Pengembangan Tanaman Jeruk Sistem Sorjan di Batola

[cml_media_alt id='2236']batola 3[/cml_media_alt]Dalam rangka melakukan kawalan teknologi jeruk, Kepala Balitjestro Dr.Ir Muchdar Soedarjo, MSc melakukan kunjungan lapang ke kawasan jeruk di Barito Kuala.  Barito Kuala (Batola) merupakan salah satu kabupaten di Kalimantan Selatan yang diwarnai oleh kebakaran gambut dan menyebabkan awan asap pada musim kemarau. Asap yang tebal ini dapat menyebabkan sesak saat bernafas dan mengurangi jarak pandang (jarak pandang 1-2 m saat asap tebal). Bahkan, asap hasil kebakaran gambut menyebabkan suhu udara (atmosfer) harian meningkat karena awan asap menahan panas dari bumi. Peningkatan suhu harian diasumsikan berpengaruh terhadap laju fotosintesis maupun terhadap perkembangan hama dan penyakit tertentu. Di Batola sendiri lahan yang banyak tersedia merupakan lahan gambut. Lahan gambut di Batola pada musim hujan pada umumnya ditanami padi. Namun Selain padi disana dikembangkan pula tanaman jeruk di lahan gambut dengan sistem sorjan.

Di beberapa kecamatan seperti di Mandastama, Belawang, Cerbon, Marabahan dan Rantao Badao, padi ditanam dalam sistem sorjan, dimana pada bagian bedengan ditanami jeruk atau tanaman lainnya. Dalam sistem sorjan, tanaman padi dapat ditanam 2 kali dalam 1 tahun. Selain padi terdapat pula pertanaman jeruk dengan sistem sorjan. Luas pertanaman jeruk dalam sistem sorjan di Batola sekitar 7000 ha. Jenis jeruk yang ditanam adalah Siam var Banjar, yang merupakan varietas jeruk unggulan di Banjarmasin. Jumlah bedengan jeruk dalam 1 ha berkisar 8-16 bedeng, dan jarak tanam jeruk dalam bedengan adalah 3-4 m. Sehingga, populasi tanaman jeruk per ha berkisar 250-350 tanaman.

Produktivitas jeruk siam Banjar bervariasi tergantung perawatan dan umur tanaman. Produktivitas tanaman jeruk siam yang berumur 15 tahun dan terawat dengan baik berkisar 150-200 kg/tanaman/tahun. Sehingga produktivitas tanaman jeruk adalah 45-60 t/ha dan nilai jual bila harga jeruk Rp 6000/kg adalah Rp 270 – 360 juta/ha. Salah satu petani di desa Karang Indah, kec. Mandastana juga mencoba menanam jeruk Trigas (asal Pontianak). Ternyata, jeruk var Trigas  dapat tumbuh dengan baik dan bahkan kualitasnya lebih baik daripada Siam Banjar, yaitu ukuran buah lebih besar, rasa lebih manis, aroma lebih kuat, kulit buah lebih tebal sehingga lebih tahan lama dalam pengiriman . Petani yang mencoba menanam jeruk var Trigas akan memperluas areal pertanaman jeruk var. Trigas. Sehingga, diperkirakan populasi jeruk var. Trigas akan melebihi luas pertanaman jeruk siam banjar pada suatu saat. Disisi lain pada umumnya petani tidak melakukan penjarangan buah jeruk, sehingga buah jeruk terlihat lebat sehingga buah berukuran relatif kecil. Namun demikian, petani tidak merasa rugi karena buah jeruk mulai dipanen saat belum masak fisiologis.

[cml_media_alt id='2235']batola 5[/cml_media_alt]Buah yang dipanen sebelum waktunya umumnya digunakan sebagai jerus ‘peras atau juice’ dan dijual dengan harga sekitar Rp 3000-4000/kg. Dengan cara budidaya tersebut, pemanenan jeruk dapat terjadi hampir sepanjang tahun, mulai bulan Maret sampai dengan November. Pada saat kunjungan lapang (pertengahan Oktober), buah jeruk yang tersisa sekitar 20-30% dan diperkirakan buah jeruk habis pada bulan November. Cara panen seperti ini juga dianggap sebagai proses pemangkasan bertahap. Buah jeruk yang dipanen pada bulan Juni-Agustus tergolong berukuran relatif lebih besar dan terjual dengan harga sekitar Rp 7000-8000/kg. Selain jeruk siam Banjar, petani juga mulai mencoba menanam jerut ‘purut’ dalam skala yang tidak terlalu luas untuk menghasilkan daun. Menurut petani bahwa pasar jeruk purut sangat baik dan sangat menguntungkan. Jeruk perut dipanen setiap saat dan dapat merupakan sumber ekonomi keluarga setiap saat serta dapat dipanen sepanjang tahun. Sampai saat ini belum ada kendala serangan hama/penyakit yang dilaporkan oleh petani. Jerut purut juga dapat tumbuh dengan baik di lahan rawa dan ditanam dalam sistem sorjan.

Selain kunjungan lapang, Ka. Balitjestro melakukan koordinasi dengan BPTP Kalimantan Selatan (Ka. BPTP, Ka. Jaslit dan beberapa peneliti) untuk mendiskusikan kegiatan bersama tentang dukungan kawasan jeruk di Kalimantan selatan. Dalam pertemuan tersebut Ka. Balitjestro mempresentasikan kesiapan teknologi, seperti ketersediaan varietas unggul, teknologi perbenihan, budidaya dan pengelolaan hama dan penyakit. Selain teknologi, Balitjestro juga menyediakan pelatihan untuk melatih petugas dan petani menjadi penangkar benih handal dan petani serta petugas handal dalam mengawal agribisnis jeruk. BPTP akan memerankan diri dalam pembinaan dan penguatan kelembagaan, mulai kelembagaan perbenihan dan kelembagaan kelompok tani dalam penyediaan sarana dan prasaran produksi serta penerapan teknologi budidaya sesuai anjuran dari Balitjestro. Pertemuan lanjutan akan diadakan untuk mebahas kegiatan yang harus dilakukan pada TA 2012 dan kegiatan yang akan dilakukan pada TA 2013.

 

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event