Pengenalan dan Pengendalian Hama Kutu Loncat Jeruk (CVPD)

[cml_media_alt id='1370']Kutu loncat CVPD Jeruk (1)[/cml_media_alt]Gejala

Kutu loncat jeruk ini menyerang kuncup, tunas, daun-daun muda dan tangkai daun. Serangannya mengakibatkan tunas-tunas muda keriting dan pertumbuhannya terhambat. Apabila serangan parah, bagian tanaman terserang biasanya kering secara perlahan kemudian mati. Kutu juga menghasilkan sekresi berwarna putih transparan berbentuk spiral, diletakkan berserak di atas permukaan daun atau tunas. Serangga ini selain sebagai hama juga sebagai vektor penyakit CVPD.

Stadium hidup D. citrI, nimfa dan dewasa D. citri yang menyerang tunas tanaman

Bioekologi

Kutu loncat jeruk selama perkembangannya mempunyai tiga stadia hidup yaitu telur, nimfa dan dewasa. Siklus hidupnya mulai dari telur sampai dewasa antara 16-18 hari pada kondisi panas, sedang pada kondisi dingin kutu ini mampu bertahan hidup sampai 45 hari. Seekor dewasa betina mampu meletakkan telur sebanyak 500-800 butir selama masa hidupnya. Telur biasanya diletakkan secara tunggal atau berkelompok pada kuncup dan tunas-tunas muda. Serangga ini tidak mengalami diapause, sehingga dalam satu tahun mampu menghasilkan 9-10 generasi.

Kutu loncat jeruk tertarik pada tunas-tunas muda sebagai tempat peletakan telur, sehingga pertunasan tanaman merupakan faktor penting dalam perkembangbiakannya. Pola pertunasan pada masing-masing daerah berbeda tergantung dari jumlah curah hujan dan pengairan. Periode pertunasan di Indonesia antara 2-5 kali dalam setahun. Penyebaran D. citri di Indonesia terdapat di Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi dan Kalimantan. Peran kutu sebagai vektor penyakit CVPD amat penting melebihi perannya sebaga hama. Kutu dewasa muda yang hidup pada awal periode pertunasan sangat infektif dalam menularkan bakteri penyebab CVPD pada tunas-tunas baru.

Pengendalian

Monitoring atau pengamatan diutamakan pada tunas-tunas muda. Bila terdapat populasi hama ini segera dikendalikan. Pengendalian sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Ambang kendali D. citri yang mengandung L. asiaticus  1 ekor.  Berarti di daerah endemis CVPD, meskipun hanya ada 1 ekor D. citri harus sudah dikendalikan.  Pengendalian secara kimiawi yang cukup efektif untuk mengendalikan hama ini antara lain insektisida dengan bahan aktif Dimethoate, Alfametrin, Profenofos, Sipermetrin dan sebagainya yang diaplikasikan melalui penyemprotan daun, Tiametoksam dan Imidakloprid.

Tiametoksam yang diaplikasikan dengan disiramkan melalui tanah dalam bentuk insektisida murni tanpa pengenceran dan Imidakloprid yang diaplikasikan melalui saputan batang. Saputan batang diaplikasikan pada ketinggian 10-20 cm di atas bidang sambungan/okulasi dengan lebar saputan kurang lebih sama dengan diameter batang.  Aplikasi penyaputan batang harus diikuti dengan penyiraman dengan air untuk mempercepat distribusi insektisida ke seluruh jaringan tanaman

Secara alami populasi kutu loncat jeruk di lapang dikendalikan oleh dua parasit nimfa yaitu: Tamarixia radiata dan Diaphorencyrtus aligarhensis dengan tingkat parasitisme berturut-turut 61,62-69,84% dan 7,14-66,84%. Beberapa predator seperti Curinus coeruleus, Coccinella repanda, Syrpidae, Chrysophydae, Lycosidae juga mampu mengendalikan populasi hama ini.  Sedangkan entomopatogen yang diketahui dapat menginfeksi kutu ini adalah Metarhizium sp., Hirsutella sp., dan Beauvaria bassiana (Bab V).

Agar pengendalian vektor CVPD lebih tepat sasaran dan hemat insektisida, dinamika populasi serangga Diaphorina citri di wilayah pengembangan yang biasanya mengikuti pola pertunasan harus dipahami dengan benar.  Strategi pengendalian sangat dipengaruhi oleh lingkungan setempat dan perlu lebih dipahami berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan.  Selain secara visual teknik monitoring yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan alat perangkap kuning (yellow trapp) yang dipasang di areal pertanaman jeruk.  Untuk 1 ha areal dipasang 10-14 buah perangkap dengan ketinggian ± ½ tajuk tanaman.  Pengendalian vektor CVPD di suatu wilayah pengembangan akan efektif bila dilakukan secara serentak oleh kelompok tani dan menuntut kedisiplinan dari anggota kelompoknya.

 

Oleh: Otto Endarto, Susi Wuryantini dan Yunimar
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Tinggalkan Balasan