Pengembangan Wisata Petik Stroberi di Kota Wisata Batu

Stroberi (1)

Luas areal stroberi di Desa Pandanrejo, Bumiaji mencapai 7-8 hektar. Masyarakat menanam stoberi tersebut di lapang dengan sistem polybag. Varietas stroberi yang ditanam adalah Sweetcharlie, Rosa Linda dan baru-baru ini mendatangkan Festival dan Santung dari Ciwidey Bandung.

Pengembangan stroberi di Pandanrejo Batu ini telah menarik banyak wisatawan untuk melakukan wisata petik stroberi. Dengan harga Rp 40.000,- per kg, kita bisa memetik dan memilih buah stroberi sepuasnya. Stroberi mulai diperkenalkan sebagai ikon Kota Wisata Batu. Bangunan Pusat Informasi Wisata Kota Batu di Alun-alun Batu yang berbentuk stroberi menjadi daya tarik tersendiri.

Kendala yang muncul dalam pengembangan wisata petik ini adalah sarana prasarana yang tidak memadai. Jauhnya tempat petik dari jalan utama dan sempitnya jalan masuk ke lokasi membuat area wisata petik tidak bisa diakses dengan leluasa. Bus besar tidak bisa masuk dan mobil pribadi pun perlu berhati-hati melwati jalan yang masih bergelombang belum diaspal. Pernah ada rombongan bus tidak jadi petik karena jauhnya lokasi yang harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Pengamatan tim plasmanutfah, banyak petani yang berganti-ganti komoditas tanam. Pada tahun 2010-2012 hamparan stroberi masih ada di kebun tersebut. Namun sekarang ini sudah berubah dengan tanaman jagung. Tampaknya petani tidak mendapat keuntungan yang memadai. Banyak kendala yang menghadang untuk pengembangan wisata petik stroberi ini. Beberapa kendalanya adalah benih yang berkualitas, jaringan pasar, dan tidak adanya paguyuban yang kuat.

Benih steoberi selama ini berasal dari stolon dan anakan. Semakin lama petani merasakan ada penurunan produktivitas. Di sisi lain ada indikasi kuat terjadinya penyakit yang turun-temurun dari indukan ke anakan dan stolonnya. Oleh karena itu kultur jaringan menjadi solusinya. Balitjestro telah memproduksi benih kultur jaringan tersebut dan terus mengevaluasi hasilnya. Sampai saat ini belum diedarkan secara bebas. Persiapan pendaftaran stroberi harus dilakukan agar bisa diakses petani. Sampai saat ini belum ada stroberi yang terdaftar di Indonesia sehingga benih tidak bisa dilabel dan tidak bisa diperjualbelikan secara bebas.

Untuk jaringan pasar, beberapa petani sudah mempunyai jaringan yang bagus. Nursaid salah satu petani yang punya hamparan stroberi 600 m2 sebanyak 2 petak ditambah beberapa petak milik Ghazali dan saudara kandungnya mampu menarik wisatawan dari luar daerah (Surabaya, Sidoardjo, dll) untuk berlangganan petik stroberi di akhir pekan. Ia juga memiliki fasilitas untuk membuat minuman sari stroberi untuk stroberi grade C dan tidak layak jual. Nursaid pun juga memiliki usaha membuat selai stroberi yang dijual di tempat-tempat wisata terkenal di Kota Batu seperti BNS, Jatim Park 1 dan Jatim Park 2. Sehingga semua produk stroberi di kebunnya termanfaatkan dan tidak ada yang terbuang.

Jaringan konsumen dan kemampuan untuk mengolah semua grade kualitas stroberi ini membuat Nursaid mampu bertahan dan justru terus berkembang. Usaha dari Dinas Pariwisata dan pemerintah setempat untuk membuat dan memfasilitasi sebuah paguyuban telah dilakukan.  Namun belum mencapai titik temu. Masyarakat belum mempunyai satu kata sepakat mengenai bentuk, pengurus dan fungsi paguyuban tersebut.

Wisata petik stroberi menjadi daya tarik tersendiri dan peluang untuk Kota Wisata Batu semakin berkembang. Permasalahan yang ada satu per satu harus dicari solusinya. Penyuluh Desa Pandanrejo, Luluk Mamlukatin berharap agar ada kerjasama antara Pemkot Batu dan Balitjestro. Balitjestro siap berperan dalam penyediaan benih stroberi bebas penyakit yang saat ini masih terus dievaluasi keberhasilannya. Beberapa varietas layak untuk diuji coba dan dikembangkan dalam skala lebih luas lagi. [ZH/Balitjestro]

 

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event