - Huang Lung Bin[/cml_media_alt]Sanitasi  Kebun

Sanitasi kebun diartikan sebagai upaya membuang bagian tanaman atau pohon yang terserang Huanglongbing agar kebun jeruk petani tetap dalam kondisi bebas dari sumber inokulum Huanglongbing.

Gejala awal serangan penyakit Huanglongbing dapat dikenali dengan adanya ‘blotching/ motling,’ yaitu warna kuning pada daun yang tidak dibatasi oleh tulang daun dan biasanya tidak simetris seperti yang ditunjukkan oleh daun yang mengalami defisiensi unsur. Warna kuning tersebut tembus ke bagian belakang daun sehingga untuk mengamati daun yang terserang Huanglongbing, permukaan bagian daun harus bersih dari serangan hama penyakit.  Pada gejala selanjutnya dapat mengakibatkan pertumbuhan daun terhambat yang ditunjukkan oleh daun mengecil, relatif kaku, runcing dan menghadap ke atas. Pola pertunasan pohon terinfeksi Huanglongbing biasanya cenderung lebih sering.

Penyebaran patogen Huanglongbing dalam jaringan phloem daun relatif lambat dibandingkan dengan yang diakibatkan serangan virus lainnya sehingga sering terjadi serangan pada satu ranting yang menimbulkan gejala sektoral.  Buah dari pohon yang terserang Huanglongbing, jika dibelah dari ujung atas ke bawah nampak bagian buah yang tidak simetris (“lop-sided”) dan bijinya abortus, tidak bernas dan salah satu ujungnya berwarna coklat.

Pengendalian ranting terinfeksi Huanglongbing (sektoral) dapat dilakukan dengan memangkas sampai dua periode pupus sebelumnya.  Pohon jeruk yang telah terinfeksi huanglongbing  secara merata harus dibongkar sampai ke seluruh bagian akar tanaman.  Tunas-tunas yang tumbuh dari bekas pangkasan dapat sebagai sumber inokulasi penyakit Huanglongbing.

Agar pengendalian penyakit Huanglongbing dapat dilakukan secara efektif, maka setiap anggota Kelompok Tani Jeruk (KTJ) harus melakukan sanitasi kebun masing-masing. Setiap KTJ bertanggung-jawab terhadap sanitasi kebun di wilayah milik anggotanya.

Pemeliharaan  Tanaman

Pemeliharaan tanaman dalam kebun secara optimal yang meliputi pemupukan, penyiraman, pemangkasan bentuk dan pemeliharaan, penjarangan buah dan pengendalian hama penyakit lainnya dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Teknologi pemeliharaan kebun jeruk, dapat berbeda berdasarkan varietas dan agroklimatnya sehingga bersifat sangat spesifik lokasi.

Jika ada satu atau beberapa tanaman yang terinfeksi penyakit Huanglongbing dalam kebun yang dipelihara optimal, gejalanya akan mudah dikenali sehingga tindakan sanitasi kebun dapat menjadi lebih mudah dilakukan. Pemeliharaan kebun yang optimal dapat mempermudah pelaksanaan sanitasi kebun.

Teknologi memajukan saat pembungaan dan mempertahankan tanaman berbuah sepanjang tahun melalui perlakuan pemupukan, irigasi dan hormonal telah memberikan keuntungan bagi sebagian petani yang menerapkannya.  Di sisi lain, teknologi tersebut dapat mengakibatkan terjadinya pertunasan sepanjang tahun yang perlu diantisipasi sebelumnya, kaitannya dengan kehadiran serangga penular Huanglongbing dan pengendaliannya pada periode pupus di luar musim tersebut.

Koordinasi  Penerapan  Teknologi

Pengendalian penyakit Huanglongbing dengan PTKJS yang meliputi penggunaan benih jeruk berlabel/bersertifikasi bebas penyakit, pengendalian serangga penular Huanglongbing dan sanitasi kebun serta pemeliharaan yang optimal akan berhasil jika dan hanya jika diterapkan secara utuh dan terkoordinasi baik antar petani, antar KTJ maupun antar agregat KTJ yang membentuk wilayah target pengembangan.

Pemeliharaan tanaman terutama dalam pemupukan dan pengairan untuk mengatur pembungaan, jika tidak dikoordinasikan dengan baik dapat menimbulkan pola pertunasan di kawasan pengembangan menjadi tidak bersamaan dan bahkan akan berlangsung sepanjang tahun, sehingga dapat mempersulit pelaksanaan pengendalian vektor Huanglongbing yang menyukai pupus muda ini.  Oleh karena itu penerapan PTKJS akan menjadi lebih efektif jika dilakukan pada unit terkecil pengembangan yaitu KTJ dengan melakukan koordinasi antar anggotanya.

Koordinasi penerapan teknologi PTKJS dapat dilaksanakan secara optimal dengan menjadikan KTJ sebagai unit terkecil pembinaan.  Setiap KTJ sebaiknya beranggotakan 20-25 petani.  Penyuluhan dan pembinaan yang dilakukan harus berbasis hamparan usaha milik KTJ bukan berorientasi petani sebagai individu keluarga.  Pada tahapan selanjutnya, jika setiap KTJ penyusun wilayah pengembangan menerapkan PTKJS secara utuh, maka diharapkan akan terbebas dari penyakit Huanglongbing.

 

Oleh: Harwanto
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Tinggalkan Balasan