Pengembangan Agribisnis Jeruk Nusantara

Jeruk disukai semua umur, potensial menjadi agroeduwisata keluarga | Foto : Zainuri Hanif

Oleh: Zainuri Hanif
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika

Jeruk menjadi komoditas buah terpenting di dunia, dengan produksi pertahun lebih dari 120 juta ton. Varietas yang paling banyak di produksi adalah jenis jeruk manis (orange) 60%, diikuti oleh keprok (mandarin) sebanyak 20% dan sisanya adalah jenis siam (tangerine), lemon, purut, dan lainnya (Scordino & Sabatino, 2014). Di Indonesia sendiri, mayoritas jeruk adalah jeruk siam 70%, diikuti jeruk keprok 20% dan jeruk lainnya 10%.

Buah jeruk masih merupakan komoditas buah yang paling menguntungkan diusahakan oleh petani. Jeruk dapat ditanam mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi dan disukai semua umur, dari kalangan anak-anak sampai orang tua. Tanaman jeruk dapat mulai dipanen pada umur 3 tahun setelah tanam dengan B/C 1,46 – 2,74, dan IRR 39.4 – 55% (Supriyanto, 2008). Nilai keuntungan ini tentunya bervariasi sesuai dengan lokasi dan jenis jeruk yang diusahakan.

Saat ini total area jeruk di Indonesia lebih dari 57.000 hektar dengan produksi 2,5 juta ton. Nilai impornya pada 2019 yaitu 100 ribu ton (Badan Pusat Statistik, 2020) atau hanya 4% dari produksi nasional. Jika dikonversi ke luas lahan, nilai impor jeruk Indonesia setara dengan kebun jeruk 4000 hektar. Namun, dengan pembukaan lahan baru seluas itu apakah impor kemudian bisa distop? Jawabannya belum tentu, karena impor dilakukan di luar musim panen raya dimana buah jeruk nasional stoknya menipis, sedangkan di negara lain, khususnya di negara bumi belahan utara (China dan Pakistan) justru jeruk tersedia melimpah (Hanif & Zamzami, 2011). Pada 2019 kita sebenarnya telah melakukan ekspor jeruk, namun jumlahnya belum signifikan, yaitu hanya 1752 ton.

Impor jeruk Indonesia mengalami penurunan tonase sejak tahun 2012, meskipun pada 2019 mengalami lonjakan, terutama nilai impornya (Gambar 2). Artinya harga jeruk yang diimpor oleh Indonesia semakin mahal dari sebelumnya. Peningkatan ini dipicu oleh semakin meningkatnya konsumsi perkapita jeruk nasional. Tren konsumsi buah jeruk di Indonesia semakin meningkat, naik 6 kali lipat sejak 1995. Saat ini (2020), tingkat konsumsi jeruk nasional berada di angka 4 kg/perkapita. Tentunya ini seyogyanya harus dianggap sebagai peluang, karena pasar dalam negeri pun terbuka lebar.

Varietas Unggulan Baru Jeruk Indonesia | Foto: Aminuddin Fajar
Gambar. Perkembangan nilai jeruk impor Indonesia | sumber: BPS 2020

Permasalahan Utama

Beberapa permasalahan yang masih dialami dalam pengembangan jeruk nusantara yaitu (Poerwanto, 2004; Supriyanto et al., 2010):

  1. Rendahnya produktifitas dan mutu. Hal ini diakibatkan oleh: 1) Kesadaran petani dalam menggunakan benih jeruk bermutu (bersertifikat) masih rendah. 2) Kurangnya ketrampilan petani dan petugas lapang dalam budidaya jeruk sesuai teknologi anjuran. 3) Adanya permasalahan yang sampai saat ini belum bisa diselesaikan oleh petani seperti penanganan HLB, lalat buah, buah ngapas, dan buah burik. Dan 4) Pemahaman manajemen mutu kurang dikuasai
  2. Aspek kelembagaan. Kegiatan petani dalam usaha agribisnis masih berjalan tanpa koordinasi kelompok tani. Selama ini fokus petani masih berkutat pada produksi. Sisi kewirausahaan petani masih perlu ditingkatkan sehingga mampu mengambil keputusan yang menguntungkan.
  3. Aspek pemasaran. Sistem tebasan masih menjadi pilihan kebanyakan petani jeruk, dimana buah dipanen tanpa memisahkan ukuran dan mutunya. Permintaan dan preferensi konsumen di berbagai wilayah Indonesia belum terpetakan dengan baik sehingga petani tidak menguasai pasar dan tujuan distribusinya. Akibatnya barang menumpuk dan harga jatuh.
  4. Aspek pascapanen. Dukungan pengolahan pascapanen jeruk bagi petani masih minim. Sehingga ketika produksi melimpah, buah jeruk harganya jatuh. Untuk olahan, buah jeruk tidak memerlukan tampilan buah yang bagus.

Pengembangan Agribisnis Jeruk

Program pengembangan jeruk yang dilakukan 10 tahun terakhir mampu mempertahankan posisi Indonesia sebagai produsen jeruk dunia untuk jenis keprok dan siam. Namun Indonesia belum bisa bicara banyak untuk jenis jeruk lainnya, yaitu untuk jenis lemon dan nipis, jeruk besar (pamelo), jeruk manis (orange), dan jeruk lainnya. Posisi Indonesia semakin tertinggal karena fokus program selama ini adalah jeruk sebagai buah meja, jeruk lainnya kurang mendapat perhatian. Dalam tiga tahun ini saja, Indonesia mengimpor lemon sebesar 40 ribu ton.

Disisi lain, ternyata jeruk purut dan jeruk nipis Indonesia mulai dikenal di pasar internasional dengan sentra budidaya di Tulangagung dan Gresik, Jawa Timur. Pengembangan agribisnis jeruk ke depan perlu memperhatikan sentra jeruk yang sudah tumbuh dan berkembang di berbagai daerah. Sehingga daya saing jeruk Indonesia pada buah jeruk khas tropis mampu untuk ditingkatkan. Jeruk pamelo masih mempunyai peluang menjanjikan, apalagi saingan Indonesia tidak banyak. Negara lainnya lebih tertarik mengembangan grapefruit yang memang disukai oleh konsumen di negaranya.

Kecenderungan perdagangan dunia yang mengarah kepada perdagangan global, mempersyaratkan standar mutu buah yang tinggi, aman dikonsumsi, menghasilkan sistem usaha tani yang ramah lingkungan dan memperhatikan kesejahteraan tenaga kerja yang terlibat. Penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dengan melibatkan teknologi informasi akan menjamin keberlanjutan pelaksanaannya. Petani yang mendapatkan sertifikat kebun belum mendapatkan timbal balik yang sepadan, sehingga penerapan GAP perlu untuk mempertimbangkan hal tersebut. Upaya promosi dan pemahaman kepada konsumen dan pasar akan pentingnya GAP akan memberikan nilai tambah bagi petani yang menerapkannya.

Harga jatuh saat panen raya yang dikeluhkan petani jeruk selama ini belum mendapatkan solusi yang ampuh. Dan tentunya ini juga terjadi pada komoditas lainnya, terutama buah dan sayuran. Penerapan GAP akan mampu memonitor kualitas produk petani yang akan ditawarkan ke pasar sehingga kualitasnya tidak akan diragukan lagi. Penguasaan kondisi pasar melalui market intelligence menjadi penting agar produk berkualtias tersebut sampai kepada konsumen yang tepat. Namun, market intelligence membutuhkan peran institusi lainnya. Petani mempunyai kemampuan terbatas untuk melakukan hal tersebut. Disinilah pentingnya peran lembaga pendidikan (kampus), lembaga riset (litbang) dan pemberdayaan organisasi, seperti yang dulu pernah dirintis yaitu Masyarakat Jeruk Indonesia (MJI).

Asosiasi yang dipandang bagus untuk menjadi role model yaitu asosiasi sawit, dimana pengurus inti adalah dari pengusaha maupun pihak swasta yang bergerak di sawit. Hanya saja di jeruk, saat ini belum ada petani yang mempunyai lahan luas dan menjadi panutan bagi petani lainnya. Proporsi birokrat, peneliti dan akademisi di pemberdayaan organisasi tidak boleh dominan. Hal ini bisa dimulai dari gabungan kelompok tani maupun petani champion yang dibina oleh Dirjend Hortikultura untuk tampil dan mengkonsolidasikan diri.

Kehadiran Taman Sains Pertanian Jeruk (TSP Jeruk) dengan klaster pacapanen akan menjawab berbagai permasalahan pascapanen jeruk. Inkubasi bisnis yang menjadi salah satu kegiatan TSP Jeruk hendaknya difokuskan pada daerah sentra yang mengalami permasalahan pascapanen. Berbagai olahan jeruk menghasilkan produk utama dan produk sampingan. Beberapa produk sampingan diperoleh melalui pengolahan buah jeruk menjadi jus. Menurut beratnya, produk sampingan terpenting adalah bubur (pulp) dan kulitnya. Bergantung pada volume, pulp dan kulit jeruk dapat diproses lebih lanjut dan diubah menjadi produk turunan seperti sabun dan parfum. Di Eropa bahkan digunakan untuk pakan ternak karena kandungan seratnya yang tinggi (Spreen et al., 2020). Analisis produk sampingan jeruk terhambat oleh kurangnya penelitian lebih lanjut. Potensi berbagai varietas jeruk perlu terus digali agar petani mendapatkan manfaat lebih dari produksi buah jeruk yang sudah mereka tanam.

Kesimpulan

Permasalahan utama di Agribisnis jeruk perlu dituntaskan dengan membagi peran aktif dari unsur pemerintah pusat sampai daerah dan partisipasi publik. Agar Jeruk Indonesia mampu bersaing, petani perlu mendapatkan pendampingan dan dukungan, terutama di aspek pasar (market intelligence). Keterbatasan yang ada pada petani dapat dilengkapi oleh peran kampus, litbang dan pemberdayaan organisasi publik. Peran MJI perlu diaktifkan lagi untuk menggerakkan peran petani/swasta sehingga program pemerintah dapat selaras dengan petani dan stakeholder terkait.

Referensi

  • Badan Pusat Statistik. (2020). Ekspor dan Impor.   Retrieved from https://www.bps.go.id/exim/
  • Hanif, Z & Zamzami, L 2011, ‘Trend jeruk impor dan posisi indonesia sebagai produsen jeruk dunia’, Prosiding Workshop Rencana Aksi Rehabilitasi Agribisnis Jeruk Keprok SoE yang Berkelanjutan untuk Substitusi Impor di Nusa Tenggara Timur. Badan Litbang Pertanian. Dirjend Hortikultura dan ACIAR, Jakarta.
  • Poerwanto, R. (2004). Program Pengembangan Jeruk Siam Di Indonesia. Paper presented at the Proseding Seminar jeruk Siam Nasional. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura.
  • Scordino, M., & Sabatino, L. (2014). Chapter 9 – Characterization of Polyphenolic Profile of Citrus Fruit by HPLC/PDA/ESI/MS-MS. In R. R. Watson (Ed.), Polyphenols in Plants (pp. 187-199). San Diego: Academic Press.
  • Spreen, T. H., Gao, Z., Fernandes, W., & Zansler, M. L. (2020). Chapter 23 – Global economics and marketing of citrus products. In M. Talon, M. Caruso, & F. G. Gmitter (Eds.), The Genus Citrus (pp. 471-493): Woodhead Publishing.
  • Supriyanto, A. (2008). Model pengembangan agribisnis kebun jeruk rakyat. Paper presented at the Proceeding, Seminar Nasional Jeruk.
  • Supriyanto, A., Dwiastuti, M. E., Triwiratno, A., Endarto, O., & Suhariyono. (2010). Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat, Strategi Pengendalian Penyakit CVPD: Indonesian Ministry of Agriculture.

 

Download File PDF: Pengembangan Agribisnis Jeruk Nusantara
Cite: Hanif, Z. 2020. Pengembangan agribisnis jeruk nusantara. Iptek Hortikultura. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. Bogor. p.27-30

 

Agenda

no event